Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Hidup Mati Atat dan Nuri, Burung Khas Bali yang Tinggal Puluhan

Dok.IDN Times/Istimewa
Dok.IDN Times/Istimewa

Badung, IDN Times – Banyak hewan yang dilindungi di Bali kini jumlahnya dalam kondisi terancam. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali mencatat, sekitar empat satwa langka di Bali yang kelestariannya kini terancam. Yaitu Kakatua Jambul Kuning Kecil, Nuri Bali, Julang, dan Karangkeng yang populasinya mendekati critically in danger (Sebentar lagi punah).

Sementara dunia Internasional telah menyatakan, Bali telah kehilangan satwa khasnya. Satwa yang punah tersebut adalah Harimau Bali diumumkan tahun 1976. Kemudian disusul kepunahan Harimau Jawa pada tahun 1982.

Menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Dr R Agus Budi Santosa, pihaknya seharusnya belajar dari cara menyelamatkan burung Curik Bali. Di mana kondisi lima tahun lalu hanya tinggal 16 sampai 18 ekor saja di alam. Sekarang jumlahnya sekitar 300 ekor di Taman Nasional Bali Barat.

“Artinya sudah sangat berhasil. Ternyata ada jenis yang lebih sengsara. Kakatua Jambul Kuning Kecil atau Bahasa Balinya Atat. Itu surveinya BKSDA di Pulau Nusa Penida tiga tahun berturut-turut 2017, 2018 dan 2019. Ketemunya cuma satu ekor jantan. setelah kami bandingkan fotonya, ternyata itu individu yang sama,” terangnya saat diwawancara IDN Times, pada Senin (17/12) lalu. 

BKSDA sendiri telah menggandeng Fakultas Biologi Universitas Udayana serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk pelestarian satwa-satwa liar ini.

1.Populasi Kakatua Jambul Kuning lebih berbahaya dibandingkan Curik Bali

Dok.IDN Times/Istimewa
Dok.IDN Times/Istimewa

Melihat hasil survei yang diungkapkan oleh Agus, populasi Atat, nama Bahasa Bali untuk sebutan burung Kakatua Jambul Kuning, lebih berbahaya dibandingkan dengan Curik Bali. Karena jumlahnya sudah sangat sedikit. Atat kini hanya terlihat ada di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.

“Nah ini kan kalau tidak segera kami selamatkan, bahaya. Kenapa saya anggap bahaya daripada Curik Bali, karena jumlahnya sudah sangat sedikit. Yang kedua tidak ada masyarakat yang ingin memelihara Atat ini. Kalau Curik Bali ini kan masih bisa kami temukan. Orang yang mau pelihara karena indah, enak dilihat. Jadi Atat inilah lebih sengsara. Gak ada yang pelihara,” ungkap Agus.

Setelah BKSDA Bali menghubungi beberapa pihak, terdata ada enam pasang Atat di Bali, yang akan menjadi modal awal untuk breeding center. Karena ada tiga komponen besar untuk menyelamatkan spesies Atat. Pertama adalah mengondisikan masyarakat supaya sadar kalau ada Atat supaya tidak diburu atau ditembak. Kedua adalah bagaimana mengondisikan habitatnya, di mana Nusa Penida harus menyediakan pakan alami. Ketika adalah bagaimana restocking atau memasukkan kembali satwa tersebut ke Nusa Penida.

2.Breeding center satwa burung minimal harus memiliki 40 pasang

Dok.IDN Times/Istimewa
Dok.IDN Times/Istimewa

Secara teori, satwa burung bisa pulih di alam liarnya kalau jumlah minimalnya ada 40 pasang. Apabila kurang dari 40 pasang, satwa burung tidak bisa survive. Kenapa bisa begitu? Satwa burung tidak boleh kawin antara anak dengan bapaknya secara terus-terusan. Karena bisa membuat kualitas individu baru atau anakannya semakin buruk.

“Jadi saya punya tugas bagaimana dua tahun ke depan ini menyiapkan 40 pasang yang siap hidup di alam liar. Mungkin tahap awal bisa kita contoh Curik Bali,” katanya.

Untuk mencari jalan keluar secepatnya, ia meminta bantuan rekannya yang ada di Jawa Tengah. Karena sekitar empat pasang Atat diduga ada di Jawa Tengah. Selain itu, lanjut Agus, BKSDA Sumatra Utara juga memiliki dua ekor Atat di Medan.

“Nanti akan kami kumpulkan ini. Termasuk nanti dari Jerman yang sudah sudah komitmen akan membantu pembangunan breeding center di Bali Agustus tahun depan,” jelasnya.

3. Nuri Bali sekarang kondisinya juga merana keberadaannya

Dok.IDN Times/Istimewa
Dok.IDN Times/Istimewa

Selain Atat, BKSDA menyebutkan Nuri Bali juga kian merana keberadaannya. Karena secara ekonomi, burung Nuri Bali tidak bernilai karena ukurannya yang kecil dan badannya tidak colorful.

“Nah satwa-satwa yang tidak punya nilai jual cara ekonomi ini cenderung lebih tertindas. Karena tidak ada orang yang perhatikan. Contohnya Julang di Bali Barat yang jumlahnya tidak mencapai 100 ekor,“ kata Agus.

Share
Topics
Editorial Team
Ayu Afria Ulita Ermalia
Irma Yudistirani
Ayu Afria Ulita Ermalia
EditorAyu Afria Ulita Ermalia
Follow Us