Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Maestro Dongeng Bali Made Taro Wafat pada Hari Anak Nasional

Maestro Dongeng Bali Made Taro Wafat pada Hari Anak Nasional
Maestro Dongeng I Made Taro. (Facebook.com/Made Taro)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • I Made Taro, dikenal sebagai Bapak Dongeng Bali, wafat pada Hari Anak Nasional 2026 setelah lebih dari lima dekade mendedikasikan hidupnya untuk pelestarian budaya dan pendidikan anak-anak.
  • Melalui Sanggar Kukuruyuk yang didirikan tahun 1979, ia aktif mendekatkan dongeng, permainan tradisional, dan nilai budaya Bali kepada anak-anak lewat sekolah serta berbagai kegiatan budaya.
  • Sebagai penulis lebih dari 30 buku dan penerima banyak penghargaan nasional, Made Taro berhasil mendokumentasikan ratusan satua, lagu anak-anak, dan permainan tradisional Bali untuk generasi masa depan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Denpasar, IDN Times - Berpulangnya I Made Taro, pada Rabu (23/7/2026), menjadi kehilangan besar bagi dunia seni dan budaya Bali. Maestro yang akrab dijuluki Bapak Dongeng Bali itu meninggal dunia tepat saat Indonesia memperingati Hari Anak Nasional.

Selama lebih dari lima dekade, Made Taro tak hanya dikenal sebagai pendongeng, tetapi juga pelestari satua (cerita rakyat) Bali, lagu anak-anak, permainan tradisional, hingga penulis puluhan buku budaya. Warisan yang ditinggalkannya menjadi fondasi penting dalam menjaga identitas budaya Bali di tengah perkembangan zaman.

1. Berawal dari dongeng sebelum tidur, lalu mengabdikan hidup untuk anak-anak

FB_IMG_1784782146168.jpg
Maestro Dongeng I Made Taro. (Facebook.com/Made Taro)

Made Taro lahir pada 1939 di Desa Sengkidu, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Kecintaannya terhadap dunia dongeng tumbuh sejak kecil, ketika orangtuanya rutin membacakan satua sebelum ia tidur. Pengalaman itu membentuk pandangannya bahwa dongeng bukan sekadar hiburan.

Baginya, satua merupakan media untuk menanamkan nilai moral, membangun karakter, sekaligus memperkenalkan kearifan lokal kepada anak-anak. Semangat tersebut mulai diwujudkannya ketika menjadi guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Sesetan. Sejak 1973, ia aktif mendongeng siswanya. Aktivitas itu terus berlanjut hingga di penghujung usia, dan menjadikannya sebagai tokoh yang paling konsisten menjaga tradisi lisan Bali.

2. Sanggar Kukuruyuk menjadi pusat pelestarian budaya Bali

Maestro tradisi lisan, Made Taro. (IDN Times/Ayu Afria)
Maestro tradisi lisan, Made Taro, saat diwawancara semasa hidup periode 2021. (IDN Times/Ayu Afria)

Komitmen Made Taro terhadap budaya semakin kuat ketika mendirikan Sanggar Kukuruyuk pada 15 Juni 1979. Nama Kukuruyuk diambil dari suara ayam jantan yang berkokok di pagi hari, sebagai simbol semangat baru dan harapan agar generasi muda tetap dekat dengan akar budayanya.

Berbeda dengan sanggar seni pada umumnya, Sanggar Kukuruyuk tidak memiliki panggung pertunjukan tetap. Made Taro justru memilih mendatangi anak-anak secara langsung melalui sekolah, festival budaya, hingga berbagai kegiatan pendidikan.

Sanggar ini rutin mengisi kegiatan ekstrakurikuler sekolah dasar, tampil dalam Rare Bali Festival di Taman Budaya Bali, menggelar pelatihan permainan tradisional bagi guru PAUD dan TK di Denpasar, hingga mengadakan pertunjukan dongeng di berbagai situs budaya seperti Pura Samuan Tiga.

3. Menulis puluhan buku dan menerima berbagai penghargaan budaya

FB_IMG_1784782217939.jpg
Maestro Dongeng I Made Taro. (Facebook.com/Made Taro)

Tak hanya menjaga tradisi secara lisan, Made Taro juga mendokumentasikan kekayaan budaya Bali dalam bentuk tulisan. Hingga akhir hayatnya, ia telah menulis lebih dari 30 buku, menghimpun sekitar 200 permainan tradisional, serta mendokumentasikan 225 lagu anak-anak Bali.

Sejumlah karyanya yang dikenal luas antara lain Bawang dan Kesuna (1997), Randu dan Sahabatnya (2002), serta Balingkang (2004). Melalui buku-buku tersebut, satua Bali dapat dipelajari oleh generasi muda dari berbagai daerah, bahkan hingga mancanegara.

Dedikasi panjangnya mendapat berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya Penghargaan Sastra Rancage (2005), dinobatkan sebagai Maestro Tradisi Lisan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada 2008, serta menerima Anugerah Kebudayaan Presiden Republik Indonesia pada 2009. Aktivitas mendongengnya juga membawanya tampil di berbagai negara, memperkenalkan budaya Bali kepada dunia.

Share Article
Editorial Team

Latest News Bali

See More