Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bahan Pokok Naik, Ini Cara Warteg di Tabanan Jaga Pelanggan Tak Kabur

Bahan Pokok Naik, Ini Cara Warteg di Tabanan Jaga Pelanggan Tak Kabur
Warteg di Tabanan (IDNTimes/Wira Sanjiwani)
Intinya Sih
  • Ari Restu Jayanti, pemilik warteg di Tabanan, memilih tidak menaikkan harga makanan meski bahan pokok naik, melainkan mengurangi porsi nasi dan lauk agar pelanggan tetap bertahan.
  • Pelanggan warteg Ari berasal dari berbagai profesi seperti buruh bangunan hingga pegawai bank, dengan kisaran harga makan Rp10 ribu–Rp20 ribu tergantung porsi yang dipesan.
  • Harga bahan pokok seperti minyak goreng, beras, dan sayur mengalami kenaikan signifikan, sementara beberapa bumbu seperti bawang putih dan sawi justru turun harganya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Tabanan, IDNTimes-Warung Tegal atau biasa disebut warteg merupakan salah satu tempat makan yang menyediakan aneka lauk dengan harga terjangkau. Keberadaan warteg ini ada di seluruh Indonesia dan menjadi pilihan bagi masyarakat menengah ke bawah.

Di tengah kenaikan bahan pokok seperti beras, telur, minyak goreng sampai sayur-mayur, pemilik usaha warteg harus berputar otak untuk menjaga harga makanannya. Salah satu pemilik warteg di Tabanan, Ari Restu Jayanti (40) mengaku agar pelanggannya tidak kabur, ia memilih tidak menaiikan harga makanan. "Soalnya naik Rp500 saja, pelanggannya kabur," katanya, Senin (8/6/2026)

1. Harga tetap, porsi lauk dan nasi dikurangi

Warteg di Tabanan (IDNTimes/Wira Sanjiwani)
Menu warteg (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Untuk makan di warteg milik Ari, pelanggan bisa membeli nasi lengkap dengan lauk dari harga Rp10 ribu Dengan harga tersebut, mendapatkan nasi, ayam, sayur, perkedel dan sambal. "Di tengah harga kebutuhan pokok naik, kita masih memberikan harga Rp10 ribu. Cuma kami main di bagian porsi," kata Ari.

Ia mengatakan, porsi lauk dan nasi dikurangi agar sesuai harga. "Dulu (porsi) sama dapat nasi, ayam, perkedel, sayur dan sambal. Cuma ukuran dan jumlahnya dikurangi," paparnya.

Dengan cara ini, pelanggan tidak merasa terbebani dengan harga. "Tentunya kami selalu info ke pelangggan kalau harga Rp10 ribu porsinya dikurangi." kata Ari.

2. Pelanggan memiliki profesi beragam

Warteg di Tabanan (IDNTimes/Wira Sanjiwani)
Menu warteg (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Pelanggan yang datang ke wartegnya memiliki profesi beragam. Mulai buruh bangunan sampai ke pegawai bank. Rata-rata sekali makan membayar Rp10 ribu-Rp15 ribu. "Tetapi kalau buruh bangunan itu biasanya sampai Rp20 ribu. Sebab, porsi makan mereka banyak," kata Ari

Di tengah kenaikan dollar terhadap rupiah, menurut Ari belum terpengaruh secara signifikan. "Jualan saya masih seperti biasa. Kadang habis kadang ada sisa. Biasanya sisa itu kalau Galungan dan Kuningan. Sebab pekerja dan siswa rata-rata libur," ujar Ari.

Rata-rata per hari, ia memasak 15 kilogram nasi dan 28 jenis lauk pauk. Terkadang ada pelanggan yang membeli lauk saja dengan harga Rp3 ribu atau soto ayam dengan harga Rp5 ribu. "Tetap kami berikan, dengan porsi dan ukuran yang sesuai,"paparnya.

3. Harga minyak goreng dan kertas minyak naik

Warteg di Tabanan (IDNTimes/Wira Sanjiwani)
Menu warteg (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Di tengah gempuran kenaikan bahan pokok, pedagang warteg juga menghadapi kenaikan minyak goreng dan kertas minyak. Ari mengatakan, harga minyak goreng Rp47 ribu per 2 liter, naik dari harga Rp34 ribu. Sementara kertas minyak dari harga Rp25 ribu per 250 lembar menjadi Rp35 ribu.

Kenaikan juga terjadi pada beras dari harga Rp345 ribu per 24 kilogram menjadi Rp348 ribu. Sementara bawang merah dari harga Rp45 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram. Daging ayam naik dari Rp38 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram. Untuk sayur harga wortel naik dari Rp8 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram, dan sayur buncis dari Rp15 ribu menjadi Rp20 ribu per kilogram.

Namun ada beberapa bumbu dan sayur yang mengalami penurunan seperti bawang putih dari Rp40 ribu menjadi Rp33 ribu per kilogram, sayur sawi turun dari Rp15 ribu menjadi Rp6 ribu per kilogram. "Ada juga harga yang stabil seperti cabai masih di Rp80 ribu per kilogram," ujar Ari.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari

Latest News Bali

See More