Lapas Tabanan Sulap Area Sempit Jadi Peternakan Produktif

- Lapas Kelas IIB Tabanan mengubah area brandgang yang sempit menjadi peternakan 114 ayam petelur, yang telah berjalan sekitar delapan bulan.
- Peternakan menghasilkan rata-rata 90 telur per hari untuk bahan baku pelatihan tata boga warga binaan, sementara sebagian telur dipasarkan kepada petugas lapas.
- Program ini membekali warga binaan dengan keterampilan merawat ayam petelur dan mengelola lahan terbatas secara produktif sebagai bagian dari pembinaan kemandirian.
Tabanan, IDN Times - Keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang bagi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan untuk terus menghadirkan pembinaan yang inovatif dan produktif. Memanfaatkan area brandgang, Lapas Tabanan menyulap lahan sempit menjadi peternakan ayam petelur yang produktif.
Lewat peternakan ayam petelur ini, Lapas Tabanan berhasil mengembangkan program pembinaan kemandirian yang memberikan keterampilan bagi warga binaan sekaligus mendukung ketahanan pangan internal.
1. Sebanyak 90 butir telur dihasilkan per hari

Kepala Lapas Tabanan, Prawira Hadiwidjojo, mengatakan peternakan ayam petelur di dalam kawasan Lapas Tabanan ini sudah berjalan kurang lebih selama delapan bulan. Meski memanfaatkan area yang terbatas, Lapas Tabanan berhasil memelihara 114 ekor ayam petelur secara rutin dan mampu menghasilkan rata-rata 90 butir telur setiap hari.
Prawira mengatakan meski sarana dan prasarana terbatas, hal itu tidak menghalangi Lapas Tabanan untuk terus berinovasi. Menurutnya, peternakan ayam petelur menjadi salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang tidak hanya membekali warga binaan dengan keterampilan praktis, tetapi juga memberikan manfaat nyata dalam mendukung ketahanan pangan internal.
"Kami ingin setiap potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara optimal demi menciptakan pembinaan yang semakin berkualitas," ujar Prawira," Rabu (5/7/2026).
2. Produksi telur dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tata boga di Lapas Tabanan

Selain beternak, Lapas Tabanan juga memiliki program pembinaan kemandirian lain berupa pelatihan tata boga bagi warga binaan. Telur-telur yang dihasilkan dari peternakan ayam ini, dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kegiatan tata boga pada program kegiatan kerja.
"Sebagian untuk kegiatan tata boga, sementara sebagian lainnya dipasarkan kepada petugas Lapas," ujar Prawira.
3. Warga binaan belajar bahwa lahan terbatas pun bisa menjadi lahan produktif

Salah seorang warga binaan yang terlibat dalam pengelolaan peternakan, Made, mengaku memperoleh banyak pengalaman selama mengikuti kegiatan tersebut. Terutama menyulap lahan terbatas menjadi lahan yang produktif.
"Saya belajar bagaimana merawat ayam petelur dengan baik agar menghasilkan telur yang berkualitas. Pengalaman ini sangat bermanfaat karena memberikan keterampilan yang bisa saya kembangkan nanti setelah bebas, bahkan dimulai dari skala kecil di rumah," ungkapnya.
Melalui optimalisasi area brandgang menjadi sarana peternakan produktif, Lapas Tabanan membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah hambatan untuk terus berinovasi. Program ini menjadi wujud nyata pembinaan yang tidak hanya membangun kemandirian warga binaan, tetapi juga menghadirkan manfaat berkelanjutan dalam mendukung ketahanan pangan serta mewujudkan pemasyarakatan yang semakin berdampak bagi masyarakat.


















