Nyepi Kemungkinan Bareng Takbiran, Ini Seruan FKUB Bali

- FKUB Bali mengeluarkan seruan bersama terkait pelaksanaan Nyepi Tahun Saka 1948 yang kemungkinan bertepatan dengan malam Takbiran Idulfitri 1447 Hijriah, disetujui oleh berbagai pihak di Bali.
- Takbiran diperbolehkan dengan syarat ketat seperti tanpa pengeras suara, tanpa petasan, berjalan kaki ke masjid terdekat, dan menjaga suasana hening agar Nyepi tetap khidmat.
- Pemerintah masih menunggu hasil sidang isbat untuk memastikan waktu Idulfitri, sementara FKUB dan Kemenag Bali terus mensosialisasikan seruan toleransi agar kedua perayaan berjalan harmonis.
Denpasar, IDN Times - Perayaan Nyepi tahun ini kemungkinan besar berbarengan dengan malam Takbiran. Menindaklanjuti hal itu Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali, mengeluarkan Seruan Bersama tentang Pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948/Tahun 2026 yang Bertepatan dengan Malam Takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah. Seruan dari FKUB Provinsi Bali ditetapkan bersama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali I Gusti Made Sunartha. Sepengetahuan Gubernur Bali Wayan Koster, Kepala Kepolisian Daerah Bali Daniel Adityajaya, dan Komandan Komando Resor Militer 163/Wira Satya Ida I Dewa Agung Hadisaputra.
Ketua FKUB Provinsi Bali, Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet menegaskan sejumlah syarat ketat malam takbiran saat Nyepi di Bali, tidak akan mengurangi makna takbiran. “Jadi pada prinsipnya takbiran boleh tetapi dengan syarat yang cukup ketat tanpa mengurangi makna takbiran itu sendiri,” ujar Sukahet pada Sabtu (7/3/2026) di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar.
1. Aturan takbiran saat Nyepi
Menurut Sukahet dokumen tersebut mengatur sejumlah ketentuan hari suci Nyepi dan Idulfitri. Satu di antaranya membahas tentang syarat malam takbiran jika terlaksana bertepatan dengan Nyepi. Syarat tersebut seperti berjalan kaki ke masjid terdekat, tanpa pengeras suara, tanpa kebisingan seperti petasan atau mercon, dan lampu masjid diarahkan ke sisi dalam.
“Selesai, langsung balik ke rumah mengikuti lagi. Tidak boleh keluar rumah lagi. Jadi sudah sungguh menjadi barometer toleransi dan kerukunan Bali untuk Indonesia. Nyepi itu sendiri berjalan, tidak ternodai dengan acara takbiran itu. Sama-sama jalan,” kata Sukahet.
2. Pelaksanaan Nyepi dan Idulfitri yang berdekatan dapat berjalan selaras

Adapun, agenda Gelar Agung Pecalang se-Bali Tahun 2026 menjadi momentum bagi pecalang untuk terlibat menjaga ketertiban jelang hari suci Nyepi dan Idulfitri.
Sukahet mengatakan pelaksanaan Nyepi dan Idulfitri yang berdekatan dapat berjalan selaras penuh harmoni toleransi.
Perayaan hari suci di Bali kata Sukahet agar senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
3. Tunggu putusan pemerintah

Sebelumnya, Ketua Tim Kerja Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kemenag Bali Wina Maya Lestari menyampaikan imbauan pelaksanaan takbiran di Bali dalam seruan bersama sebagai langkah antisipasi. Antisipasi tersebut jika ada umat muslim di Bali yang melaksanakan takbiran lebih awal dan bersamaan dengan hari suci Nyepi.
“Umat muslim mungkin ada yang merayakan Idulfitri lebih dulu. Jadi untuk mengantisipasi ya meski tidak semua karena keyakinan” ujar Wina kepada IDN Times Selasa (3/3/2026) lalu.
Meskipun telah mensosialisasikan seruan bersama, satu sisi Wina menegaskan semua tergantung dari pengumuman Pemerintah Pusat. Penantian sidang isbat pelaksanaan rangkaian Idulfitri akan menjadi penentu, surat seruan dilaksanakan maupun tidak.
“Kemudian kita harus tetap mensosialisasikan seruan ini bersama ini. Jangan sampai nanti ada yang merasa tidak menerima atau seperti apa. Juga ini sebenarnya seruan ini sudah kita terima setiap tahun ya,” kata Wina.

















