Rokok Masuk 5 Besar Komoditas Penyumbang Garis Kemiskinan di Bali

- BPS Bali mencatat rokok kretek filter masuk lima besar penyumbang garis kemiskinan pada Maret 2026, menempati posisi kedua kategori makanan di perkotaan dan perdesaan.
- Di perkotaan, rokok menyumbang 7,09% garis kemiskinan; di perdesaan 5,95%. Beras menjadi penyumbang tertinggi, masing-masing 21,74% dan 26,80%.
- Kategori makanan mendominasi 69% garis kemiskinan Bali. Untuk nonmakanan, perumahan menjadi penyumbang terbesar: 10,13% di perkotaan dan 11,91% di perdesaan.
Denpasar, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat perkembangan garis kemiskinan di Bali. Pada periode Maret 2026, rokok termasuk dalam 5 besar komoditas yang memberi sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan.
Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menjabarkan, rokok kretek filter berada di kategori makanan penyumbang garis kemiskinan. Baik di perkotaan maupun pedesaan, rokok kretek filter sama-sama berada di posisi kedua.
“Rokok menjadi barang yang dikonsumsi banyak masyarakat miskin,” ujar Agus pada Rabu (5/8/2026) di Kantor BPS Bali.
Kawasan perkotaan di Bali, rokok menyumbang 7,09 persen garis kemiskinan. Setelah rokok, terdapat komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, dan kue basah. Sementara itu, beras menjadi penyumbang garis kemiskinan tertinggi perkotaan sebesar 21,74 persen.
Lalu di kawasan pedesaan Bali rokok menyumbang sebesar 5,95 persen garis kemiskinan, disusul daging ayam ras, telur ayam ras, dan roti. Serupa dengan di perkotaan, beras menjadi penyumbang garis kemiskinan pertama sebesar 26,80 persen.
Agus mengatakan kontribusi penyumbang garis kemiskinan di Bali, lebih besar pada kategori makanan dibandingkan bukan makanan.
“Kalau misalnya proporsi garis kemiskinan makanan masih dominan 69 persen,” imbuhnya.
Pihaknya mengamati dari tahun ke tahun, rokok selalu masuk dalam 5 besar penyumbang garis kemiskinan di Pulau Dewata. Agus mengamati, saat berada di kampung halamannya, sebagian besar laki-laki adalah perokok. Ia khawatir jika fenomena ini terus berlanjut, akan mengesampingkan kebutuhan pokok dalam rumah tangga.
“Makanya di-sounding (diinformasikan) jangan merokok. Bukan saya apa-apa, rokok lebih mahal padahal beli beras belum tentu isinya segitu,” kata Agus.
Jika melihat komoditas bukan makanan, di kawasan perkotaan Bali secara berurutan, komoditas penyumbang garis kemiskinan sebagai berikut. Perumahan dengan 10,13 persen, bensin sebesar 4,44 persen, listrik yakni 3,05 persen, upacara agama sebesar 3,01 persen, dan pendidikan dengan 1,87 persen.
Pada kawasan perdesaan komoditas bukan makanan penyumbang garis kemiskinan pertama adalah perumahan sebesar 11,91 persen. Disusul oleh bensin dengan 3,88 persen, upacara agama sebesar 3 persen, listrik 1,61 persen, dan perlengkapan mandi yakni 1,25 persen.



















