Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Penggunaan AI Memudahkan Kerja Kreator Animasi Lokal di Bali

Penggunaan AI Memudahkan Kerja Kreator Animasi Lokal di Bali
Founder and Head of Animation Trilogi Animasi, Decky Satya Susanto. (IDN Times/Yuko Utami)
Intinya Sih
5W1H
  • Decky Satya Susanto, pendiri Trilogi Animasi di Bali, menilai kecerdasan buatan membantu mempercepat proses pembuatan karakter animasi meski tetap perlu pengawasan manusia agar hasilnya akurat.
  • Ia mengungkapkan tantangan besar dalam menemukan sumber daya manusia dengan keahlian spesifik, terutama animator 2D dan pembuat latar yang masih langka di Indonesia.
  • Trilogi Animasi digerakkan oleh generasi muda sejak 2023, menghasilkan berbagai karya lokal namun masih berjuang meningkatkan minat publik terhadap IP animasi buatan Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Denpasar, IDN Times - Dialog penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam kerja-kerja studio animasi masih menjadi perdebatan. Tetapi bagi kreator animasi lokal di Bali, penggunaan AI dapat memudahkan kinerja penciptaan karakter.

Founder and Head of Animation Trilogi Animasi, Decky Satya Susanto, tidak menampik bahwa penggunaan AI memudahkan kerja-kerjanya.

“Kalau menurut saya sendiri AI itu sebenarnya sangat membantu karena membuat proses pekerjaan itu jadi lebih cepat,” tutur Decky kepada IDN Times di Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) Denpasar, Minggu (1/3/2026).

Berikut cerita selengkapnya kerja-kerja animasi lokal untuk berkembang dan bertahan.

AI memudahkan kreator animasi, tapi manusia harus pegang kendali

ilustrasi AI membantu pembelajaran (pexels.com/Shantanu Kumar)
ilustrasi AI membantu pembelajaran (pexels.com/Shantanu Kumar)

Decky mencontohkan saat akan membuat karakter animasi, Ia akan menggambar versi tampak depannya saja. Melalui kecerdasan buatan, Ia akan meminta gambaran versi samping dan belakang karakter yang diciptakannya. 

Meskipun memudahkan kerja-kerjanya, Decky tetap mengecek secara detail. Sebab, kinerja kecerdasan buatan tidak dapat dipercaya seutuhnya.

“Masih ada beberapa error sih kalau pakai AI. Jadi, harus perlu dikoreksi lagi,” tuturnya.

Ia mengakui dirinya adalah tipe kreator yang lebih moderat dalam memanfaatkan AI dalam kerja-kerja animasi.

“Kalau dari saya lebih ke moderat sih, gak terlalu konservatif,” imbuhnya.

Kesulitan menemukan sumber daya manusia dengan keahlian spesifik

ilustrasi animator (pexels.com/Michael Burrows)
ilustrasi animator (pexels.com/Michael Burrows)

Selain bercerita soal penggunaan kecerdasan buatan yang memudahkan kerja animator lokal, Decky juga cerita tentang kesulitan menemukan sumber daya manusia (SDM) dengan keahlian spesifik. 

Sejak 2020 menekuni dunia animasi, Ia menilai sulit menemukan kreator animasi dua dimensi yang menyusun adegan per adegan (frame by frame).

“Kalau di Indonesia lebih populernya 3D (tiga dimensi) ya. Tapi kalau untuk 2D itu masih jarang sekali,” kata dia.

Pengerjaan animasi 2D memakan waktu dan usaha lebih lama, sebab setiap adegannya harus digambar satu per satu. Teknik ini lebih populer pada produksi anime di Jepang, termasuk negara lainnya seperti Korea dengan manhwa maupun Cina dengan donghua-nya. 

Selain itu, kreator yang dapat membuat latar gambar pada animasi juga sulit ditemukan. Decky menilai, bidang tersebut masih minim peminat di Indonesia. Termasuk mereka yang ahli membuat efek pada animasi, juga masih jarang ditemui di Bali.

Bekerja dengan anak-anak muda

Ilustrasi Kerjasama (Pixabay.com/Jarmoluk)
Ilustrasi Kerjasama (Pixabay.com/Jarmoluk)

Trilogi Animasi berawal dari tahun 2023, dengan tim inti sebanyak tiga orang dan tim luar sebanyak 15 orang. Decky mengatakan, rata-rata kreator animasi di Trilogi Animasi adalah generasi Z. Pihaknya juga kerap menerima anak magang hingga 20 sampai 25 orang di jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK) maupun universitas. 

Ada berbagai karya animasi yang telah diciptakan, mulai dari Edelweiss, The Legend of Axel, serta animasi edukasi anak Nana dan Sora. Sebagai pelaku animasi taraf Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Decky mengaku kesulitan mengembangkan interaksi (engagement) di berbagai platform untuk memperkenalkan karya animator lokal.

“Apalagi lokal ya karena di kita lebih terpapar sama Cina, Jepang, sama Korea, donghua, anime, dan lain-lain. Jadi agak susah untuk anak-anak suka sama Intellectual Property (IP) lokal gitu. Kecuali kalau memang IP-nya itu sudah go internasional dan terkenal,” papar Decky.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More