Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Perempuan Single Dibayangi Pertanyaan 'Kapan Nikah', Berdampak ke Mental

Perempuan Single Dibayangi Pertanyaan 'Kapan Nikah', Berdampak ke Mental
ilustrasi perempuan lajang atau single (unsplash.com/Priscilla Du Preez)
Intinya Sih
  • Pertanyaan 'kapan nikah' sering menekan perempuan single, terutama saat acara keluarga, hingga berdampak pada mental dan rasa percaya diri mereka.
  • Sita dan psikolog Ni Luh Putu Diah menyoroti pentingnya batas privasi serta kesiapan emosional sebelum memutuskan menikah, bukan karena tekanan sosial.
  • Menikah dianggap pilihan pribadi; tidak menikah bukan kegagalan karena kebahagiaan sejati bergantung pada kesiapan mental dan hubungan yang sehat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Denpasar, IDN Times - Hari raya atau acara besar keluarga kerap menjadi momok tersendiri bagi seseorang yang masih berstatus single atau belum menikah. Tidak dimungkiri, bayang-bayang pertanyaan seperti 'kapan menikah?', 'mengapa tidak segera menikah?', menciutkan nyali hingga berpotensi memberikan pukulan mental. Banyak perempuan tidak siap mendapatkan pertanyaan tersebut. Apalagi, pertanyaan menukik soal pernikahan justru datang dari keluarga besar dan lingkungan sosial, bukan keluarga inti.

Salah seorang perempuan bernama Sita (28) berupaya bangkit sendiri dari keterpurukannya setelah gagal dalam pertunangannya pada 2022. Padahal, hubungan tersebut telah melibatkan keluarga besar. Kesalahpahaman dalam komunikasi memicu pasangannya untuk menghadirkan pihak ketiga dalam hubungan. Bermaksud mencari pelipur lara dengan menyibukkan diri bekerja, Sita justru berhadapan dengan sindiran halus dari keluarga. Bahkan, pihak keluarga besarnya sampai mengatur perjodohan yang sama sekali tidak ia kehendaki.

"'Kok bisa di usia segini belum menikah? Kenapa belum menikah?' Dan lain sebagainya. Sebenarnya kalau sekedar bertanya kapan nikah itu tidak mengganggu ya. Tapi kalau sudah ditahap bertanya kapan nikah terus mengulik terlalu dalam sampai akhirnya sindiran halus, 'kok umur segini belum nikah, apa sih yang dikejar, mau jadi perawan tua terus'," ungkapnya.

1. Setiap orang membutuhkan pasangan, tidak masalah berakhir menjadi mantan

pasangan yang sedang berpegangan tangan bersama
ilustrasi pasangan yang sedang berpegangan tangan bersama (unsplash.com/Priscilla Du Preez 🇨🇦)

Sita mengaku setiap orang pasti membutuhkan pasangan dalam hidupnya. Namun, tidak semua hubungan berakhir di pernikahan, termasuk hubungan yang dibina bertahun-tahun sekalipun.

Menurutnya, pacaran menjadi kesempatan pasangan untuk mengetahui dan menakar kecocokan masing-masing. Jika akhirnya harus kandas di tengah jalan karena ketidakcocokan, ia anggap sebagai hal yang wajar. Pun, baginya jodoh adalah rahasia Tuhan. Tidak jarang hubungan seseorang justru langgeng dengan orang yang baru dikenalnya.

"Wajar saja setiap orang butuh partner hidup. Enjoy masing-masing," tuturnya.

Tidak ada yang salah tentang pertanyaan kapan menikah yang ditujukan bagi perempuan, baginya justru bagaimana kemudian perempuan menghadapi desakan yang intens soal pernikahan. Pertama, perlunya menjelaskan batasan privasi meski terikat dalam hubungan keluarga, bahwa kendali perasaan dan rasa cinta sepenuhnya hak individu. Kedua, perempuan bisa menata diri di sela-sela menunggu kesiapan hatinya untuk maju ke jenjang pernikahan dan berumah tangga.

2. Dampak tuntutan menikah membuat seseorang bisa menarik diri dari lingkungan sosial

Ilustrasi menikah (pexels.com/Terje Sollie)
Ilustrasi menikah (pexels.com/Terje Sollie)

Psikolog Klinis Bali Bersama Bisa, Ni Luh Putu Diah Putri Rahayu, mengungkapkan tuntutan menikah bisa berdampak pada kesehatan mental seseorang. Sebab, hal ini memunculkan tekanan, mulai dari stres, overthinking, rasa cemas, dan tidak nyaman. Selain itu, tekanan ini juga bisa menurunkan kepercayaan diri dan membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sosial.

Menyikapi tuntutan menikah sebaiknya dihadapi dengan tenang dan tidak perlu reaktif maupun merasa tertekan. Hal ini karena urusan menikah itu merupakan keputusan pribadi yang dampaknya dirasakan jangka panjang. Jika ada kekhawatiran keluarga maka sebisa mungkin kita mencoba untuk menghargai, tapi tetap punya batas bahwa keputusan hidup tetap ada pada diri kita sendiri.

"Itu hak sebagai individu," ujarnya.

3. Menikah itu pilihan, pernikahan bukan jaminan kebahagiaan

ilustrasi menikah (freepik.com/jcomp)
ilustrasi menikah (freepik.com/jcomp)

Lalu bagaimana jika seorang perempuan memilih tidak menikah? Memilih tidak menikah bisa saja menjadi keputusan yang diambil oleh seorang perempuan. Bagi Sita, memilih tidak menikah adalah hak setiap orang mengingat pernikahan melibatkan perasaan. Seseorang yang memilih tidak menikah bukan berarti mereka dalam situasi kesepian atau miskin kasih sayang, karena terkadang mereka lebih mengetahui bagaimana versi cinta dan kasih sayang yang mereka butuhkan.

"Menikah itu pilihan, tidak menikah bukan berarti hidup sudah gagal karena menikah juga bukan jaminan kebahagiaan. Karena pada akhirnya, keputusan menikah itu bukan hanya soal waktu, tapi juga kesiapan emosional, mental, dan relasi yang sehat," tegas Ni Luh Putu Diah Putri Rahayu.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Bali

See More