Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pindekan Baling-Baling Bambu dari Bali Dipercaya Usir Hama Tikus

Pindekan Baling-Baling Bambu dari Bali Dipercaya Usir Hama Tikus
Ketut Lana, pengrajin pindekan di Festival Jatiluwih 2026, Sabtu (20/6/2026) (IDNTimes/Wira Sanjiwani)
Intinya Sih
  • Festival Jatiluwih 2026 di Bali menampilkan seni budaya, UMKM, dan pembuatan pindekan atau baling-baling bambu tradisional yang dipercaya mengusir hama burung serta tikus di sawah.
  • Ketut Lana, pengrajin pindekan berusia 79 tahun dari Jatiluwih, masih membuat kerajinan ini secara manual meski belum ada penerus dalam keluarganya untuk melanjutkan tradisi tersebut.
  • Penyelenggaraan Festival Jatiluwih tahun ini memperkuat peran UMKM lokal dan menggandeng ASITA Bali lewat Bali Tourism Run 2026 guna meningkatkan promosi serta kunjungan wisatawan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Tabanan, IDNTimes- Festival Jatiluwih 2026 digelar di objek wisata Jatiluwih, Bali, mulai Sabtu (20/6/2026) hingga Minggu (21/6/2026). Selain pertunjukkan seni budaya dan UMKM, ada salah satu kegiatan menarik selama festival berlangsung, adalah melihat langsung pengrajin membuat kerajinan pindekan atau baling-baling bambu.

Pindekan merupakan baling-baling bambu tradisional dengan ukuran kurang lebih 80 centimeter. Petani di Jatiluwih, Kecamatan Penebel masih menancapkan baling-baling dengan tiang pancang bambu di lahan sawah atau halaman rumah. Hal tersebut dimaksudkan agar pindekan mendapatkan embusan angin sehingga medan bunyinya dapat menjangkau jarak yang cukup jauh. Tujuan pemasangan pindekan selain menikmati bunyi yang dihasilkan dari putaran baling-baling bambu, sekaligus untuk mengusir burung yang suka memakan tanaman padi petani. Secara niskala (dimensi spritual), pindekan diyakini juga bisa mengusir hama tikus.

1. Pindekan diyakini sangat disukai Rare Angon

Pindekan (IDNTimes/Wira Sanjiwani)
Pindekan (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Pengrajin pindeken asal Banjar Kesambi, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Ketut Lana (79) menjelaskan pembuatan pindekan harus detail. "Kemiringan kanan dan kiri dari bambu ini harus pas. Agar nanti jika ada angin bertiup, baling-balingnya bisa berputar," katanya, Sabtu (20/6/2026)

Lana sendiri sudah mulai membuat pindekan sejak usia 12 tahun. Ia mempelajarinya secara otodidak. Menurutnya pindekan itu memiliki bunyi yang khas saat baling-baling berputar. Bunyi ini juga digunakan petani untuk mengusir hama burung. "Secara niskala, bunyi dari pindekan ini menjadi kesukaan rare angon atau Dewi Sri, Dewi yang menjaga sawah. Keberadaan pindekan di lahan sawah menyenangkan sang Dewi yang nantinya membuat tikus tidak berani datang untuk merusak tanaman padi di sawah tersebut," jelas Lana.

2. Belum ada penerus untuk membuat kerajinan pindekan

Pindekan (IDNTimes/Wira Sanjiwani)
Ketut Lana, pengrajin pindekan di Festival Jatiluwih 2026, Sabtu (20/6/2026) (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Meski sudah jago membuat pindekan, diakui Lana, anak-anak dan cucunya belum ada yang mewarisi bakatnya ini. Selain menjadi petani, Lana juga bekerja sebagai buruh bangunan seperti membangun Sanggah (tempat suci orang Hindu) yang memerlukan ketrampilan khusus. "Kalau ketrampilan dalam membangun, saya sudah teruskan ke anak-anak. Tetapi kalau buat pindekan masih belum," katanya.

Oleh karena usianya, Lana mengaku hanya menerima pesanan di wilayah Kecamatan Penebel saja. Pesanan biasanya ramai saat memasuki Sasih Kaulu atau bulan kedelapan dalam penanggalan sistem kalender Saka Bali. "Oleh karena baling-balingnya besar dan juga bambu yang digunakan untuk memasang baling-baling ini panjang, saya tidak kuat jika harus dibawa jauh. Jadi pesanan diterima di seputaran Kecamatan Penebel saja," ujar Lana.

Jika hanya memesan baling-baling bambunya saja, harga yang diberikan Lana adalah Rp150 ribu. Untuk sekaligus memasangnya diberikan harga Rp250 ribu. Pindekan biasanya akan dipasang saat musim berangin. JIka musimnya sudah lewat, pindekan bisa diturunkan dan disimpan. Baling-baling ini bisa bertahan hingga tahunan.

3. Festival Jatiluwih diharapkan menaikkan pengunjung dan mendorong pertumbuhan UMKM

Festival Jatiluwih 2026
Festival Jatiluwih 2026 (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Manajer Operasional DTW Jatiluwih, I Ketut Purna, menjelaskan Festival Jatiluwih tahun ini memiliki sejumlah keistimewaan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Salah satunya meningkatnya keterlibatan pelaku UMKM lokal yang diberikan ruang lebih besar untuk berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan festival. Langkah ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan UMKM lokal.

Selain itu, Festival Jatiluwih VII juga berkolaborasi dengan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali melalui penyelenggaraan Bali Tourism Run 2026. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan promosi destinasi Jatiluwih kepada masyarakat Bali, Indonesia, maupun wisatawan mancanegara. "Diharapkan dengan promosi berkelanjutkan bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan," ujarnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari

Latest News Bali

See More