Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

The Meru Eco Tourism Soroti Kontribusi Pariwisata terhadap Alam di Bali

The Meru Eco Tourism Soroti Kontribusi Pariwisata terhadap Alam di Bali
The Meru Eco Tourism Week 4th Edition yang diselenggarakan akhir Mei 2026 di Sanur (IDN Times/Ayu Afria)
Intinya Sih

  • The Meru Eco Tourism Week 4th Edition di Sanur menyoroti tanggung jawab sektor pariwisata terhadap ekosistem Bali dengan mengusung konsep nature positive tourism yang berfokus pada regenerasi alam dan keberlanjutan.
  • Suzy Hutomo menekankan pentingnya pariwisata regeneratif yang tidak hanya mengambil manfaat dari alam dan budaya, tetapi juga aktif menjaga, memulihkan, serta memperkaya lingkungan dan komunitas lokal.
  • ACT! Project dan Eco Tourism Bali menjalin kerja sama strategis empat tahun untuk mempercepat transformasi pariwisata berkelanjutan melalui praktik sustainable sourcing di sektor hospitality di Bali dan Yogyakarta.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Denpasar, IDN Times - The Meru Eco Tourism Week 4th Edition menyoroti persoalan tanggung jawab sektor pariwisata terhadap ekosistem lingkungan di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi Bali. Co-Founder Eco Tourism Bali, Suzy Hutomo mengatakan, acara yang berlangsung selama 2 hari pada Sabtu (30/5/2026) hingga Minggu (31/5/2026) di Bali Beach Convention Center, Sanur tersebut mengangkat konsep nature positive tourism. Konsep itu yakni sebuah pendekatan pariwisata yang tidak hanya berupaya mengurangi dampak negatif, tetapi juga secara aktif berkontribusi terhadap regenerasi alam, perlindungan biodiversitas, dan keberlanjutan ekosistem.

"Bagaimana kita bisa membantu Bali menjadi destinasi yang sustainabel dengan pelaku bisnis yang sustainabel," ungkapnya pada Sabtu (30/5/2026).

1. Konsep regeneratif melalui berbagai aspek

KEK Sanur
The Meru Eco Tourism Week 4th Edition yang diselenggarakan akhir Mei 2026 di Sanur (IDN Times/Ayu Afria)

Suzy Hutomo mengatakan tidak seharusnya pariwisata hanya mengambil manfaat dari alam, budaya, dan komunitas lokal, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga, memulihkan, dan meregenerasi ekosistem yang menjadi fondasi utama industri ini. Konsep regeneratif ini diwujudkan melalui berbagai aspek, mulai dari kebijakan dan tata kelola bisnis, operasional hospitality yang lebih bertanggung jawab, pengelolaan sumber daya dan limbah, perlindungan biodiversitas, sustainable sourcing hingga komitmen jangka panjang terhadap kelestarian lingkungan dan komunitas sekitar.

"Pendekatan nature positive dan regenerative tourism bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan akan menjadi kebutuhan dan standar baru dalam tata kelola industri pariwisata dan hospitality global," ungkapnya.

2. Menciptakan pariwisata yang melindungi alam

KEK Sanur
The Meru Eco Tourism Week 4th Edition yang diselenggarakan akhir Mei 2026 di Sanur (IDN Times/Ayu Afria)

Lebih lanjut, Suzy mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk komitmen dalam mendukung dan mendorong pariwisata berkelanjutan dan regeneratif di Bali. Komitmen ini semakin diperkuat melalui kolaborasi berkelanjutan bersama mitra yang memiliki visi sama dalam membangun industri pariwisata yang tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga melindungi, memulihkan, dan memperkaya lingkungan alam, warisan budaya, serta komunitas lokal.

Pun, lokasi kegiatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan dan Wellness Sanur disebutnya merupakan ekosistem pariwisata terintegrasi. Hal ini, kata Suzy, menunjukkan bagaimana fasilitas kesehatan inovatif, keanekaragaman hayati, wellness holistik, kesejahteraan komunitas, pelestarian budaya, dan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan berdampingan untuk menciptakan nilai jangka panjang sekaligus mendukung masa depan industri pariwisata Indonesia melalui pembangunan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

"Melalui The Meru Eco Tourism Week, kami percaya bahwa acara ini dapat menginspirasi lahirnya ide-ide bermakna dan mempercepat aksi kolektif menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan regeneratif bagi Bali dan Indonesia," ungkapnya.

3. Transformasi pariwisata berkelanjutan di Indonesia dipercepat dengan kerja sama

KEK Sanur
The Meru Eco Tourism Week 4th Edition yang diselenggarakan akhir Mei 2026 di Sanur (IDN Times/Ayu Afria)

Manager, Consumer Campaign and Engagement Rainforest Alliance dan juga Team Lead ACT! Project, Margareth Meutia menjelaskan, dalam upaya mempercepat transformasi pariwisata berkelanjutan di Indonesia, ACT! Project dan Eco Tourism Bali secara resmi mengumumkan kerja sama strategis selama empat tahun ke depan, terhitung mulai tahun 2026 hingga 2029.

Melalui kolaborasi ini, ACT! Project dan Eco Tourism Bali berkomitmen untuk mendorong adopsi praktik sustainable sourcing secara konsisten di sektor pariwisata, khususnya hotel, restoran, dan kafe di Bali serta Yogyakarta. Fokus utama kolaborasi ini mencakup penguatan praktik konsumsi dan rantai pasok berkelanjutan untuk komoditas seperti kopi, kakao, teh, dan minyak sawit dalam industri hospitality dan tourism.

Kerja sama ini juga menekankan pentingnya responsible production, yaitu memastikan komoditas tidak diproduksi di kawasan yang rentan terhadap deforestasi maupun di sekitar habitat spesies yang terancam punah. Di saat yang sama, pendekatan yang dijalankan tetap menempatkan masyarakat dan komunitas lokal sebagai bagian utama dalam transformasi menuju industri pariwisata yang lebih bertanggung jawab.

“Pariwisata yang regeneratif tidak dapat dibangun hanya dari operasional hotel atau destinasi. Transformasi harus dimulai dari rantai pasok yang lebih bertanggung jawab, sehingga setiap produk yang dikonsumsi wisatawan juga memberikan manfaat bagi alam, petani, dan komunitas lokal," ungkapnya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari

Latest News Bali

See More