Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Paparkan Foto Gunungan Sampah Bali, Koster: Ini Perlu Kesadaran Kita
Gubernur Bali, Wayan Koster, dalam Rapat Paripurna ke-31 DPRD Provinsi Bali Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025-2026. (IDN Times/Yuko Utami)
  • TPA Suwung berhenti menerima sampah organik sejak 1 April 2026, membuat warga Denpasar dan Badung wajib mengelola sampah organik secara mandiri meski masih terkendala fasilitas dan sosialisasi.
  • Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup telah menertibkan aksi pembakaran sampah yang viral di media sosial sebagai respons atas penumpukan sampah di berbagai titik.
  • Dalam rapat DPRD Bali, Koster menunjukkan foto gunungan sampah dan menyoroti pentingnya pengelolaan lingkungan agar ekonomi pariwisata, infrastruktur, serta sistem transportasi dapat berkembang berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali melakukan penertiban terhadap warga yang membakar sampah, setelah muncul keluhan dan video pembakaran di berbagai lokasi Kota Denpasar.
  • Who?
    Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan bahwa Kepala Dinas Lingkungan Hidup telah menertibkan warga, serta menyoroti kondisi pengelolaan sampah di Bali.
  • Where?
    Kejadian berlangsung di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, dengan pernyataan resmi disampaikan di Gedung DPRD Provinsi Bali.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Senin, 6 April 2026, setelah TPA Suwung berhenti menerima sampah organik sejak 1 April 2026.
  • Why?
    Tindakan dilakukan karena muncul tumpukan dan pembakaran sampah akibat masyarakat harus mengelola sampah organik sendiri tanpa fasilitas memadai.
  • How?
    Dinas Lingkungan Hidup melakukan penertiban langsung di lapangan, sementara Gubernur Koster menampilkan foto kondisi gunungan sampah untuk meningkatkan kesadaran publik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung tidak menerima sampah organik sejak 1 April 2026 lalu. Masyarakat di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung harus mengelola sampah organik secara mandiri. Namun, ada sejumlah kendala seperti keluhan tidak ada sosialisasi, hingga fasilitas pengelolaan sampah organik yang tidak memadai. 

Beredar juga tumpukan sampah di sejumlah titik Kota Denpasar. Video pembakaran sampah juga muncul di berbagai media sosial. Menanggapi hal itu, Gubernur Bali, Wayan Koster, mengatakan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali telah melakukan penertiban.

“Sudah ditertibkan oleh Kadis LH (Kepala Dinas Lingkungan Hidup),” ujar Koster di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali, pada Senin (6/4/2026).

Koster mengakui masalah sampah di Bali

Koster tunjukkan sampah yang ada di Bali. (IDN Times/Yuko Utami)

Sebelumnya, Koster mengakui Bali menghadapi menghadapi masalah sampah dan persoalan lainnya sebagai imbas dari perkembangan pariwisata di Bali.

“Kemudian sampah juga semakin banyak, kerusakan ekosistem lingkungan, ancaman ketersediaan energi bersih,” kata Koster. 

Selain masalah lingkungan, Koster tidak menampik Bali menghadapi masalah kriminalitas, hingga kesenjangan ekonomi antara wilayah pariwisata dan di luar pariwisata.

Tunjukkan gunungan sampah di Bali

Ilustrasi sampah di Pantai Kedonganan, Kabupaten Badung. (IDN Times/Yuko Utami)

Melalui pemaparannya di Ruang Sidang Utama Gedung DPRD Bali, Koster menunjukkan foto gunungan sampah di Bali. Mulai dari kawasan perkotaan, hingga di area pantai yang merupakan tempat wisata.

“Kayak gini nih kondisinya. Ini waktu Minggu lalu. Sudah kelihatan buruknya ini. Ini sengaja supaya ini menjadi kesadaran bagi kita semua betapa sampah harus kita kelola baik dengan ketegasan dan kebersamaan,” paparnya.

Koster singgung ekonomi membaik berdampak ke hal lain

Petugas kebersihan di Pasar Badung, memilah sampah tanpa alat pelindung diri. (IDN Times/Yuko Utami)

Gubernur Bali dua periode ini mengatakan bahwa dengan menjaga ekonomi Bali, khususnya lokasi wisata secara maksimal, maka akan berdampak baik juga ke hal lainnya.

“Kalau saja kita menjaga ekonomi tempat wisata ini dengan baik, sampah berkurang dengan baik, infrastruktur bisa dibangun, transportasi bisa dibangun, dan sistemnya di luar negeri baik, saya kira harus maka inilah yang terus berkembang secara berkelanjutan ke depan,” paparnya.

Editorial Team