Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

10 Bahasa Bali Tentang Galungan dan Kuningan

10 Bahasa Bali Tentang Galungan dan Kuningan
Prosesi Galungan di salah satu desa di Bali. (unsplash.com/Ruben Hutabarat)
Intinya Sih
  • Hari Raya Galungan dan Kuningan dirayakan umat Hindu Bali pada 23 April 2025 sebagai simbol kemenangan Dharma melawan Adharma.
  • Artikel memperkenalkan sepuluh kosakata Bahasa Bali terkait tradisi Galungan dan Kuningan, seperti mebat, majejahitan, mebanten, hingga melali.
  • Setiap istilah menggambarkan aktivitas keagamaan dan sosial khas Bali, mulai dari persiapan upacara, sembahyang, silaturahmi, hingga kegiatan setelah perayaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Umat Hindu di Bali akan merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan pada 23 April 2025. Hari ini merupakan simbol kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan).

Ada baiknya kita mengenal kosakata Bahasa Bali tentang Galungan dan Kuningan. Apa saja? Berikut daftarnya!

Table of Content

1. Mebat atau ngelawar artinya membuat masakan lawar atau masakan tradisional khas Bali lainnya

Mebat menjadi tradisi yang selalu hadir saat pelaksanaan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Mebat biasanya dilaksanakan saat penampahan Galungan atau sehari sebelum Hari Raya Galungan.

Kosakata lainnya yang terkait mebat ini adalah penampahan yang berarti menyembelih. Biasanya menyembelih daging babi.

2. Majejahitan artinya membuat sarana upacara yang berasal dari janur

Ilustrasi umat Hindu mempersiapkan sarana upacara. (unsplash.com/Cok Wisnu)
Ilustrasi umat Hindu mempersiapkan sarana upacara. (unsplash.com/Cok Wisnu)

Majejahitan biasanya dilakukan oleh para perempuan. Majejahitan menggunakan sarana janur, dan terkadang daun jaka muda atau ambu. Janur ini dipotong dan dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi menjadi sarana upacara.

Contohnya adalah membuat alas atau wadah canang, hiasan penjor, gantung-gantungan, sampian, dan lainnya.

3. Metanding artinya membuat sarana upacara. Dalam hal ini merangkai beberapa bahan menjadi sarana upacara

Ilustrasi canang (unsplash.com/Polina Kuzovkova)
Ilustrasi canang (unsplash.com/Polina Kuzovkova)

Majejahitan atau metanding adalah kegiatan yang sama-sama membuat sarana upacara. Namun metanding membuat sarana upacara yang berasal dari berbagai macam sarana yang dijadikan satu. Contohnya adalah membuat canang, membuat banten, membuat pejati, dan lainnya.

4. Mebanten artinya menghaturkan sarana upacara

Prosesi upacara di salah satu desa di Bali. (unsplash.com/Ruben Hutabarat)
Prosesi upacara di salah satu desa di Bali. (unsplash.com/Ruben Hutabarat)

Saat Hari Raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu akan disibukkan oleh aktivitas mebanten atau menghaturkan sarana upacara. Sarana upacara ini dipersembahkan di berbagai tempat, dari area rumah hingga pura.

Hal ini bertujuan untuk mengucapkan terima kasih atas segala rahmat yang telah diberikan oleh Sang Penguasa serta alam sekitarnya.

5. Mebakti atau ngaturang sembah artinya bersembahyang

Ilustrasi umat Hindu saat upacara di Pura. (unsplash.com/Hakan Nural)
Ilustrasi umat Hindu saat upacara di Pura. (unsplash.com/Hakan Nural)

Selain mebanten, umat Hindu bersembahyang sebagai wujud bakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa beserta kekuatan suci-Nya dan para leluhur. Persembahyangan ini dimulai dari tempat suci yang ada di rumah, kemudian dilanjutkan ke pura yang ada di sekitarnya. Saat mebakti, umat Hindu menggunakan pakaian adat Bali yang sopan, bersih, dan sesuai etika yang berlaku.

6. Masimakrama artinya bersilaturahmi

Prosesi Galungan di salah satu desa di Bali. (unsplash.com/Ruben Hutabarat)
Prosesi Galungan di salah satu desa di Bali. (unsplash.com/Ruben Hutabarat)

Sehari setelah Hari Raya Galungan dan Kuningan disebut dengan Manis Galungan dan Manis Kuningan. Pada hari suci ini, umat Hindu biasanya akan mengunjungi keluarga atau kerabat dekatnya untuk masimakrama atau bersilaturahmi. Hal ini bertujuan untuk menjalin rasa persaudaraan.

7. Makedas-kedas atau mabersih atau mareresik artinya bersih-bersih

Ilustrasi alat pembersih. (Pixabay.com/Mariakray)
Ilustrasi alat pembersih. (Pixabay.com/Mariakray)

Untuk menyambut pelaksanaan Hari Raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu akan melakukan bersih-bersih atau mekedas-kedas. Makedas-kedas dimulai dari lingkungan rumah, hingga ke lingkungan pura dan sekitarnya.

Tentunya, saat pelaksanaan Hari Raya Galungan dan Kuningan, lingkungan sekitar kita akan terlihat bersih yang akan menambah kekhusyukan hari raya tersebut.

8. Ngelungsur atau nyurud artinya mengambil sarana upacara yang telah selesai dipersembahkan

Sarana upacara atau banten. (unsplash.com/Artem Beliaikin)
Sarana upacara atau banten. (unsplash.com/Artem Beliaikin)

Usai melakukan persembahyangan Galungan dan Kuningan, umat hindu akan mengambil kembali sarana upacaranya atau sering disebut dengan ngelungsur. Sarana upacara yang telah dihaturkan ini disebut dengan lungsuran.

Biasanya lungsuran akan dinikmati bersama untuk memohon berkah dari sarana upacara yang telah dihaturkan.

9. Nanceb penjor artinya memasang penjor

Penjor yang terpasang dijalur KTT G20 pada Senin (14/11/2022). (IDN Times/Ni Ketut Sudiani)
Penjor yang terpasang dijalur KTT G20 pada Senin (14/11/2022). (IDN Times/Ni Ketut Sudiani)

Penjor menjadi satu di antara sarana upacara yang wajib ada setiap pelaksanaan Galungan dan Kuningan. Umat Hindu akan melakukan pemasangan penjor atau nanceb saat Penampahan Galungan. Ada juga yang memasang saat Penyajaan Galungan (dua hari sebelum Galungan).

10. Melali artinya berwisata

Ilustrasi kolam renang
Ilustrasi kolam renang (Pexels/Michael Yo)

Setelah melaksanakan prosesi Galungan dan Kuningan, biasanya umat Hindu akan berlibur atau berwisata selain bersilaturahmi. Kegiatan ini dilakukan sehari setelah Hari Raya Galungan dan Kuningan yaitu saat Manis Galungan atau Manis Kuningan.

Kata melali juga bisa memiliki makna bermain. Contohnya Ani melali ke umahne Kadek, artinya Ani bermain ke rumahnya Kadek.

Itulah beberapa kosakata Bahasa Bali tentang Hari Raya Galungan dan Kuningan. Untuk diketahui, kedua hari raya itu jatuh setiap 210 hari sekali yaitu tepatnya untuk Galungan pada Rabu, Buda Kliwon, wuku Dungulan. Sedangkan Kuningan jatuh pada Sabtu, Saniscara Kliwon, Wuku Kuningan.

FAQ Seputar Bahasa Bali Tentang Galungan dan Kuningan

Apa arti dari kata "Galungan" dan "Kuningan" itu sendiri berdasarkan asal bahasanya?

Kata Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti bertarung atau perjuangan. Hari raya ini juga sering disebut Dungulan yang berarti menang (kemenangan Dharma atas Adharma). Sementara kata Kuningan berasal dari kata kuning yang bermakna kesucian, kebahagiaan, dan kemakmuran, serta dikaitkan dengan kata nguningang yang artinya pemberitahuan atau memohon keselamatan kepada para leluhur.

Apa yang dimaksud dengan "Penyekeban" dan "Penyajaan" sebelum Galungan?

Penyekeban (3 hari sebelum Galungan) berasal dari kata nyekeb yang artinya memeram (seperti memeram buah pisang). Secara filosofis, hari ini adalah waktu untuk nyekeb indriya atau mengekang hawa nafsu.Penyajaan (2 hari sebelum Galungan) berasal dari kata saja yang artinya sungguh-sungguh. Hari ini bermakna memantapkan diri secara bersungguh-sungguh dalam menyambut hari raya, meski secara praktis masyarakat mulai membuat jajan (kue) adat untuk persembahan.

Apa perbedaan antara "Sugihan Jawa" dan "Sugihan Bali" dalam rangkaian hari raya?

Istilah sugi berarti bersih/suci.Sugihan Jawa (6 hari sebelum Galungan) berasal dari kata Jaba (luar), yang artinya hari untuk menyucikan lingkungan alam semesta atau benda-benda di luar diri manusia (Bhuana Agung).Sugihan Bali (5 hari sebelum Galungan) berasal dari kata Wali/Dalam, yang artinya hari untuk menyucikan diri sendiri, baik secara lahir maupun batin (Bhuana Alit).

Apa arti kosakata "Ulihan" dan "Pemacekan Agung"?

Ulihan (dirayakan pada hari Minggu setelah Galungan) berasal dari kata ulih yang artinya pulang atau kembali. Hari ini merupakan simbol kembalinya para dewa dan leluhur ke kahyangan setelah melimpahkan anugerah kepada keturunannya.Pemacekan Agung (dirayakan pada hari Senin setelah Galungan) berasal dari kata pacek yang artinya tegar atau tancap. Hari ini melambangkan keteguhan iman umat Hindu setelah melewati berbagai godaan selama rangkaian Galungan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
Erick akbar
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani

Latest News Bali

See More