5 Sifat Buruk Dosen Sastra di Notes from the Last Row Menurut Hindu

- Drama Korea 'Notes from the Last Row' menyoroti kisah dosen sastra Heo Mun Ho yang terjebak dalam obsesi terhadap mahasiswa berbakat, Lee Kang, hingga kehilangan kendali atas hidupnya.
- Lima sifat buruk Mun Ho dijabarkan menurut ajaran Hindu Bali: Kama (hasrat berlebihan), Krodha (amarah), Moha (kebingungan), Mada (mabuk), dan Matsarya (iri dengki).
- Akibat sifat-sifat buruk itu, Mun Ho mengalami kehancuran karier, rumah tangga, serta mentalnya sendiri, menjadi simbol lingkaran karma dan balas dendam yang tak berujung.
Drama Korea (drakor) berjudul "Notes from the Last Row" menjadi diskursus hangat karena premis dan plot twist ceritanya tidak terduga. Kita seolah terbawa oleh kebingungan tiada henti dalam setiap episodenya. Episode akhir menyingkap lapisan kegilaan mahasiswa dengan bakat membuat cerita bersambung, Lee Kang, terhadap Dosen Sastra, Heo Mun Ho.
Lee Kang membuat cerita bersambung untuk tugas mata kuliah sastra, yang dia katakan sebagai pengamatan nyata. Tanpa disadari Mun Ho, tugas itu adalah jebakan balas dendam atas perbuatannya di masa lalu.
Sifat buruk Mun Ho menjerumuskannya ke dalam karma buruk lingkaran balas dendam. Ia kehilangan segalanya. Sebelum terlambat, baca ulasan sifat buruknya menurut Hindu Bali di bawah ini. Jika ada kesamaan, berbenahlah.
1. Hasrat dan obsesi yang menyiksa diri

Dosen Sastra Korea, Heo Mun Ho, diperankan oleh aktor senior Choi Min Sik. Ia mengajar seperti biasa, dan sebagian besar mahasiswa menganggapnya membosankan. Niatnya mengajar memang mengawang-awang karena kebuntuan menahun karier menulisnya.
Ketika Ia membaca tugas cerita bersambung karya Lee Kang yang diperankan aktor muda, Choi Hyun Wook, Mun Ho merasakan debaran dalam hatinya. Tugas Lee Kang itu membuatnya penasaran, seperti apa mahasiswa dengan bakat alami menulis?
Mun Ho sampai mengatur pertemuan dengan Lee Kang. Perlahan hubungan mereka berkembang menjadi mentor dan penulis muda yang akan debut, setidaknya itu yang dibayangkan Mun Ho.
Setiap tugas membuat Mun Ho penasaran. Hasratnya untuk kembali dikenal sebagai penulis lewat bimbingan Lee Kang membawa pria paruh baya itu pada siklus obsesi. Ia memaksa Lee Kang untuk terus menuliskan observasi nyata itu, tanpa tahu kebenaran di baliknya bahwa Lee Kang telah memanipulasi.
Mun Ho menuruti segala perkataan Lee Kang, termasuk mempertaruhkan integritasnya sebagai dosen dengan mencuri soal seleksi olimpiade komputer.
Sadar Lee Kang membuatnya stres dan tidak konsentrasi mengajar, tapi Mun Ho tetap melanjutkan obsesinya untuk sampai pada akhir cerita pendek karya Lee Kang. Sifat buruk Mun Ho ini termasuk Kama yakni hasrat atau hawa nafsu yang berlebihan.
2. Amarah berbalut serakah hingga hilang arah

Mun Ho memiliki temperamen buruk. Ia mudah marah dan sinis sejak mengalami kebuntuan menulis. Istrinya, Jo Hyun Suk (diperankan aktris Jin Kyung), merupakan seorang psikolog. Pada awal pernikahan, mereka pernah mendatangi sebuah panti asuhan karena Hyun Suk memberikan konseling kepada anak-anak panti.
Seorang anak laki-laki merasa kelas konseling itu membosankan dan pergi keluar. Hyun Suk tidak marah melihat sikal anak tersebut.
Tapi Mun Ho, sejak awal sudah marah-marah dalam perjalanan ke panti asuhan. Ia tidak antusias dengan apa yang dilakukan istrinya, padahal Hyun Suk selalu sabar bersama Mun Ho.
Mun Ho mengikuti anak laki-laki itu ke danau dekat bangunan panti. Keduanya bercengkrama dan Mun Ho membagikan cara bercerita agar mengurangi rasa trauma tidak memiliki orangtua.
Anak laki-laki itu mulai akrab dengan Mun Ho. Hyun Suk memberikan alamat surat Mun Ho kepada anak itu yang ingin berinteraksi lebih lanjut. Namun, respon Mun Ho begitu sinis. Ia merasa tidak ada untungnya mendengar cerita seorang anak panti asuhan. Mun Ho merasa bahwa mengikuti Hyun Suk ke panti asuhan tidak membuatnya mendapatkan inspirasi menulis dan membuang waktu.
Padahal saat itu Mun Ho telah bekerja sebagai dosen, dan belum bisa move on dengan kebuntuan menulisnya. Keserakahan dan amarahnya menjadi satu. Tanpa Ia sadar, anak laki-laki itu mendengar semua kemarahan dan keluhan Mun Ho.
Anak itu tumbuh dewasa sebagai Lee Kang. Gak sekali Mun Ho marah mencak-mencak kepada istri dan orang di sekitarnya. Amarah tidak terkontrol Mun Ho tergolong dalam sifat buruk. Dalam Hindu Bali disebut dengan Krodha.
3. Tenggelam dalam kebingungan

Selama membaca tugas cerita bersambung karya Lee Kang, Mun Ho membayangkan visual setiap tokoh, alur, dan lokasi kejadian. Mun Ho menggambarkan sosok Ibu dalam cerita itu sebagai Ahn Eun Joo (diperankan aktris Kim Yunjin). Eun Joo adalah cinta pertama Mun Ho semasa kuliah yang menikah dengan penulis sukses Kim Su Hun (diperankan aktor senior, Huh Joon Ho).
Mun Ho tidak bisa menerima Eun Joo menikah dengan Su Hun. Apalagi Su Hun adalah sosok yang mengkritik draf novelnya hingga Ia kehilangan rasa percaya diri untuk menulis.
Begitu cerdiknya, Lee Kang menambahkan fantasi liar Mun Ho dalam setiap cerita. Mun Ho tidak dapat membedakan realitas dan imajinasi. Ia tenggelam pada kebenaran yang ingin diyakini, tanpa melakukan verifikasi. Kebingungan dan pola pikir yang mudah diombang-ambingkan ini termasuk dalam sifat buruk dalam ajaran Hindu, yang disebut dengan nama Moha.
4. Mabuk minuman keras

Minuman keras kerap menjadi sarana pelarian dalam rasa kalut dan amarah Mun Ho. Ketika semua kejahatannya terungkap, memaksa Lee Kang menulis, mencuri soal olimpiade, dan lainnya. Mun Ho jadi tenggelam dalam minuman keras.
Hyun Suk tidak tahan hidup bersama Mun Ho tanpa mendapatkan cinta selama bertahun-tahun meninggalkan laki-laki itu. Mun Ho tidak pernah merasa bersalah dalam hidupnya. Ia selalu merasa bahwa kebuntuan menulisnya harus dimaklumi, bahwa Ia yang paling menderita di dunia ini. Sementara, Hyun Suk terus menjalani hidup dalam kesepian dan kesendirian meskipun tinggal seatap dengan Mun Ho.
Hyun Suk yang tulus itu meninggalkan Mun H. Begitu pula kariernya sebagai dosen bergelar profesor hancur. Minuman keras menjadi konsumsi sehari-hari. Sifat buruk ini disebut dengan Mada.
5. Iri dengki dengan keberhasilan orang lain

Ia iri dan dendam dengan penulis sukses, Su Hun. Mun Ho membayangkan sosok Su Hun sebagai suami dan ayah yang kejam dalam babak pertengahan cerita bersambung karya Lee Kang.
Sudut pandang Mun Ho berubah. Ia melihat Su Hun punya segalanya, mulai dari cinta pertamanya, Eun Joo, serta anak-anak yang baik dan pandai. Apalagi putri pertama Su Hun adalah novelis muda yang sukses.
Mun Ho selalu sinis dengan Su Hun. Ia sebenarnya enggan bertemu di dunia nyata dengan Su Hun. Bahkan saat Lee Kang enggan melanjutkan akhir cerita bersambungnya, Mun Ho dalam imajinasi liarnya membayangkan bahwa Su Hun akan membakar rumah, termasuk membunuh istri dan anaknya.
Mun Ho membuat akhir cerita bersambung dan segala di dalamnya benar-benar terjadi, hingga dia panik menuju rumah Su Hun dan Eun Joo.
Tiba di rumah itu, tidak ada apa pun yang terjadi. Su Hun, Eun Joo, dan putra keduanya baik-baik saja. Hanya tersisa rasa heran, malu, dan marah dalam diri Mun Ho. Ia melampiaskan segalanya kepada Lee Kang yang sejak awal menargetkannya sebagai sasaran balas dendam.
Mun Ho tidak pernah merasa bersalah atas fantasi liar dan rasa iri dengkinya. Sifat buruk ini termasuk dalam Matsarya, yaitu iri dengki terhadap keberhasilan orang lain.

















