Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
RSUD Tabanan Belum Bayar Utang Obat, Sanjaya Minta Maaf
Loket depo farmasi RSUD Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani)
  • RSUD Tabanan mengutamakan pengadaan obat sesuai Fomularium Nasional melalui e-katalog, namun beberapa obat kosong karena penyedia tidak merespons akibat pembayaran yang tersendat.
  • Keterlambatan klaim BPJS Kesehatan menyebabkan masalah arus kas RSUD Tabanan, menimbulkan utang ke vendor dan piutang tak tertagih sekitar Rp5 miliar dari pasien non-BPJS.
  • Bupati Tabanan meminta maaf atas kekosongan obat dan menjelaskan kendala terjadi akibat transisi sistem klaim BPJS dari manual ke digital, sambil menegaskan pentingnya peningkatan pelayanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Terjadi kekosongan sejumlah obat di RSUD Tabanan, termasuk obat Citicoline yang digunakan untuk pasien stroke, akibat kendala dalam proses pengadaan dan pembayaran kepada penyedia.
  • Who?
    Kekosongan obat disampaikan oleh dr Ni Ketut Ayu Sudiariani SpN dan dikonfirmasi oleh Wakil Direktur Penunjang RSUD Tabanan I Gede Gusnawa serta Direktur RSUD Tabanan dr I Gede Sudiarta.
  • Where?
    Kejadian berlangsung di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tabanan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali.
  • When?
    Pernyataan mengenai kekosongan obat disampaikan pada Rabu, 11 Maret 2026, dan kondisi tersebut masih berlangsung hingga saat ini.
  • Why?
    Kekosongan terjadi karena keterlambatan pencairan klaim BPJS Kesehatan yang menyebabkan gangguan arus kas rumah sakit serta vendor tidak merespons pengadaan melalui e-katalog.
  • How?
    RSUD Tabanan melakukan pengadaan obat sesuai Fomularium Nasional melalui sistem e-katalog. Namun pembayaran tersendat membuat beberapa paket obat tidak dipenuhi penyedia sehingga stok menipis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di rumah sakit Tabanan ada dokter namanya Bu Ayu yang bilang banyak obat habis, termasuk obat untuk orang stroke. Rumah sakit susah beli obat karena uang dari BPJS telat datang, jadi belum bisa bayar ke tempat jual obat. Bupati Tabanan minta maaf ke orang-orang dan bilang semoga nanti semuanya jadi lebih baik lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tabanan, IDN Times - Dokter senior di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tabanan, dr Ni Ketut Ayu Sudiariani SpN, mengeluhkan mengenai adanya kekosongan obat. Dalam voice note yang beredar di media sosial (medsos), Ayu menceritakan obat di RSUD Tabanan mulai kosong satu per satu. Satu di antaranya Obat Citicoline.

Dalam voice note tersebut, ia berharap ada penyelesaian yang dihadapi RSUD Tabanan. Dikonfirmasi mengenai voice note yang viral tersebut, Ayu menyatakan bukan hanya Obat Citicoline saja yang kosong.

"Obat ini hanya satu yang kosong. Masih ada lagi yang lain," ujarnya, Rabu (11/3/2026).

Ia menyebutkan, Citicoline diberikan kepada pasien stroke yang berfungsi sebagai "brain protection". Seperti apa sebenarnya pengadaan obat di RSUD Tabanan? Lalu, di tengah masalah klaim Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang terlambat, bagaimana RSUD Tabanan mememenuhi ketersediaan obatnya? Berikut jawaban Wakil Direktur (Wadir) Penunjang RSUD Tabanan, I Gede Gusnawa.

1. Pengadaan obat RSUD Tabanan diutamakan yang tercantum dalam fomularium nasional

ilustrasi obat obatan (pexels.com/pixabay)

RSUD Tabanan biasanya melakukan pengadaan obat generik sesuai dengan fomularium nasional. Sementara untuk pengadaan obat yang tidak termasuk dalam fomularium nasional, bisa ditambahkan oleh rumah sakit melalui fomularium rumah sakit.

"Untuk obat-obat yang masuk dalam fomularium nasional hingga saat ini stoknya tersedia. Sementara yang tidak bisa kita lakukan lebih banyak pengadaan obat-obat yang masuk ke dalam fomularium rumah sakit," ujar Gusnawa.

Mekanisme pengadaan obat ini juga melalui e-katalog mengikuti Peraturan Presiden (Pepres) Nomor 46 Tahun 2025 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

"Pengadaan obat melalui e-katalog ini sudah kita lakukan dari bulan Januari dan berproses sampai sekarang. Tetapi karena terjadinya pembayaran obat yang tersendat, ada beberapa paket obat yang tidak direspon oleh penyedia. Salah satunya obat yang disebutkan dalam voice note tersebut," kata Gusnawa.

2. RSUD Tabanan juga memiliki piutang yang tidak tertagih

Ilustrasi Orang Sedang Manajemen Piutang (Pexels.com/Mikhail Nilov)

Kekosongan obat di RSUD Tabanan karena kelerlambatan pencairan klaim BPJS Kesehatan. Hal ini berujung pada cash flow RSUD Tabanan yang bermasalah, sehingga tidak bisa membayar utang obat ke beberapa vendor. Akibatnya, ada vendor yang tidak mau merespon pengadaan obat RSUD Tabanan di e-katalog.

Selain utang, RSUD Tabanan ternyata juga memiliki piutang yang tidak tertagih sekitar Rp5 miliar. Direktur RSUD Tabanan, dr I Gede Sudiarta, mengatakan piutang ini berasal dari pasien yang datang ke RSUD Tabanan, tetapi diagnosanya tidak sesuai dengan kategori yang ditanggung BPJS.

"Misalnya pasien panas emergency. Datang ke IRD dengan suhu 39,5 derajat celsius. Tetapi kategori yang ditanggung BPJS adalah 40 derajat celsius. Tentunya pasien tidak bisa kami suruh pulang. Tetap kami rawat, hanya saja perawatannya menjadi tidak bisa diklaim ke BPJS dan ditanggung pihak rumah sakit," kata Sudiarta.

Contoh lainnya adalah pasien kecelakaan lalu lintas yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan. Awalnya pasien mau memakai pasien umum. Namun setelah sembuh dan diperbolehkan pulang, pasien tidak mampu membayar.

"Untuk kasus ini kami tentu tidak bisa menahan pasien, dan pembiayaan ini menjadi ditanggung rumah sakit," kata Sudiarta.

3. Bupati Tabanan meminta maaf kepada masyarakat Tabanan

Bupati Tabanan, Komang Gede Sanjaya, saat meresmikan gedung UPTD Puskesmas Tabanan II (Dok.Humas Tabanan)

Mengenai kekosongan obat yang terjadi di RSUD Tabanan, Bupati Tabanan, Komang Gede Sanjaya, menyampaikan permintaan maafnya kepada masyarakat Tabanan. Kekosongan ini kata Sanjaya karena keterlambatan klaim BPJS Kesehatan akibat perubahan input data dari manual ke digitalisasi. Sanjaya berharap kejadian ini bisa menjadi pembelajaran bersama.

"Sekarang ini kan semua berbasis teknologi. Tujuannya mungkin untuk akurasi, transparansi, dan lain-lain. Jadi jika ada sedikit persoalan-persoalan, saya atas nama Bupati, Wakil Bupati, dan jajaran pemerintah daerah meminta maaf. Mudah-mudahan ke depan pelayanan bisa lebih baik lagi," katanya.

Ia menegaskan jika pihaknya juga sudah memberikan peringatan kepada direktur dan jajaran direksi RSUD Tabanan.

"Apa pun yang menjadi acuan Pemerintah Pusat harus diatensi dan dilaksanakan. Jangan teknologi dijadikan alasan ketidakmampuan. Apabila tidak mengerti, cari tenaga ahli yang mengerti," ujarnya.

Editorial Team