Ada 199 Kasus DBD di Tabanan, Renggut Satu Nyawa Anak

Gejala DBD gak selalu muncul bintik merah lho

Tabanan, IDN Times - Kabupaten Tabanan mencatat kasus kematian akibat Demam Berdarah Denque (DBD) pada tahun 2023 ini. Seorang anak berusia tujuh tahun dari Banjar Dinas Taman Sekar, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan dilaporkan meninggal karena DBD pada Maret 2023 lalu.

Kematian ini adalah kasus pertama yang terjadi di Kabupaten Tabanan sepanjang tahun 2023. Sementara kasus kematian DBD nihil terjadi di tahun 2022.

Baca Juga: DBD di Bali Renggut Nyawa 3 Anak dan Seorang Bayi

1. Tercatat 199 kasus DBD selama tahun 2023

Ada 199 Kasus DBD di Tabanan, Renggut Satu Nyawa AnakIlustrasi pasien DBD (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha)

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Tabanan dari Januari hingga 17 April 2023 terdata sebanyak 199 kasus DBD di Kabupaten Tabanan dengan rincian:

  • Januari:  79 kasus
  • Februari: 46 kasus
  • Maret: 56 kasus (kematian satu kasus)
  • April (hingga 17 April): 18 kasus.

Jika dibandingkan bulan yang sama tahun 2022 mengalami peningkatan. Berikut ini kasus DBD sepanjang tahun 2022 sebanyak 64 kasus dengan rincian:

  • Januari: 13 kasus
  • Februari: 1 kasus
  • Maret: nihil
  • April: 50 kasus.

Kabid Penanganan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Tabanan, dr Ketut Nariana, mengatakan kenaikan kasus DBD tahun 2023 ini karena cuaca yang panas diselingi hujan. Cuaca seperti ini mendukung tumbuh kembangnya vektor DBD, yaitu nyamuk aedes aegypti.

"Sehingga diharapkan selain meningkatkan daya tahan tubuh, masyarakat harus rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk," ujarnya, Senin (17/4/2023).

2. Korban yang meninggal akibat DBD sempat dirawat di RSUD Tabanan

Ada 199 Kasus DBD di Tabanan, Renggut Satu Nyawa AnakRSUD Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Pelaksana Teknis (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Tabanan sekaligus Wakil Direktur Pelayanan RSUD Tabanan, dr Ida Bagus Surya Wira Andi, mengatakan pasien DBD yang meninggal Maret 2023 lalu sempat mendapatkan perawatan di ICU RSUD Tabanan.

"Pasien sudah mendapatkan penanganan sesuai protap (prosedur tetap) DBD dan sempat dirawat di ICU. Pasien mengalami pendarahan di organ dalam sehingga muntah dan berak darah," katanya, Senin (17/4/2023).

Bagus Surya memaparkan, pendarahan di organ dalam ini tidak bisa langsung terdeteksi. Umumnya diketahui ketika pasien muntah atau berak darah.

"Untuk kasus kematian Maret kemarin kemungkinan pasien mengalami dehidrasi dan juga mengalami obesitas," jelasnya.

3. Gejala DBD yang patut diwaspadai

Ada 199 Kasus DBD di Tabanan, Renggut Satu Nyawa Anakfoto hanya ilustrasi (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Gejala DBD saat ini tidak selalu menimbulkan bintik merah pada lengan dalam. Menurut Bagus Surya, hal yang patut diwaspadai adalah ketika panas yang tidak turun-turun selama tiga hari meski sudah dibawa ke dokter dan diberikan obat penurun panas.

'"Kalau panas tiga hari tidak turun juga, segera lakukan cek darah untuk memastikan apakah DBD," terangnya.

Tantangan dalam merawat pasien DBD adalah menjaga agar mereka tetap mendapatkan asupan cairan sehingga tidak mengalami dehidrasi. Sebab jika dehidrasi, maka kemungkinan terjadinya pendarahan di organ dalam menjadi lebih besar. Biasanya akan lebih sulit memberikan cairan kepada pasien DBD anak-anak, makanya diperlukan perhatian dan usaha ekstra dari orangtua.

"Jaga agar asupan cairan anak tetap terjaga selama sakit. Bisa berikan anak minuman larutan atau jus," jelasnya.

Sementara itu dalam menangani kasus DBD di Tabanan, pihak Dinas Kesehatan Tabanan telah menjadwalkan fogging dan ULV pada tahun 2023 ini. Selain itu juga selalu mengingatkan masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin. Sebab fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, bukan telur dan jentiknya.

Topik:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya