Sebab, tantangan terbesar di era AI bukanlah seberapa cepat teknologi berkembang, melainkan apakah kita memiliki keberanian untuk menggunakannya demi kebaikan bersama.
Dari Gagasan Menuju Kebijakan: Peran Pemuda dalam Era Kecerdasan Buatan

- Wikithon Partisipasi Publik Aguron-Guron di Bali mengajak generasi muda memanfaatkan AI secara bijak untuk meningkatkan literasi, dengan 850 karya terkumpul dari berbagai kalangan dalam waktu singkat.
- Kegiatan ini mempertemukan ide peserta dengan pemerintah dan pemangku kepentingan melalui Dialog Kebijakan, agar gagasan dapat dikembangkan menjadi rekomendasi kebijakan yang aplikatif dan kolaboratif.
- I Dewa Ayu Bintang Purnami meraih penghargaan lewat karya Galeri Bali Jaman Ilu yang menggunakan AI untuk menghidupkan kembali budaya Bali tempo dulu melalui visualisasi edukatif interaktif.
Kemajuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) sering kali dibicarakan dari sisi teknologinya yang semakin canggih. Ada yang khawatir AI akan menggantikan manusia, ada pula yang optimistis akan membuka berbagai peluang baru.
Namun, menurut saya, sebenarnya ada hal yang jauh lebih penting untuk kita pertanyakan: Apakah generasi muda akan ikut menentukan arah pemanfaatan AI, atau justru hanya menjadi pengguna yang mengikuti arus perkembangan zaman?
Sebagai bagian dari generasi muda, saya percaya bahwa teknologi seharusnya tidak membuat kita semakin pasif. Sebaliknya, teknologi harus menjadi ruang untuk berpikir lebih kritis, berkolaborasi, dan berkontribusi bagi masyarakat.
AI bukan sekadar alat untuk menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat, tetapi juga kesempatan untuk melahirkan solusi atas berbagai persoalan yang kita hadapi hari ini.
Harapan itulah yang saya temukan dalam Wikithon Partisipasi Publik Aguron-Guron yang diinisiasi oleh BASAibu Wiki—Bali. Bagi saya, kegiatan ini bukan hanya perlombaan menulis gagasan biasa, melainkan ruang yang membuktikan bahwa anak muda memiliki kapasitas untuk ikut memikirkan masa depan daerahnya.
Melalui topik yang diangkat pada Wikithon kali ini yaitu pemanfaatan AI secara bijak untuk memajukan literasi di Bali, para peserta diajak untuk tidak berhenti menjadi pengguna teknologi, tetapi berani menawarkan solusi atas persoalan yang ada di sekitarnya.
Antusiasme peserta mengikuti kompetisi ini pun begitu besar. Sebanyak 850 karya dari siswa SMA/SMK, mahasiswa, hingga masyarakat umum berhasil dihimpun dalam waktu yang cukup singkat dalam ajang ini. Angka tersebut tidak hanya menunjukkan tingginya minat generasi muda terhadap perkembangan AI, tetapi juga menjadi bukti bahwa masih banyak anak muda yang ingin terlibat dalam ruang partisipasi publik ketika diberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasan dan didengar suaranya.
Melalui Dialog Kebijakan #1 Wikithon Partisipasi Publik Aguron-Guron yang diselenggarakan di Kantor Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Bali pada 10 Juni 2026, berbagai gagasan dan ide terbaik dari peserta dipertemukan dengan pemerintah, akademisi, komunitas, media, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kegiatan yang merupakan satu dari sembilan rangkaian metodologi Wikithon Partisipasi Publik ini bertujuan untuk mengembangkan ide-ide tersebut menjadi rekomendasi kebijakan yang relevan, aplikatif, dan dapat diimplementasikan secara kolaboratif.
Menurut saya, pendekatan ini menghadirkan makna yang jauh lebih besar daripada sebuah perlombaan biasa karena menunjukkan bahwa partisipasi publik tidak berhenti pada penyampaian gagasan, tetapi berlanjut pada proses dialog, penyempurnaan ide, hingga mendorong aksi kolaboratif yang nyata.
Di tengah semangat itu, saya turut merasakan kebanggaan sebagai salah satu alumni SMAN Bali Mandara. Di antara ratusan peserta yang berpartisipasi, SMAN Bali Mandara menjadi sekolah dengan karya terbaik terbanyak dalam Wikithon ini.
Hal ini tentu menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar secara akademik, tetapi juga ruang yang mendorong siswanya untuk berpikir kritis, peka terhadap persoalan sosial, dan berani menuangkan gagasannya ke ruang publik.

Dua penghargaan pemuncak berhasil diraih oleh I Dewa Ayu Bintang Purnami yang menjadi Juara Kategori Khusus Yowana Abhinaya, dan Ni Kadek Bintang Dewi Lestari sebagai Juara I Pada kategori Umum.
Ajang ini juga mempertemukan banyak anak muda inspiratif dari berbagai daerah di Bali. Ni Komang Setya Putri dari SMAN 2 Kuta berhasil meraih Juara I Kategori SMA/SMK se-Bali, sementara Putu Putra Satyawan dari SMAN 1 Seririt meraih Juara II sekaligus penghargaan Disukai Warganet. dan Ni Putu Pande Mirah Surya Dewi sebagai Juara II pada Kategori Mahasiswa/Umum.
Bagi saya, deretan nama tersebut bukan sekedar daftar pemenang. Mereka adalah representasi bahwa generasi muda Bali memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, menawarkan solusi, dan memanfaatkan perkembangan AI untuk menjawab tantangan literasi di daerahnya.
Satu gagasan yang paling menarik perhatian saya adalah Galeri Bali Jaman Ilu, karya I Dewa Ayu Bintang Purnami, peraih Juara Kategori Khusus Yowana Abhinaya yang juga merupakan siswa SMAN Bali Mandara.
Gagasan ini berangkat dari keresahan yang sederhana namun dekat dengan realitas saat ini. Di tengah derasnya arus informasi digital, semakin banyak generasi muda yang mengenal budaya Bali hanya sebatas apa yang terlihat saat ini, sementara cerita, kebiasaan, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali tempo dulu perlahan mulai terlupakan.
Padahal, banyak pengetahuan budaya yang selama ini diwariskan secara lisan oleh para tetua memiliki makna dan pelajaran yang sangat berharga bagi generasi sekarang.
Melalui Galeri Bali Jaman Ilu, teknologi Artificial Intelligence dimanfaatkan untuk memvisualisasikan kehidupan masyarakat Bali pada masa lampau dalam bentuk video edukatif yang menarik dan mudah dipahami.
Cerita-cerita yang dihimpun dari para tetua adat dan masyarakat, kemudian diolah menjadi konten visual yang menggambarkan berbagai aktivitas keseharian masyarakat Bali tempo dulu beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Beberapa konten juga dikemas dalam format before-after sehingga masyarakat dapat melihat secara langsung perubahan yang terjadi dari masa ke masa.
Menurut saya, gagasan ini menunjukkan bahwa AI tidak selalu harus dipandang sebagai teknologi yang menjauhkan manusia dari budaya dan tradisi. Justru sebaliknya, AI dapat menjadi sarana untuk mendekatkan generasi muda pada akar budayanya dengan cara yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui visualisasi yang interaktif dan mudah diakses, generasi muda dapat belajar memahami sejarah, budaya, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali dengan pendekatan yang lebih menarik.
Sejujurnya, saya sulit menggambarkan seberapa besar rasa bangga yang saya rasakan saat ini. Saya bangga sebagai alumni SMAN Bali Mandara yang melihat secara konsisten bagaimana sekolah terus melahirkan generasi muda yang kritis dan inovatif.
Saya juga bangga sebagai Ketua Yowana Abhinaya, karena anggota saya telah berani menuangkan gagasannya, menyampaikan pandangannya terhadap isu publik, dan membuktikan bahwa pemuda mampu mengambil peran dalam ruang-ruang pengambilan keputusan tanpa rasa takut.
Selain itu, saya bangga sebagai seorang pemuda Bali yang menyaksikan semakin banyak generasi muda mulai bergerak. Mereka tidak lagi sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan memanfaatkannya untuk berpikir kritis, berdiskusi, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Saya rasa, inilah makna sesungguhnya dari partisipasi publik. Ketika anak muda berani bersuara, menawarkan gagasan, dan ikut membangun masa depan daerahnya.
Mungkin sudah saatnya kita memandang perkembangan AI dari sudut yang berbeda. Bukan lagi sekadar membicarakan seberapa canggih teknologinya, tetapi bagaimana kita sebagai manusia memilih untuk memanfaatkannya.
Ketika anak muda diberi ruang untuk berpikir, berdialog, dan berpartisipasi, mereka tidak hanya mampu mengikuti perubahan, tetapi juga menjadi bagian yang menentukan arah perubahan itu sendiri.










![[QUIZ] Tipe-Tipe Liburan di Bali, Ini Karakter Upin Ipin Mirip Kamu](https://image.idntimes.com/post/20250506/1000008112-a9936ff4ece60dc64a0fc7d3e0c841a5.png)
![[QUIZ] Dari Tiga Macam Sifat Triguna, Ini Tokoh Upin dan Ipin Mirip Kamu](https://image.idntimes.com/post/20250525/img-20250524-171040-a4e4cddefdae713cd1a3efe97f21f1d1-18c86825124943ca3aa285fede1cb3b7.jpg)






