Belajar Daring Tidak Efektif di Klungkung, Capaian Akademik Menurun

- Pemerintah Pusat membatalkan rencana pembelajaran daring demi penghematan energi, keputusan ini disambut positif oleh Disdikpora Klungkung dan para orangtua siswa.
- Kepala Disdikpora Klungkung menilai pengalaman saat pandemik menunjukkan pembelajaran daring tidak efektif karena partisipasi rendah dan capaian akademik menurun.
- Orangtua siswa mendukung pembatalan wacana belajar daring karena metode tatap muka dinilai lebih efektif serta memungkinkan interaksi sosial dan bimbingan langsung dari guru.
Klungkung, IDN Times – Pemerintah Pusat tidak melanjutkan wacana untuk menghidupkan kembali sistem pembelajaran daring sebagai bagian dari upaya penghematan energi. Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Klungkung maupun orangtua siswa menyambut baik keputusan ini. Mereka menilai kebijakan belajar daring berpotensi menurunkan kualitas pembelajaran siswa.
Kepala Disdikpora Klungkung, Ketut Sujana, menyebutkan pengalaman selama pandemik COVID-19 menjadi pelajaran penting bahwa sistem belajar jarak jauh tidak berjalan optimal di daerahnya.
Menurutnya, selama penerapan pembelajaran daring, banyak kendala yang muncul, mulai dari rendahnya partisipasi siswa hingga menurunnya fokus belajar. Kondisi ini berdampak langsung pada capaian akademik siswa yang dinilai tidak maksimal.
“Pengalaman saat pandemik sudah cukup jadi evaluasi. Di Klungkung, pembelajaran daring tidak efektif untuk meningkatkan prestasi siswa,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
1. Interaksi guru dan siswa masih menjadi faktor keberhasilan pembelajaran

Ia menilai interaksi langsung antara guru dan siswa masih menjadi faktor utama dalam keberhasilan proses belajar. Melalui pembelajaran tatap muka, siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga dapat membangun komunikasi dan kemampuan sosial.
"Siswa itu penting juga bersosialisasi, dengan guru serta rekan-rekannya," ungkapnya.
2. Pembelajaran daring untuk menghemat energi lebih relevan di kota besar

Disdikpora Klungkung menilai, jika alasan utama penerapan daring adalah efisiensi bahan bakar minyak (BBM), maka kebijakan tersebut lebih relevan diterapkan di wilayah perkotaan yang mobilitasnya tinggi.
“Kalau untuk Klungkung, dampaknya belum signifikan. Jadi tidak perlu sampai kembali ke sistem daring,” kata Sujana.
3. Orangtua siswa sambut baik pembatalan wacana pembelajaran daring

Pembatalan wacana belajar daring juga disambut positif oleh seorang orangtua siswa di Klungkung. Nyoman Rupita sebelumnya mengaku waswas jika kembali diterapkannya belajar daring seperti saat pandemik COVID-19. Metode ini dinilai tidak efektif karena orangtua harus ikut mendampingi, sementara dirinya kerja. Menurutnya, jika anak-anak tidak didampingi saat daring, justru tidak mengikuti pembelajaran dengan serius.
"Namanya sekolah, harus ada tatap mukanya. Harus ada interaksi langsung dengan guru. Untunglah dari Pemerintah Pusat batal. Kalau mau hemat energi, mending penghematan BBM tidak sampai menyentuk urusan pendidikan," jelasnya, Kamis (26/3/2026).


















