Cara Kelola Sampah Organik di Kos Denpasar

- PPLH Bali di bawah arahan Catur Yuda Hariyani aktif mengedukasi warga Denpasar soal pengelolaan sampah organik, terutama bagi penghuni indekos dan rumah minimalis dengan lahan terbatas.
- Catur menekankan pentingnya komunikasi antara pemilik dan penghuni indekos serta kewajiban memilah sampah agar dapat dikelola oleh TPS 3R menjadi kompos atau pakan ternak.
- Untuk lahan sempit, disarankan metode sumur kompos kecil atau wadah bekas seperti galon dan ember; kuncinya adalah konsistensi, tidak perlu teori rumit untuk mulai mengompos.
Denpasar, IDN Times - Rimbun pepohonan menghiasi sudut Kantor Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali di Kesiman Kertalangu, Kota Denpasar. PPLH Bali adalah sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pendidikan lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat. Direktur PPLH Bali, Catur Yuda Hariyani, menyambut IDN Times dengan ramah, pada Kamis (9/4/2026) sore.
Catur getol mengedukasi dan melakukan pendampingan pengelolaan sampah sejak 1998 di Bali. Tak mudah memang kala itu. Konsep edukasi di banjar maupun kantor desa sudah tidak lagi efektif, karena hanya bertemu beberapa orang saja. Dua puluh tahunan terlewati, ia memilih gerak cepat, yaitu edukasi dan pendampingan dari rumah ke rumah (door to door), termasuk indekos.
Masalah sampah di Bali pada masa kini semakin kompleks. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung resmi tidak lagi menerima sampah organik sejak 1 April 2026. Kebijakan ini memaksa masyarakat, termasuk penghuni indekos dan rumah minimalis di Kota Denpasar, mencari solusi mandiri di tengah pengumuman dan sosialisasi dadakan pemerintah.
Keterbatasan lahan beradu dengan kepadatan penduduk dan sampah organik. Catur berbagi kiat praktis cara kelola sampah organik tanpa lahan luas.
Saling berkomunikasi dengan pemilik dan penghuni indekos

Catur menjelaskan, pengelolaan sampah di indekos dapat diawali dengan menjalin komunikasi bersama pemilik dan penghuni indekos. Namun, ini juga menjadi tantangan ketika pemilik indekos tidak tinggal di satu kawasan atau tidak pernah terlihat.
“Biasanya kami panggil. Tipsnya adalah kami panggil pemilik. Kalaupun tidak ada pemiliknya, biasanya kami tetap melakukan edukasi,” tutur Catur.
Edukasi pengelolaan sampah kepada penghuni indekos tidak selamanya mudah. Jadwal kesibukan yang berbeda-beda, membuat edukasi tidak terpapar secara merata. Catur menyarankan agar setiap indekos memiliki satu koordinator untuk membicarakan pengelolaan sampah. Langkah itu harus diambil jika pemilik indekos tidak kooperatif.
Kesadaran penghuni indekos juga jadi tantangan. Catur menyarankan agar sampah dikelola secara kolektif jika tidak sempat membuat kompos sendiri. PPLH siap dilibatkan untuk mengambil sampah organik yang sudah dipilah. Penghuni kos cukup membeli kantong pemilahan sampah organik milik PPLH seharga Rp80 ribu per bulan untuk kapasitas 50 liter, dan Rp120 ribu per bulan dengan kapasitas 80 liter.
Minimal memilah sampah

Catur berpendapat, jika tidak memiliki anggaran untuk mengelola sampah organik, memilah adalah langkah awal dan wajib dilakukan oleh penghuni indekos maupun rumah minimalis.
“Teman-teman itu cukup memilah dengan baik di ember, serahkan kepada petugas karena petugas nanti ada yang memiliki TPS 3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) atau mereka punya kita sebut depo. Begitu ya,” papar Catur.
TPS 3R akan mengelola sampah organik menjadi kompos untuk kebutuhan pakan ternak maupun pupuk. Langkah memilah sampah ini amat krusial agar petugas TPS 3R dapat langsung mengolah sampah organik.
“Nah, serahkan saja yang penting teman-teman di kos-kosan itu benar-benar mau memilah gitu,” katanya.
Rumah minimalis dapat menggunakan sumur kompos skala kecil

Penghuni kos atau rumah minimalis tidak perlu pusing meski TPA Suwung menutup sampah organik. Kata Catur, banyak metode yang bisa dilakukan kalau memang mau mengelola sampah organiknya sendiri. Ada metode biopori, teba modern, kantong kompos atau ring kompos, hingga sumur kompos skala kecil.
Jika penghuni rumah minimalis di Kota Denpasar ingin mengelola sampah organik secara mandiri, Catur menyarankan sumur kompos skala kecil. Ia lalu menunjukkan sumur kecil di halaman kantornya. Sumur tersebut menggunakan buis beton berdiameter 50 sentimeter dengan kedalaman maksimal 2,5 meter. Penutupnya bukan dari beton, melainkan kayu triplek yang dimodifikasi sendiri supaya bisa dibuka tutup dengan mudah dan tidak berat.
Atau kalau tidak memungkinkan untuk menggali tanah, penghuni bisa menggunakan jaring kawat ayam dengan penutup dari bahan fiber plastik. Memang terlihat mata dan kurang estetika, namun metode ini lebih cocok untuk rumah dengan halaman sempit.
Gunakan galon dan ember bekas bagi penguni indekos

Trik berikutnya ini untuk penghuni indekos yang minim bujet. Jika tidak memiliki kantong kompos, Catur menyarankan dapat menggunakan galon bekas, ember bekas, hingga keranjang pakaian bekas. Sampah organik harus dicampur dengan kompos dan siraman air, molase ataupun ecoenzyme.
Kata Catur, untuk mendapatkan hasil terbaik, penghuni bisa menggunakan metode pencacahan jika itu sampah organik kering, misalnya, daun atau canang. Namun, jika tidak ada waktu, sampah organik dapat langsung dibenamkan ke ember atau wadah yang berisi kompos, dan siram dengan cairan-cairan tersebut. Tidak perlu sampai terlalu basah agar tidak muncul banyak belatung. Setelah itu wadah ditutup agar mikroorganisme dapat bekerja maksimal. Kompos penting sebagai pancingan untuk mengurai sampah organik basah maupun kering.
“Kita biasanya tunjukkan cara sederhana mengelola sampah organiknya. Jadi hanya dengan memasukkan ke ember kemudian harus ditutup,” jelas Catur.
Sambil mencontohkan, Catur menggali kompos dalam keranjang bekas pakaian berwarna merah muda, yang dilapisi karung goni. Ia mengambil sampah organik sisa makanan, dan memasukkannya ke kompos yang sudah digali. Sampah tersebut kemudian ditimbun dengan kompos menggunakan sekop kecil. Setelah itu, ia menutup kembali keranjangnya.
Mulai saja dulu, tidak perlu rumit memikirkan teori

Menurut Catur, membuat kompos perlu perhatian. Pastikan agar kompos tidak menjadi sarang belatung. Demi penguraian lebih cepat, susunan kompos dan sampah organik harus disiram secukupnya dan konsisten. Tidak perlu banyak teori rumit untuk mulai membuat kompos secara mandiri.
“Gak usah terlalu mikirin teori tinggi, tetapi sekarang mau atau tidak? Begitu. Kalau mau, semuanya akan mudah. Jangan terlalu takut dengan kegagalan, karena dengan gagal justru kita perbaiki lagi,” katanya.
Ternyata, berkomunikasi dengan ahlinya, hingga belajar melalui media sosial dapat menjadi sumber pembelajaran ya untuk mengelola sampah organik Bali pada 2026 ini. Kamu sendiri tim pilah sampah, atau tim belajar kelola sampah organik mandiri? Yuk mulai saja dulu demi lingkungan yang lebih baik.


















