Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Biaya Hidup Naik tapi Gaji Stuck, Anak Muda di Bali Susah Menabung?

Biaya Hidup Naik tapi Gaji Stuck, Anak Muda di Bali Susah Menabung?
ilustrasi tabungan emas (IDN Times/Nathaniel Tegar)
Intinya Sih
5W1H
  • Banyak anak muda Bali seperti Ayu harus bekerja paruh waktu untuk menutupi biaya hidup dan pendidikan karena tidak lagi disokong penuh oleh orangtua.
  • Kenaikan harga kebutuhan pokok, bensin, dan paket data membuat pendapatan mahasiswa cepat habis meski sudah berhemat dan mencari penghasilan tambahan.
  • Upah Minimum Provinsi Bali 2026 sebesar Rp3,2 juta masih jauh dari Kebutuhan Hidup Layak Rp5,2 juta, membuat pekerja muda sulit menabung di tengah inflasi tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Denpasar, IDN Times - Tak semua anak muda di Bali menerima penghidupan layak dari orangtua. Biaya hidup dan pendidikan kian naik, membuat anak muda di Pulau Dewata putar otak mencari uang saku tambahan. Ketut Ayu (21) misalnya, punya banyak kegiatan untuk mengumpulkan biaya tambahan selama berkuliah. 

Mahasiswa semester 6 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Udayana (Unud) ini bekerja paruh waktu di bidang Digital Marketing Specialist. Tugasnya mencakup mengurus endorsement, affiliate, KOL, iklan digital, editor video, grafis, dan sebagainya. Tugas yang cukup kompleks itu dibayar dengan upah Rp120 ribu per hari.

Ayu menerima bayaran penuh Rp3,2 juta jika tidak sedang kuliah dan berorganisasi. Tapi jika ada kegiatan di kampus dan ia harus izin, Ayu menerima upah di kisaran Rp1,8 juta per bulan.

Bagaimana kisah Ayu dan anak muda lainnya hidup dari tabungan ke tabungan? Baca selengkapnya di bawah ini.

1. Tabungan tak bertahan lama karena untuk biaya hidup

ilustrasi dompet.jpeg
Ilustrasi tabungan di akhir bulan. (IDN Times/Yuko Utami)

Melalui pendapatan itu, Ayu dapat menabung sekitar Rp1 juta sebulan. Hanya saja tabungannya cepat menguap untuk biaya hidup karena tidak lagi disokong orangtuanya.

“Bisa sih (menabung) waktu ini sejuta cuma ke-cut (kepotong) lagi karena sehabis kerja memang uang bekal tidak pernah diberikan rutin. Kecuali perlu banget uang, baru minta ke orangtua,” kata Ayu kepada IDN Times, Rabu (24/5/2026). 

Ia ada rasa sungkan menerima uang dari orangtuanya. Akhirnya, setelah gajian, Ayu mengembalikan uang pemberian orangtuanya, “dan itu kayak ngutang karena pas gajian juga ngasih tetap ke orangtua.” 

Selain aktif berkuliah dan bekerja paruh waktu, Ayu juga aktif berorganisasi, menjadi pengurus paguyuban beasiswa, sertw mengikuti campus ambassador. Termasuk mengikuti berbagai kompetisi yang dapat menghasilkan uang saku tambahan. 

2. Biaya hidup naik bikin tabungan terkuras

anak muda bekerja.jpeg
Ilustrasi anak muda di Bali kelelahan bekerja. (IDN Times/Yuko Utami)

Pengeluaran terbesar Ayu adalah bensin. Ia membeli Petralite. Dulu, beli bensin Rp20 ribu sudah bisa mengisi separuh lebih tangki motornya. Namun, sekarang hanya terisi dua batang saja.

“Serba mahal saja semua,” keluhnya.

Selain bensin, paket data juga menjadi pengeluaran yang cukup besar bagi Ayu. Termasuk biaya berorganisasi dengan pungutan uang kas, mobilitas kegiatan tinggi, dan makanan sebagai pelarian dari stres. 

“Apalagi kalau stres makan terus dan organisasi. Ya kadang memang juga ada beberapa isi bayar kas dan lain-lain jadi yah lumayan boncos,” imbuh Ayu.

Ayu sudah berusaha menghemat. Ia selalu membawa air mineral dari rumah dengan tumbler. Kadang-kadang berbekal nasi dan lauk pauk dari rumah.

Setali tiga uang dengan Ayu, Budi Adnyana, Mahasiswa Semester 4 Unud harus bekerja agar bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Kata Budi, banyak teman-temannya yang senasib.

“Untuk berkuliah saja, saya juga harus bekerja. Banyak kawan-kawan kami bekerja sebagai daily worker (pekerja harian) dieksploitasi dengan gaji di bawah standar dan bekerja hingga 12 jam,” paparnya. 

Ia khawatir dengan masa depannya saat berkarier di Bali. Menurut Budi, orangtuanya yang sudah lama bekerja tidak mengalami peningkatan upah secara signifikan. Namun, laju biaya hidup tak dapat terelakkan dari inflasi.

"Kami belajar harus kerja juga, gaji orang tua kami standar-standar saja,” ujar Budi.

3. Pesimis anak muda Bali tak makan tabungan

aliansi buruh dan mahasiswa bali__.jpeg
Poster May Day dari Aliansi Buruh dan Mahasiswa Bali. (IDN Times/Yuko Utami)

Melihat kondisi saat ini, Upah Minimum Provinsi (UMP) Bali 2026 sebesar Rp3,2 juta. Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan Republik indonesia (Kemnaker RI) menetapkan angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL) Provinsi Bali sebesar Rp5,2 juta.

Sekretaris Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) Regional Bali, Ida I Dewa Made Rai Budi Darsana, menyampaikan upah buruh di Bali tidak mampu memenuhi biaya hidup yang mirip dengan KHL Jakarta sebesar Rp5,8 juta.

“UMP Bali masih sangat jauh dari kebutuhan layak pekerja Bali,” kata Rai kepada IDN Times, Minggu (24/5/2026).

Ia juga pesimis anak muda di Bali mampu memiliki tabungan yang tak tersentuh biaya hidup. Rai tidak yakin buruh di Bali dapat menabung di tengah himpitan ekonomi dan besarnya tanggung jawab di keluarga.

“Sudah pasti gak (sulit menabung), apalagi sekarang harga-harga kebutuhan semakin melambung tinggi,” imbuh Rai. 

4. Anak muda Indonesia menghadapi tantangan ekonomi

Ilustrasi tabungan (IDN Times/Umi kalsum)
Ilustrasi tabungan (IDN Times/Umi kalsum)

Berdasarkan Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025, generasi Z di Indonesia memiliki pendekatan pengelolaan keuangan yang berbeda dengan generasi milenial. Meskipun sama-sama menghadapi lanskap ekonomi yang menantang, generasi milenial lebih fokus pada tujuan yang berorientasi keluarga dan kesehatan. Porsi terbesar terletak pada biaya pendidikan anak yakni 47 persen dan 27 persen untuk dana darurat. 

Sementara, generasi z yang masih dalam tahap awal perjalanan keuangan, menekankan tabungan, investasi properti, dan pengalaman pribadi sembari mencari informasi lebih lanjut untuk mengelola keuangan mereka dengan lebih baik. Generasi Z di Indonesia menyisihkan 36 persen untuk dana darurat dan 22 persen untuk membeli rumah atau properti.

Share Article
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani

Latest News Bali

See More