Jelang Nyepi, FKUB Imbau Pecalang Bertindak Persuasif dan Humanis

- Menjelang Nyepi 2026, FKUB Bali mengimbau pecalang di seluruh desa adat bertindak persuasif dan humanis dalam menjaga ketertiban serta menghadapi pelanggaran yang mungkin terjadi.
- Keterlibatan pecalang perempuan mulai terlihat di beberapa desa adat, meski jumlahnya masih terbatas dibandingkan pecalang laki-laki, sebagai bentuk emansipasi dan partisipasi aktif perempuan.
- Polda Bali menegaskan kolaborasi antara pecalang dan aparat negara melalui program Sipandu Beradat untuk memastikan keamanan selama perayaan Nyepi dan Idul Fitri berlangsung aman dan damai.
Denpasar, IDN Times - Menjelang pelaksanaan hari suci Nyepi, pecalang sebagai penjaga keamanan di setiap desa adat agar bertindak persuasif dan humanis. Hal tersebut disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali, Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet. Selain bertugas saat pelaksanaan Nyepi, keberadaan pecalang juga turut menjaga ketertiban saat takbiran menyambut Idulfitri.
“Jadi pecalang ada mengawal ada yang turun nanti. Pasti pecalang turun dan bersama peserta nanti ya tokoh-tokoh agama di situ juga, baik yang dari Islam maupun dari ini (Hindu) jadi mengawal semuanya. Mudah-mudahan aman dan damai,” ujar Sukahet pada Sabtu (7/3/2026) di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar.
1. Pecalang bertindak persuasif dan humanis

Sukahet menjelaskan, pelaksanaan Nyepi setiap tahun masih menemukan pelanggaran-pelanggaran. Ia menyebutkan, wisatawan mancanegara (wisman) yang belum memahami esensi perayaan Nyepi juga ada yang melanggar selama Nyepi tahun lalu.
Meskipun demikian, Sukahet menanggapi pelanggaran-pelanggaran saat Nyepi mungkin terjadi dan tidak ada yang sempurna. Ia mengimbau para pecalang agar pelanggaran saat Nyepi, ditangani secara persuasif dan humanis.
“Arahan dan kita semua itu hukum harus humanis. Ya, kita sesama umat manusia, umat beragama sama-sama. Jadi kalau tahu, ada yang mungkin gak ngerti atau keliru, beritahu secara humanis,” ujar Sukahet.
2. Pecalang perempuan belum ada di seluruh desa adat Bali

Selama pelaksanaan Gelar Agung Pecalang se-Bali Tahun 2026, pecalang perempuan juga terlibat dalam pengamanan Nyepi maupun Idul Fitri di desa adat masing-masing. Sukahet menjelaskan, keterlibatan pecalang perempuan adalah inisiatif dari masing-masing Bendesa Adat (Kepala Adat).
Namun, jumlah pecalang perempuan hanya ratusan orang, sedangkan jumlah pecalang laki-laki saat ini masih mendominasi hingga ribuan orang. “Mudah-mudahan nanti semakin ditiru yang baik begini, jadi emansipasi pecalang,” kata dia.
3. Kolaborasi pecalang dan aparat negara

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Bali Daniel Adityajaya, menjelaskan kolaborasi pecalang dan aparat negara untuk menjaga keamanan dan ketertiban tertuang dalam Sipandu Beradat (Sistem pengamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat).
“Sipandu Beradat itu merupakan konsep yang bagus ya sinergitas antara Polri dan masyarakat, khususnya dalam hal ini pecalang,” ujar Daniel pada Sabtu (7/3/2026) di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar.
Menjelang perayaan Nyepi dan Idul Fitri 2026 di Bali, kolaborasi pecalang dan aparat negara setiap tahun telah menjadi koordinasi rutin. Daniel berharap agar pelaksanaan setiap hari raya berjalan lancar.
“Semua sudah kita lakukan seperti tahun lalu, semoga bisa berjalan dengan baik, lancar, dan tidak ada masalah,” imbuh Daniel.
















