Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fakta Uyah Kusamba, Garam dari Bali

Kab. Klungkung
3 min read
Fakta Uyah Kusamba, Garam dari Bali
Petani garam di Klungkung. (IDN Times/Wayan Antara)
  • Uyah Kusamba adalah garam tradisional dari Desa Kusamba, Klungkung, yang dibuat turun-temurun dengan penjemuran alami. Air laut setempat memiliki mineral natrium berkualitas.
  • Produksi dilakukan dari pagi hingga petang: air laut disiram ke pasir, disaring menjadi air garam pekat, lalu dijemur di palungan sebelum dipanen dan dikemas.
  • Garam bertekstur halus dengan rasa sedikit manis ini dijual Rp10.000–Rp25.000 per kilogram, namun petaninya menghadapi abrasi, cuaca tidak stabil, dan alih fungsi lahan pantai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Klungkung, IDN Times - Uyah (garam) Kusamba adalah garam tradisional yang dibuat secara turun-temurun menggunakan metode penjemuran alami (palungan) dan ramah lingkungan. 

Mengutip situs Ceraken Kebudayaan Bali, teknologi pembuatan garam sederhana sudah dikenal secara turun temurun di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.

Lebih dari sepuluh generasi telah menggeluti profesi sebagai petani garam di Kusamba. Seperti apa fakta lengkap soal garam ini? Yuk baca selengkapnya di bawah.

  1. 1. Desa Kusamba punya laut dengan mineral natrium berkualitas

    Ilustrasi petani garam di Klungkung. (IDN Times/Irma Yudistirani)
    Ilustrasi petani garam di Klungkung. (IDN Times/Irma Yudistirani)

    Desa Kusamba merupakan desa tua dengan topografi pantai pasir hitam. Air lautnya memiliki mineral natrium yang berkualitas bagus. Kondisi ekotipe natrium inilah menjadi potensi yang dikelola oleh petani garam dari generasi ke generasi hingga saat ini.

    Ceraken Kebudayaan Bali juga menuliskan bahwa di Desa Kusamba terdapat kelompok petani garam Sarining Segara. Kelompok ini telah terbentuk sejak 1976. Tujuannya untuk menjaga kelompok usaha garam rakyat yang melestarikan cara tradisional.

  2. 2. Cara pembuatan uyah kusamba

    Petani garam di Kusamba, Kabupaten Klungkung. (IDNTimes/Wayan Antara)
    Petani garam di Kusamba, Kabupaten Klungkung. (IDNTimes/Wayan Antara)

    Petani garam Kusamba membuat produknya dari pagi hingga petang. Awalnya petani garam mengambil air laut menggunakan alat dari pangkal pelepah pinang (upih). 

    Air laut tersebut disiramkan ke pasir, lalu pasir dijemur selama sehari hingga kering. Pasir kering dikumpulkan memakai garuk dan sekop kayu, kemudian dibawa ke gubuk produksi untuk ditimbun dalam sebuah bak.

    Bak penampung pasir ini terhubung melalui pipa bambu ke wadah penyaring air yang disebut belong. Pasir dalam bak disiram kembali dengan air laut, dan air hasil saringannya tertampung di belong

    Air garam pekat dari belong selanjutnya dijemur di atas palungan yakni wadah penjemuran. Idealnya terbuat dari batang pohon kelapa agar menghasilkan garam berkualitas baik.

    Proses penjemuran tidak boleh melebihi satu hari, sebab jika lebih lama, ampas akan tercampur ke dalam kristal garam sehingga rasanya menjadi pahit.

    Proses akhir, garam dipanen oleh pekerja laki-laki maupun perempuan, ditiriskan menggunakan alat bernama kukusan, kemudian dikemas ke dalam kantong plastik.

  3. 3. Punya tekstur halus dan rasa sedikit manis

    Nyoman Sekar, seorang  petani garam di Desa Kusamba, Klungkung menunjukkan garam hasil produksinya. (IDN Times/Yuko Utami)
    Nyoman Sekar, seorang petani garam di Desa Kusamba, Klungkung menunjukkan garam hasil produksinya. (IDN Times/Yuko Utami)

    Uyah kusamba bertekstur lembut dan lebih halus dibandingkan garam produksi mesin. Garam ini juga punya cita rasa unik, yaitu sedikit manis karena proses menggunakan palungan.

    Keunikan tekstur dan rasanya membuat uyah Kusamba mendapatkan hati konsumen, baik dalam maupun luar negeri. Garam Kusamba dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp25 ribu per kilogramnya.

  4. 4. Kondisi petani garam di Kusamba terjepit abrasi dan alih fungsi lahan

    Tanggul di Kusamba rusak parah. (IDN Times/Yuko Utami)
    Tanggul di Kusamba rusak parah. (IDN Times/Yuko Utami)

    Meskipun telah menjaga proses pembuatan garam tradisional secara turun-temurun, petani garam di Kusamba harus menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari abrasi pantai yang mengakibatkan sejumlah alat tergerus air laut, hingga ketidakstabilan cuaca akibat krisis iklim.

    Masalah lainnya adalah alih fungsi lahan pantai yang perlahan digunakan untuk akomodasi pariwisata. Jadi, apakah kamu sudah mencoba uyah Kusamba? Luangkan waktumu untuk bertemu petani garam di Kusamba, untuk keberlanjutan usaha garam tradisional.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More