Makna Filosofis 3 Ogoh-Ogoh Peraih Juara Festival Singasana III

- Festival Ogoh-Ogoh Singasana III menetapkan juara: Baturiti meraih juara I, Tabanan juara II, dan Kediri juara III berdasarkan detail anatomi, aksesori, serta harmonisasi warna karya.
- Ogoh-Ogoh Adhikara Grahana dari Baturiti mengisahkan asal-usul Rahwana dan simbol pergantian kekuasaan yang menggambarkan perubahan nasib kerajaan Alengka secara dramatis.
- Karya Ngerejeg Bhoma Palatra dan Kunti Seraya menonjolkan tema keseimbangan alam serta perjuangan melawan kegelapan batin melalui kisah mitologi penuh makna spiritual.
Tabanan, IDNTimes- Juara Festival Ogoh-Ogoh Singasana III telah ditetapkan oleh para juri. Juara I adalah ogoh-ogoh dari Kecamatan Baturiti, juara II adalah ogoh-ogoh dari Kecamatan Tabanan, dan ogoh-ogoh dari Kecamatan Kediri mendapat juara III.
Menurut tim juri, I Gede Arum Gunawan, penilaian lebih cenderung kepada detail anatomi, detail aksesori, dan harmonisasi warna.
"Kalau soal paparan dan keunikan ide, semua ogoh-ogoh yang menjadi perwakilan kecamatan ini sudah bagus. Saat ini penilaian lebih melihat keaktraktifan daripada ogoh-ogoh. Dikarenakan ogoh-ogoh senirupa tiga dimensi yang bisa dilihat segala sisi. Jadi penonton harus bisa menikmati ogoh-ogoh dari segala sisi," katanya, Minggu (15/3/2026).
Berikut ini filosofi ogoh-ogoh yang meraih juara di Festival Ogoh-Ogoh Singasana III.
1. Ogoh-Ogoh Adhikara Grahana dari Kecamatan Baturiti meraih juara 1

Ogoh-Ogoh Adhikara Grahana merupakan karya dari ST Darma Bhakti dari Banjar Mojan, Desa Mekarsari, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Karya ini menceritakan asal-usul Sang Rahwana. Dimulai dari cerita Dewi Sukesi, putri Ida Bhagawan Semali yang penuh kesucian, dan menikah dengan Ida Bhagawan Wisrawa ( cerdas dan suci).
Wisrawa sebelumnya telah menikahi Dewi Ilawati. Lutranya adalah Sang Kuwera (Dewa Kemakmuran), dan memerintah di Alengka bersama pasukan raksasa yang kuat. Kemudian, Dewi Sukesi melahirkan Sang Rahwana yang awalnya sedih. Rahwana kemudian melakukan tapa yoga yang panjang dan sungguh-sungguh.
Selama tapa itu, dia bertemu Kapi Raja Subali, dan keduanya meminta panugrahan dari Ida Sang Hyang Siwa. Setelah mendapatkan panugrahan, Rahwana menguasai pasukan raksasa Alengka, menggusur Sang Kuwera, dan menjadi Raja Alengka.
Inilah permulaan petualangan yang mengarah pada nama Adhikara Grahana. Di mana kekuasaan ditaklukkan, otoritas diambil alih, dan nasib sebuah kerajaan berubah dalam sekejap.
Siapa yang berhak memerintah Alengka? Bagaimana kesengsaraan mengubah semua dalam sekejap? Apakah ini hanya hasrat kekuasaan, atau ada alasan tersembunyi? Inilah permulaan kisah Adhikara Grahana yang berarti pergantian kekuasaan yang mengejutkan.
2. Ogoh-Ogoh Ngerejeg Bhoma Palatra dari Kecamatan Tabanan meraih juara II

Ogoh-Kgoh Ngerejeg Bhoma Palatra merupakan karya dari ST Tri Wikrama dari Banjar Kamasan, Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan. Karya ini menurut Kakawin Bomantaka mengisahkan putra dari Dewa Wisnu dan Dewi Pertiwi bernama Sang Bhoma. Ia adalah putra sang Ibu Bumi yang penuh kasih dalam pengembaraan Dewa Wisnu mencari dasar lingga. Dari persatuan suci itulah lahir sosok perkasa penjaga bumi, Bhoma, yang awalnya memiliki tujuan mulia untuk melindungi alam semesta dan keseimbangan kehidupan.
Seiring waktu, kekuatan Bhoma berubah menjadi kesombongan. la merasa dirinya penguasa tertinggi, ingin menaklukkan para dewa, dan menjadikan bumi sebagai tahtanya. Keangkuhannya menimbulkan kekacauan dan penderitaan bagi makhluk hidup. Melihat itu, para dewa memohon kepada Dewa Wisnu untuk memulihkan keseimbangan alam.
Dewa Wisnu pun turun ke medan rananggana (perang suci), menyerang (ngrejeg) Sang Bhoma dalam wujud-Nya sebagai Wisnu Murti, berwajah seribu, bertangan seribu, dan didampingi oleh wahana setianya Sang Garuda yang melambangkan kebijaksanaan tak terbatas dan kekuatan dharma yang tak tergoyahkan untuk membebaskan umat manusia dari penderitaan.
Terjadilah pertempuran hebat antara Bhoma dan Wisnu Murti pertarungan antara kegelapan dan cahaya, antara adharma (keburukan) dan dharma (kebaikan).
Dalam puncak peperangan, Bhoma terluka parah oleh Cakra Wisnu yang mengenai bagian dadanya. Di saat-saat terakhirnya, bumi bergetar dan langit menangis. Dewi Pertiwi muncul dari perut bumi, melihat keadaan putranya yang sekarat. Dengan air mata kesedihan, ia berkata "Anakku, engkau lahir dari bumi dan akan kembali kepadaku. Semoga dari kehancuranmu, tumbuh kemball kehidupan yang suci."
Bhoma pun gugur dengan hormat dalam peperangan tersebut. Dari darahnya yang jatuh ke tanah, tumbuh tunas-tunas hijau baru simbol pemulihan alam dan ahirnya kembali kesucian bumi. Momen Inilah yang disebut Ngerejeg Bhoma Palatra, yakni kematian (gugur) Bhoma di medan perang suci. Bbukan sekadar akhir kehidupan, melainkan pembersihan sifat adharma dari muka bumi dan dari hati manusia, sekaligus menjadi awal dari kelahiran kehidupan baru yang lebih mulia dan bermanfaat.
3. Ogoh-Igoh Kunti Seraya dari Kecamatan Kediri meraih juara III

Ogoh-Igoh Kunti Seraya merupakan karya STT Permata dari Banjar Tanah Bang, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Karya ini mengisahkan jagat raya berdiri di ambang perang agung Bharatayudha. Ketika langit seakan menahan napas dan bumi bergetar menanti takdirnya, turunlah dua kekuatan dahsyat ke dunia fana: Kalantaka dan Kalanjaya.
Mereka bukan sekadar raksasa penebar teror, melainkan jelmaan makhluk kahyangan yang terkutuk karena tidak bisa mengontrol hawa nafsu. Dari cahaya mereka jatuh ke jurang kegelapan; dari kemuliaan mereka berubah menjadi amarah yang membara.
Kehadiran mereka segera dimanfaatkan oleh ambisi Kurupati yang haus kemenangan. Sejak saat itu, udara Indraprastha terasa berat dan muram. Malam-malam dipenuhi lolongan yang menggema di antara bayang, angin membawa bisikan firasat buruk, dan hati para Pandawa diliputi kegelisahan yang tak terucap-seolah alam sendiri merasakan goyahnya keseimbangan dharma.
Melihat ancaman itu, Batara Narada menuntun Dewi Kunti memohon petunjuk kepada Dewi Durga, pada hari suci yang dipenuhi kekuatan gaib. Namun permohonan keselamatan itu dibalas dengan syarat yang mengiris batin. Sahadewa, Putra Dewi Kunti, harus dijadikan sebagai gantinya.
Hati Kunti terbelah antara cinta seorang ibu dan kewajiban menjaga dharma. Ia menolak dengan seluruh kasihnya. Tetapi penolakan itu justru membuka celah bagi kegelapan. Energi Kalika merasuki dirinya, mengaburkan kesadaran, membangkitkan emosi dalam diri hingga tanpa daya ia menyeret dan membawa Sahadewa ke hadapan Dewi Durga.
Namun sesungguhnya, yang diminta bukanlah pengorbanan darah. Dewi Durga menghendaki pembebasan dari sisi gelap yang menyelimuti dirinya sendiri. Sahadewa, dengan kerendahan hati, merasa tak layak memikul tugas sebesar itu. Hingga akhirnya kekuatan Siwa menyatu dalam dirinya, memberi keberanian dan kesucian niat.
Melalui tangan Sahadewa, pengruwatan pun terlaksana. Kegelapan pun luruh, murka menjelma cahaya. Durga kembali pada wujud sucinya sebagai Dewi Uma yang lembut, penuh kasih, dan memancarkan terang kedamaian.
Dari peristiwa agung itu lahirlah ajaran yang mendalam: bahwa kegelapan bukanlah sesuatu yang harus dimusnahkan, melainkan disucikan. Bahwa kemenangan dharma tidak selalu ditegakkan dengan pedang, tetapi dengan kesadaran, ketulusan, dan keberanian menaklukkan sisi gelap dalam diri.
Dengan restu para dewa, para Pandawa pun melangkah menuju Kurukshetra bukan sekadar untuk berperang, melainkan untuk menegakkan kembali keseimbangan darma.


















