Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Desa Bengkel Ubah Sampah Jadi Pupuk Pertanian Organik

Desa Bengkel Ubah Sampah Jadi Pupuk Pertanian Organik
Lahan pertanian di Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani)
Intinya Sih
5W1H
  • Desa Bengkel sukses kelola sampah lewat TPS3R yang memisahkan dan mengolah sampah organik jadi pupuk, menghasilkan dua ton pupuk setiap enam bulan untuk petani dan pihak swasta.
  • Pertanian organik di Desa Bengkel berkembang dua hektare dengan sepuluh petani menanam beras Mentik Susu, hasil panen empat ton dibeli BumDes dengan harga lebih tinggi dari pasar.
  • BumDes Bengkel bantu petani lewat modal tanpa bunga serta penyediaan bibit dan pupuk sendiri, agar petani terhindar dari pinjaman konsumtif dan bisa fokus pada produksi pertanian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Tabanan, IDN Times - Desa Bengkel di Kabupaten Tabanan berhasil dalam pengelolaan sampah terintegrasi. Desa ini mendorong lahirnya pertanian organik.

Perbekel Desa Bengkel, I Nyoman Wahya Biantara, menjelaskan melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R), sampah organik dan anorganik dipilah serta diolah secara sistematis. Sampah organik kemudian diolah menjadi pupuk organik.

TPS3R Desa Bengkel saat ini mampu menghasilkan pupuk organik secara konsisten. Dari sini, desa mendorong pengembangan pertanian organik. Saat ini Desa Bengkel sudah memiliki dua hektare pertanian organik. Hasil panennya sudah terserap pasar sepenuhnya.

1. TPS3R Desa Bengkel menghasilkan 2 ton pupuk organik per enam bulan

IMG-20260525-WA0014.jpg
Pengolahan pupuk organik di TPS3R Desa Bengkel (Dok.Humas Desa Bengkel)

Wahya Biantara mengatakan sampah-sampah terpilah yang dikumpulkan bank sampah, akan dipilah kembali di TPS3R Desa Bengkel. Sampah organik dicacah dan difermentasi menjadi kompos sekitar enam bulan. Setelah itu didistribusikan ke petani dan pihak swasta.

TPS3R menghasilkan 2 ton pupuk organik setiap enam bulan sekali. Satu ton disalurkan ke petani Desa Bengkel, dan satu ton lagi ke pihak swasta.

“Untuk pupuk organik ke petani, kami jual dengan harga subsidi Rp1.000 per kilogram, sementara untuk pihak swasta Rp2.000 per kilogram," ujar Wahya Biantara pada Kamis lalu, 28 Mei 2026.

2. Desa Bengkel mendorong pertanian organik

IMG-20260528-WA0022.jpg
Beras Mentik Susu, hasil pertanian organik di Desa Bengkel (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Petani Desa Bengkel tidak kesulitan mendapatkan pupuk organik. Mereka juga mendorong petani lain untuk mulai mengembangkan pertanian organik. Saat ini pertanian organik yang dikembangkan di Desa Bengkel sudah mencapai 2 hektare.

Para petaninya menaman varietas yang memang tepat untuk ditanam di lahan organik yaitu Beras Mentik Susu. Beras ini dikenal memiliki tekstur pulen menyerupai Beras Jepang.

"Ada 10 petani yang menerapkan pertanian organik dengan total luas lahan dua hektare. Mereka menaman varietas beras mentik susu. Sekali panen, produksi beras mencapai sekitar 4 ton," kata Wahya.

Beras Mentik Susu yang dihasilkan petani ini dibeli oleh Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Bengkel jauh lebih tinggi Rp1000 dari harga pasar. Untuk menjamin keberlanjutan, BUMDes Bengkel menjalin kerja sama dengan petani dan penggilingan padi. Sehingga petani dapat menjual gabah ke BUMDes yang selanjutnya diproses dan dipasarkan.

“Kami kerja sama dengan BUMDes jadi begitu selesai panen langsung dibeli oleh BUMDes,” jelas Wahya.

3. Bumdes Bengkel membantu petani lepas dari pinjaman konsumtif

IMG-20260528-WA0019.jpg
Lahan pertanian di Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Untuk membantu petani, selain menyediakan pupuk organik, BumDes Desa Bengkel juga menyiapkan modal bagi petani untuk mengolah pertaniannya.

"Kami perhatikan jika setiap mengolah lahannya, petani pasti minjam uang di koperasi dengan bunga. Sekali operasional itu butuh modal Rp10 juta sampai Rp15 juta. Tetapi petani ini terkadang malah meminjam lebih dari yang dibutuhkan. Jatuhnya menjadi pinjaman konsumtif. Berpikir akan bisa terbayar saat panen nanti," kata Wahya.

Untuk ini, Bumdes memberikan bantuan modal tanpa bunga bagi para petani.

"Bibit dan pupuk BumDes sudah produksi sendiri. Tinggal memberikan modal operasional seperti sewa traktor dan upah tenaga. Nanti setelah panen, baru petani mengembalikan modal yang diberikan," jelasnya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani

Latest News Bali

See More