Alat Keselamatan di KM Bandar Nelayan-188 Hanya Life Jacket

Denpasar, IDN Times – Kapal nelayan KM Bandar Nelayan-188 tenggelam di posisi kurang lebih 1.500 nautical mile selatan Bali. Penyebab kapal tenggelam diduga karena diterjang badai dan ombak setinggi 7 meter. Pada 13 Mei 2021, pihak agen KM Bandar Nelayan sempat meminta pertolongan evakuasi kepada Basarnas.
Saat dilakukannya proses evakuasi, diketahui para anak buah kapal (ABK) yang jumlahnya 20 orang, hanya dilengkapi dengan alat keselamatan yakni berupa life jacket. Mereka bertahan di anjungan kapal dalam kondisi yang panik. Tidak ada alat keselamatan lainnya yang bisa diandalkan dalam keadaan darurat tersebut.
Lalu apa saja kelengkapan keselamatan yang seharusnya ada di dalam kapal nelayan tersebut? Berikut penjelasannya.
1.KM Bandar Nelayan-188 disebut sudah mengantongi Surat Laik Operasi

Menurut Kepala KSOP Kelas II Benoa, Agustinus Maun, Kapal Bandar Nelayan-188 meninggalkan Pelabuhan Benoa untuk berlayar mencari tuna pada tanggal 8 April 2021. Saat itu telah dilakukan pemeriksaan keselamatan terhadap kapal dan dinyatakan laik laut. Setelah mendapat persetujuan Surat Laik Operasi (SLO) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, maka Kapal Bandar Nelayan-188 diizinkan untuk berlayar.
“Pemberian SLO setelah petugas kesyahbandaran memastikan bahwa kapal itu telah memenuhi keselamatan pelayaran sesuai dengan ketentuan untuk kapal ikan. Sebelum surat persetujuan berlayar diberikan kepada syahbandar, itu harus sudah mendapatkan persetujuan Surat Laik Operasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Nah proses itu semua sudah dilakukan. Artinya secara hukum, secara aturan, kapal itu sudah dinyatakan laik laut dan laik operasi,” jelasnya.
2.Basarnas sebut hanya ada life jacket di kapal tersebut

Saat ditanya perihal kelengkapan keselamatan sementara pada kapal Bandar Nelayan-188, Kepala Kantor SAR Denpasar, Gede Darmada, mengatakan hanya tersedia life jacket saja. Selain life jacket, tidak ada kelengkapan keselamatan lainnya.
“Life jacket saja,” jawabnya.
Menurutnya kapal nelayan yang mencari tuna di ground fishing atau daerah tangkapan internasional dengan jarak yang cukup jauh, seharusnya memiliki perlengkapan keselamatan yang memadai, di antaranya liferaft, pemancar sinyal marabahaya, dan telepon satelit.
“Liferaft dan telepon satelit tidak ada. Jadi kemarin dia kontaknya lewat agennya. Saya tidak tahu komunikasinya lewat apa. Kalau sudah untuk tangkapan internasional pemancar sinyal marabahaya, telepon satelit serta liferaft dan life jacket yang memadai,” terangnya.
3. Evakuasi melibatkan Australia dan Jepang

Proses evakuasi KM Bandar Nelayan-188 melibatkan koordinasi Indonesia dengan Australia dan Jepang. Selain itu, dilakukan pula koordinasi dengan Joint Rescue Coordination Center (JRCC) bahwa Australia mengirim sebuah pesawat Challenger untuk mengecek posisi yang telah diberikan.
Pesawat menemukan lokasi kejadian dan langsung mendeploy (menyebarkan) 2 buah liferaft. Pihak Australia lalu memetakan kapal-kapal yang ada di sekitar KM Bandar Nelayan. Salah satu kapal terdekat adalah kapal nelayan Jepang FV Fukuseki Maru 15 yang diarahkan untuk mengevakuasi, sambil menunggu kapal militer Australia HMAS Anzac tiba.
Selanjutnya Basarnas meminta tolong Kementerian Luar Negeri, Mabes TNI, termasuk Menkopolhukam untuk mengkoordinasikan lebih lanjut secara teknis antara hubungan dua negara dalam agenda kemanusian tersebut.
Disebutkan pula bahwa rencananya setelah para ABK menjalani proses karantina prokes COVID-19, kapten kapal, Mugiyono, akan dipanggil untuk diminta keterangannya. Pemeriksaan tersebut untuk memastikan penyebab tenggelamnya KM Bandar Nelayan-188 dan sebagai bahan evaluasi untuk mengantisipasi kejadian serupa di waktu yang akan datang.



















