Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
TPS 3R Kesiman Kertalangu Dirundung Sampah Liar, Beban Petugas Nambah
Pihak tak bertanggung jawab membuang kantong plastik berisi sampah secara liar di TPS 3R Kesiman Kertalangu. (IDN Times/Yuko Utami)
  • Sejak 1 April 2026, TPA Suwung menolak sampah organik sehingga TPS 3R Kesiman Kertalangu harus mengelola sendiri meski masih terkendala kebiasaan warga memilah sampah.
  • Sampah liar dan jenis seperti styrofoam serta kardus telur ayam menambah beban petugas yang terpaksa memilah manual agar tidak menumpuk di TPS 3R.
  • Tim pengangkut bekerja hingga 18 jam per hari karena harus memilah dua kali akibat banyaknya sampah warga yang belum terpisah sesuai aturan TPA Suwung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Sejak 1 April 2026, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung tidak menerima sampah organik. Pengelolaan sampah organik harus berlangsung di masing-masing rumah tangga maupun TPS 3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) hingga Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Infrastruktur dan sistem pengelolaan sampah dari hulu ke hilir belum lengkap dan kebiasaan memilah sampah yang belum terbangun sepenuhnya, menimbulkan masalah baru, yaitu keberadaan sampah liar tidak terpilah. 

Petugas TPS 3R Kesiman Kertalangu di Kota Denpasar, Ni Wayan Sumarni, mengeluhkan keberadaan sampah liar tidak terpilah. Sambil menunjuk ke arah sampah liar, Sumarini mengaku tidak mengetahui pemilik sampah tersebut.

“Pembuangan sampah warga liar antara memilah dan tidak, yang di bawah itu (tunjuknya). Jadi kita yang memilah agar bisa masuk ke TPA,” ujar Sumarni kepada IDN Times Rabu (15/4/2026). Apa saja pesan petugas TPS 3R dan kendala yang dihadapi dalam mengelola sampah? Berikut cerita selengkapnya.

Petugas harus memilah sampah liar

Petugas TPS 3R Kesiman Kertalangu di Kota Denpasar, Ni Wayan Sumarni. (IDN Times/Yuko Utami)

Keberadaan sampah liar menambah beban kerja Sumarni dan petugas lainnya. Pemilahan sampah liar terpaksa dilakukan agar tidak menimbun sampah baru di TPS 3R. “Kita yang jadinya memilah, sebagian tim memilah satu atau dua orang memilah, sisanya tetap jalan pencacahannya,” tutur Sumarni. 

Selama empat tahun bekerja di TPS 3R Kesiman Kertalangu, Sumarni menjelaskan warga Kesiman Kertalangu telah teredukasi memilah sampah. Proses edukasi itu telah berlangsung cukup lama, sehingga Sumarni tidak merasakan keluhan terhadap sampah warga Kesiman Kertalangu. Masalah bagi Sumarni dan petugas lainnya adalah pelaku pembuangan sampah liar yang dibuang begitu saja di TPS 3R Kertalangu. Sumarni berpesan agar pelaku pembuangan sampah liar segera memilah sampah.

“Bagi yang buang sampah liar boleh buang ke TPS 3R, asal sampahnya dipilah biar tidak merepotkan tim kami,” ujarnya.

Styrofoam dan kardus telur ayam jadi masalah lainnya

Petugas TPS 3R Kesiman Kertalangu menggunakan mesin pencacah sampah organik. Volume sampah organik meningkat saat hari raya umat Hindu di Bali. (IDN Times/Yuko Utami)

Sambil mengajak IDN Times berkeliling TPS 3R Kesiman Kertalangu, Sumarni menunjukkan kendala lainnya yaitu sampah styrofoam dan kardus telur ayam. “Ini styrofoam, gabus, kardus telur ayam masalah, gak bisa masuk. Membakar juga gak bisa, masih dirembukkan sama atasan,” kata dia.

TPS 3R Kesiman Kertalangu melayani pengangkutan dan pengolahan sampah organik untuk 11 banjar (wilayah setingkat rukun tetangga di Bali). Jumlah tersebut cukup besar jika hanya mengandalkan satu mesin pencacah sampah organik. Sumarni menyampaikan akan ada wacana penambahan satu mesin pencacah lagi, tapi Ia belum tahu pasti kapan akan terealisasi. 

Selain sampah liar dan sampah tidak bisa masuk ke TPA Suwung, kondisi hari raya di Bali membuat volume sampah organik bertambah. Ini juga jadi beban kerja tambahan, meski Sumarni mengatakan bahwa pekerjaan itu bisa dicicilnya.

“Membludak sampahnya hari raya, mesti menumpuk, bisa saja kita kerjakan dengan proses pencacahan, mungkin masih lagi sedikit bisa dikerjakan besok,” imbuhnya.

Tim pengangkut sampah bekerja sekitar 18 jam sehari

Tim pengangkut sampah TPS 3R Kesiman Kertalangu harus memilah dua kali sebelum membawa sampah anorganik ke TPA Suwung. (IDN Times/Yuko Utami)

Tim Pengangkut Sampah TPS 3R Kesiman Kertalangu, Budi menjelaskan dirinya dan tim pengangkut harus bekerja sejak pukul 03.00 pagi hingga 21.00 WITA. Sebagai tim pengangkut sampah dari rumah ke rumah, Budi menemukan masalah lebih kompleks, yakni sampah yang belum terpilah sempurna. Sementara, TPA Suwung mengecek sampah sangat detail, tidak terpilah sempurna sampah tidak boleh dibawa.

“Kerja jam 3 pagi pulang jam 9 malam. Itu belum selesai sampah menumpuk karena kita harus memilah dua kali. Plastik disobek lagi gak boleh dibungkus,” ungkap Budi.

Budi mencontohkan sampah seperti ban, styrofoam atau gabus, triplek, dan sejenisnya tidak boleh masuk ke TPA Suwung. Sampah harus murni jenis plastik yang diperbolehkan masuk. Kondisi ini membuat Budi dan tim pengangkut memilah dua kali. Proses pemilahan untuk satu truk armada menghabiskan waktu hingga tiga jam. 

“Jadi keterlambatan kita pengangkut ini ya itu dah memilah lagi dua kali. Seharusnya kan masyarakat dia yang memilah, mau gak mau, bisa gak bisa,” ujar Budi pada Rabu (15/4/2026).

TPS 3R Kesiman Kertalangu memiliki 15 armada pengangkutan sampah yang dibagi ke setiap banjar di Desa Kesiman Kertalangu. Menurutnya, pemilahan sampah di masyarakat harus dibarengi dengan pemantauan atau pengawasan, sehingga hasil edukasi pilah sampah mampu berjalan maksimal.

Editorial Team