Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jatuh Cinta dengan Rerajahan, Pemangku di Bali Melukis di Kanvas

Jatuh Cinta dengan Rerajahan, Pemangku di Bali Melukis di Kanvas
Lukisan terinspirasi dari rerajahan Bali karya Made Wiradana (IDN Times/Ayu Afria)
Intinya Sih
  • Made Wiradana, pemangku sekaligus seniman Bali, memamerkan 19 lukisan bertema rerajahan di Santrian Art Gallery Sanur dengan gaya kontemporer yang terinspirasi dari simbol-simbol sakral.
  • Ia melukis di waktu malam saat suasana sunyi agar ide mengalir bebas, menggunakan warna dan simbol berbeda untuk membedakan karya seni dari rerajahan sakral hitam-putih.
  • Karya ini dimaksudkan memperkenalkan makna rerajahan kepada generasi muda, sekaligus menunjukkan transformasi Wiradana sebagai seniman bergaya mistik dan primitif yang berakar pada tradisi Bali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Denpasar, IDN Times - Dinding Santrian Art Gallery di Sanur kali ini tampak berbeda dari agenda pameran biasanya. Pasalnya sekitar 19 karya seni lukisan yang digantung justru menambah kesan mistis karena terinspirasi dari rerajahan dalam balutan tema Kacatri memiliki makna 'yang digariskan'.

Lukisan tersebut merupakan karya seniman sekaligus pemangku Pura Taman Sari di Jalan Ratna, Denpasar bernama Made Wiradana. Sang pelukis mengatakan, terinspirasi dari kegiatan ditekuni selama menjadi pemangku sejak 2024, membuat rerajahan Bali.

"Begitu saya menjalani itu (menjadi pemangku), saya sering terlibat dengan gambar-gambar tentang rerajahan. Saya sering ke griya, kadang-kadang disuruh bikin Ulap-ulap, bikin ini akhirnya saya kecantol dengan rerajahan itu," jelasnya.

1. Pelukis jatuh cinta dengan mistisnya rerajahan

Lukisan
Lukisan terinspirasi dari rerajahan Bali karya Made Wiradana (IDN Times/Ayu Afria)

Lulusan Institut Seni Yogyakarta angkatan 1995 ini mengatakan, menjadikan inspirasi rerajahan yang sering ditulis di kain kasa dan diangkap sakral untuk kemudian dituangkankan ke atas kanvas dengan teknik kontemporer. Alasannya selain terlanjur jatuh hati dengan mistisnya rerajahan, ia juga menemukan banyak simbol yang menurutnya malah sangat bangus untuk ditarik ke dunia seni rupa.

"Karena memang jatuh hati ke sana ya. Karena profesi juga, karena keseharian saya gitu. Dulu sih lukisnya primitif," jelasnya.

Sejumlah karya yang dipamerkan hingga 30 Agustus mendatang dilukisnya selama tenggang waktu 2 tahun, sesuai permintaan pihak galeri. Pameran ini menjadi kesempatan pertama pamerannya dengan konsep lukisan yang berbeda dengan sebelumnya, primitif.

2. Lukisan terinspirasi dari rerajahan dituangkan di tengah kesunyian malam

Lukisan
Lukisan terinspirasi dari rerajahan Bali karya Made Wiradana (IDN Times/Ayu Afria)

Tidak ada jam-jam khusus untuk melukis karyanya tersebut, Made Wiradana mengaku melakukannya di malam hari setelah terbangun dari tidurnya. Ide tersebut dieksekusi di atas kanvas tanpa canggung agar inspirasinya tidak terputus.

Lebih tepatnya ia memilih waktu dimana kesunyian bisa memperjelas dan memudahkannya menuangkan ide.

"Ini ndak tentu ya. Kadang-kadang saya tidur, kadang-kadang bangun jam 02.00 malam bisa melukis langsung karena ndak mau ketinggalan itu. Karena saya lihat ini jadi gitu lho. Kalau mungkin tiduran mungkin nggak jadi. Kadang-kadang pagi-pagi bisa. Kalau kita udah pengin itu, walau jam berapa ndak, ndak masalah," jelasnya.

Nah, untuk memberikan batasan tegas antara rajah yang sakral dengan karya seni terinspirasi dari rajah, ia menggunakan berbagai warna, mengingat rajah yang sakral menggunakan warna hitam dan putih. Kemudian ia menmbahan aksen-aksen dan simbol pada karya seni tersebut sehingga tampak lebh kontemporer.

"Ya, banyak binatangnya. Ada yang ininya simbol Padma-nya," imbuhnya.

3. Karya seni juga mendekatkan pengetahuan ke generasi berikutnya

Lukisan
Lukisan terinspirasi dari rerajahan Bali karya Made Wiradana (IDN Times/Ayu Afria)

Karya seni ini juga ia maksudkan untuk mendekatkan pengetahuan rerajahan ke khalayak umum terutama generasi muda. "Rerajahan itu kan sifatnya sakral sekali ya. Kadang-kadang kan sekarang generasi muda itu tahu (itu rajah).  Cuma kelihatan hiasan padahal itu punya makna gitu," ungkapnya.

Sementara itu, Budayawan dan juga seniman, Prof I Made Bandem, mengakui Made Wiradana menjadi seniman yang membuat lukisan dengan gaya abstrak yang unik sekali. Dengan latar belakang tersebut, Bandem mengaku pernah terlibat pameran sang seniman dan hasilnya semua lukisan terjual habis.

Sang seniman disebutnya juga dalam masa transformasi karena tugasnya sebagai pemangku dan seniman yang berjalan beriringan menuntutnya memahami pengetahuan sastra, mantra, agama hingga Yadnya (upacara).

"Gayanya mistik dan primitif, itu yang menonjol dari apa yang dimiliki Made Wiradana," ungkapnya.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing

Latest News Bali

See More