- Sonneratia alba (Prapat) dengan kerusakan batang kering dan rapuh, luas diperkirakan mencapai 6 are. Dugaan penyebab rembesan minyak BBM
- Rizhophora apiculata (Bakau) dengan kerusakan daun menguning serentak, luas diperkirakan mencapai 60 are. Kebocoran pipa distribusi.
- Avicennia marina (Api-api) dengan kerusakan akar membusuk atau kering, lokasinya blok barat tol. Dugaan kemrian ini karena residu pemeliharaan pipa.
TIM Peneliti UNUD Beberkan Dugaan Penyebab Mangrove Mati Mendadak

- Tim peneliti Universitas Udayana menemukan ratusan pohon mangrove di kawasan Benoa mati akibat penyakit abiotik yang dipicu keracunan logam berat dan senyawa hidrokarbon dari aktivitas sekitar.
- Tiga spesies mangrove terdampak, yaitu Sonneratia alba, Rhizophora apiculata, dan Avicennia marina, dengan gejala batang kering, daun menguning, serta akar membusuk akibat dugaan kontaminasi bahan bakar minyak.
- Pertamina menegaskan hasil pengecekan tidak menemukan kebocoran pipa BBM namun tetap melakukan investigasi lanjutan dan berkoordinasi dengan DLH Bali untuk pemulihan ekosistem mangrove Beno
Denpasar, IDN Times - Deretan tanaman Mangrove yang terletak di jalan keluar tol di Jalan Raya Pelabuhan Benoa tepatnya sebelah lajur roda dua banyak yang mati. Pohonnya tampak mengering dan coklat. Penyebab kematiannya awalnya diduga akibat kebocoran pipa BBM, namun pihak Pertamina menyampaikan bahwa hasil pengecekan yang dilakukan pada 21 Februari 2026 tidak ditemukan kebocoran pipa.
Tim Peneliti dari Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana yang dikoordinatori oleh Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga justru menemukan fakta lain. Menurut Dewa Gede, meskipun Pertamina Patra Niaga melakukan pemeriksaan visual pada 21 Februari 2026 dan tidak menemukan lapisan minyak di permukaan air, para ahli ekologi menekankan bahwa kontaminasi hidrokarbon di dalam ekosistem Mangrove biasanya masih ada di dalam tanah.
"Minyak yang masuk ke dalam pori tanah akan menutupi akar mangrove dan bersifat beracun. Senyawa aromatik yang ada dalam bahan bakar minyak bisa merusak membran sel tanaman, mengganggu cara tanaman menyerap nutrisi, dan menyebabkan kematian pohon dalam beberapa minggu setelah terpapar," jelasnya pada Rabu (25/2/2026).
1. Tim peneliti menemukan Mangrove terserang penyakit abiotik

Dewa Gede menyampaikan bersama timnya telah melakukan diagnosis penyakit tumbuhan ke lokasi. Hasilnya menemukan bahwa ratusan pohon Mangrove mengalami kematian dengan gejala awal daun klorosis (daun menguning), daun nekrosis (daun kecokelatan), kulit batang mengelupas, pertumbuhan kerdil, busuk akar/hitam, dan penebalan daun (sukulensi).
Diagnosis awal diungkap mengindikasikan bahwa tidak ada infeksi patogen penyebab penyakit di lapangan, namun tanaman sakit dan mati karena terserang penyakit abiotik. Lebih lanjut, salah satunya karena keracunan logam berat dan senyawa hidrokarbon (minyak).
"Identifikasi awal juga menunjukkan terdapat pipa Bahan Bakar Minyak (BBM) milik Pertamina yang melewati area itu," ungkapnya.
Dari data koordinasi, terungkap bahwa antara September hingga November 2025, ada kegiatan perbaikan atau perawatan pipa pada jalur distribusi dari Pelabuhan Benoa ke Pangkalan Pertamina Pesanggaran. Laporan menyebutkan bahwa terjadi rembesan minyak yang masuk ke dalam substrat mangrove, dan diduga pembersihan (clean-up) tidak dilakukan secara lengkap setelah aktivitas teknis tersebut.
2. Ada tiga spesies terdampak pencemaran logam berat dan bahan bakar minyak

Kematian tanaman mangrove ini terjadi secara serentak pada blok-blok vegetasi tertentu, yang ia sebut mengarahkan dugaan kuat pada faktor kontaminasi kimiawi dari infrastruktur energi di sekitarnya. Tiga spesies Mangrove terdampak diantaranya:
"Berdasarkan peninjauan menyeluruh terhadap data yang ada, penyebab utama matinya tanaman Mangrove di daerah Bali Selatan adalah pencemaran oleh keracunan logam berat dan bahan bakar minyak (hidrokarbon)," ungkapnya.
3. Pertamina tanggapi tudingan kebocoran pipa penyebab Mangrove mati

Pada Sabtu (21/2/2026) pagi Pertamina Patra Niaga bersama Polairud telah melakukan pengecekan langsung ke lokasi terutama di Terminal BBM Sanggaran sebagai lokasi terminal terdekat. Area Manager Communication, Relation, dan CSR PT Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan hasil pengecekan visual, tidak ditemukan adanya lapisan minyak ataupun bau menyengat BBM.
Saat ini, Pertamina dalam proses investigasi lebih lanjut terkait operasional terkait termasuk pengecekan ekosistem terdampak untuk memastikan penyebab matinya pohon mangrove secara mendadak di kawasan Benoa. Pertamina juga akan melaksanakan percepatan pemulihan kawasan mangrove yang dalam prosesnya akan saling membantu dengan perusahaan terkait lainnya yang memiliki operasional di kawasan Benoa sebagaimana arahan dari DKLH Provinsi Bali.
"Masih berlangsung pendalaman penyebab bersama DLH Provinsi dan pihak-pihak terkait lainnya," ungkapnya


















