Daftar Rahinan Hindu Juni 2026, Ada Galungan dan Kuningan

Umat Hindu di Bali memiliki rahinan atau hari suci setiap bulannya. Rahinan ini menjadi pengingat umatnya akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya. Serta, sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah yang telah diberikan.
Pada Juni 2026 ini terdapat beberapa rahinan penting seperti Galungan dan Kuningan. Berikut daftar lengkap rahinan Hindu Juni 2026.
1. Tilem dan Purnama

Tilem dan Purnama adalah rahinan yang saling berkaitan dalam pelaksanaannya. Berdasarkan Lontar Sundarigama, Purnama merupakan harinya Dewa Candra beryoga, sedangkan Tilem merupakan harinya Dewa Surya beryoga. Saat Purnama atau sering disebut bulan penuh, umat Hindu menghaturkan sarana daksina atau pejati, canang, banten sodan, segehan, dan beberapa sarana upacara sesuai dengan kebiasaan desa setempat. Saat Tilem, sarana upacara atau bantennya lebihs sederhana seperti canang dan segehan.
Rahinan Tilem jatuh pada Minggu (14/6/2026), tepatnya pada Redite Pahing, wuku Dungulan. Sedangkan Purnama jatuh pada Senin (26/6/2026), Soma Pahing, wuku Langkir. Tilem pada Juni 2026 merupakan Tilem Sadha (bulan ke-12 dalam kalender Bali) dan Purnama merupakan Purnama Kasa (bulan pertama dalam kalender Bali).
2. Kajeng Kliwon Uwudan

Kajeng Kliwon dalam kalender Bali dikenal sebagai rahinan yang jatuh pada pertemuan Tri Wara (nama-nama hari dalam Kalender Bali yang terdidi dari Pasah, Beteng, dan Kajeng) Kajeng, dan Pancawara (nama-nama hari dalam Kalender Bali yang terdidi dari Pon, Wage, Umanis, Paing, dan Kliwon) Kliwon. Kajeng Kliwon jatuh setiap 15 hari sekali. Sehingga, setiap bulannya biasanya terdapat dua kali Kajeng Kliwon.
Pada Juni 2026, Kajeng Kliwon pertama jatuh pada Jumat (12/6/2026), Sukra Kliwon, wuku Sungsang. Kajeng Kliwon kedua jatuh pada Sabtu (27/6/2026), Saniscara Kliwon, wuku Kuningan, bertepatan dengan Hari Raya Kuningan. Saat Kajeng Kliwon umat Hindu menghaturkan sarana upacara tipat dampulan, canang, dan segehan. Hal ini untuk menetralisir kekuatan negatif karena Kajeng Kliwon sering dikaitkan hari keramat di Bali.
3. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali

Sugihan Jawa dan Sugihan Bali merupakan rahinan yang menjadi rangkaian dari pelaksanaan Hari Raya galungan. Dalam Lontar Sundarigama dikatakan bahwa Sugihan Jawa merupakan hari suci untuk memohon pembersihan atau penyucian makrokosmos atau Bhuwana Agung. Biasanya umat Hindu membersihkan area rumah, tempat suci, dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan Sugihan Bali yang jatuh sehari setelah Sugihan Jawa merupakan hari suci untuk membersihkan mikrokosmos atau Bhuwana Alit atau tubuh manusia itu sendiri. Biasanya umat Hindu melakukan ritual melukat atau mandi suci.
Sugihan Jawa yang dilaksanakan pada enam hari sebelum Galungan ini jatuh pada Kamis (11/6/2026), Wraspati Wage, wuku Sungsang. Sugihan Bali jatuh pada (12/6/2026), Sukra Kliwon, wuku Sungsang, bertepatan dengan Kajeng Kliwon. Baik Sugihan Jawa maupun Sugihan Bali merupakan simbol untuk menyucikan manusia beserta alam untuk menyambut pelaksanaan Hari Raya Galungan.
4. Penyajaan Galungan

Seperti disebutkan dalam Lontar Sundarigama, Penyajaan Galungan menjadi simbol umat Hindu melakukan pengendalian diri dari kekuatan-kekuatan negatif yang ada di sekitarnya. Agar, umat Hindu tidak tergoda untuk melakukan hal-hal yang dapat mengganggu pelaksanaan Hari Raya Galungan. Dikatakan bahwa pada Penyajaan Galungan Sang Bhuta Dungulan turun sebagai simbol kekuatan negatif yang akan mengganggu atau menggoda umat Hindu.
Pada hari ini, umat Hindu sudah mulai mempersiapkan sarana upacara untuk pelaksanaan Hari Raya Galungan seperti buah-buahan, kue atau jaja, hingga penjor. Penyajaan Galungan jatuh pada Senin (15/6/2026), Soma Pon, wuku Dungulan. Hari suci ini dilaksanakan dua hari sebelum Hari Raya Galungan.
5. Penampahan Galungan

Pada Penampahan Galungan disebutkan bahwa Sang Hyang Kala Tiga turun untuk mengganggu umat Hindu yang akan menyambut Hari Raya Galungan. Untuk menetralisir kekuatan negatifnya, umat Hindu melakukan persembahan yang disimbolkan dengan penampahan (pemotongan) babi. Babi menjadi simbol kekuatan negatif sehingga perlu ditampah (dipotong) untuk menghilangkan kekuatan-kekuatan negatif.
Penampahan Galungan jatuh pada Selasa (16/6/2026), Anggara Wage, wuku Dungulan, sehari sebelum Hari Raya Galungan. Selain melakukan penampahan babi, umat Hindu membuat sarana upacara yang akan digunakan saat Galungan. Umat Hindu juga akan menancapkan penjor pada Penampahan Galungan.
6. Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan merupakan hari suci umat Hindu sebagai simbol kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Umat Hindu menyambutnya dengan penuh suka cita dengan melakukan persembahan dan persembahyangan dengan sarana yang telah disiapkan sebelumnya. Pada hari suci ini umat Hindu memohon anugerah kepada Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya serta para leluhur.
Pelaksanaan Hari Raya Galungan biasanya dimulai di pagi hari hingga siang hari. Persembahyangan dimulai dari di lingkungan rumah hingga ke pura yang ada di lingkungan desa. Hari Raya Galungan jatuh pada Rabu (17/6/2026), Buda Kliwon, wuku Dungulan.
7. Manis Galungan

Umanis Galungan atau Manis Galungan merupakan rahinan yang jatuh sehari setelah Galungan. Tidak ada persembahan khusus pada saat Manis Galungan. Biasanya, umat Hindu melakukan silaturahmi atau simakrama ke sanak keluarga dan kerabat dekat.
Selain itu, Manis Galungan dimanfaatkan untuk mengunjungi obyek wisata atau liburan bersama keluarga. Manis Galungan jatuh pada Kamis (18/6/2026), Wraspati Umanis, wuku Dungulan. Di beberapa tempat, terdapat tradisi yang disebut natab sesayut untuk anak-anak yang giginya belum tanggal.
8. Pemaridan Guru, Ulihan, dan Pemacekan Agung

Setelah Umanis Galungan, terdapat beberapa rangkaian pelaksanaan Hari Raya Galungan. Yaitu, Pemaridan Guru, Ulihan, dan Pemacekan Agung. Saat Pemaridan Guru umat Hindu bersembahyang menghaturkan terima kasih karena telah diberi anugrah untuk merayakan Hari Raya Galungan. Pemaridan Guru jatuh pada Sabtu (20/6/2026), Saniscara Pon, wuku Dunggulan.
Rahinan Ulihan merupakan hari pertama wuku Kuningan atau enam hari sebelum Hari Raya Kuningan. Pada rahinan Ulihan menjadi simbol kembalinya pada Dewata ke kahyangan serta umat Hindu melakukan mulat sarira agar selalu ingat kepada para leluhur yang telah selalu membimbing dalam kehidupan ini. Ulihan jatuh pada Minggu (21/6/2026), Redite Wage, wuku Kuningan.
Pemacekan Agung sebagai simbol umat Hindu memiliki tekad yang kuat untuk melakukan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya. Hari ini juga sebagai pengingat bagi umat Hindu tentag kemenangan Dharma atas Adharma. Pemacekan Agung jatuh pada Senin (22/6/2026), Soma Kliwon, wuku Kuningan.
9. Hari Raya Kuningan

Sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan, umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan. Saat Kuningan, umat Hindu memuja Dewa Mahadewa. Dewa Mahadewa memiliki simbol warna kuning sebagai lambang kesejahteraan dan kemakmuran. Umat Hindu juga memuja para leluhur untuk memohon bimbingan dalam menjalani kehidupan ini.
Keunikan Hari Raya Kuningan pada sarana upacara yaitu endongan yang berbentuk seperti kantong yang digantung pada beberapa pelinggih (bangunan suci) dan penjor. Endongan berisi persembahan berupa nasi kuning, lauk-pauk, dan persembahan lainnya. Sarana upacara ini merupakan simbol bekal yang dipersembahkan kepada leluhur yang akan kembali ke Swarga Loka (surga) pada tengah hari atau pukul 12.00 Wita.
Oleh sebab itu, persembahyangan Hari Raya Kuningan tidak boleh lebih dari pukul 12.00 Wita. Kuningan jatuh pada Sabtu (27/6/2026), Saniscara Klwion, wuku Kuningan.
Itulah daftar rahinan Hindu pada Juni 2026. Pelaksanaan hari suci ini disesuaikan dengan kebiasaan di suatu desa serta kemampuan masing-masing umatnya. Umat Hindu wajib melakukan persembahan dengan tulus ikhlas.


















