Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pelaku Wisata Diminta Tidak Promosikan Paket Wisata Nyepi 2026
Foto ilustrasi Nyepi. (pixabay.com/Njaj)
  • Kemenag Bali mengimbau pelaku wisata tidak mempromosikan paket wisata Nyepi 2026, demi menghormati umat Hindu yang menjalankan Catur Brata Penyepian pada 19 Maret 2026.
  • Larangan promosi atas nama Nyepi sudah berlaku sejak lama dan ditegaskan kembali melalui Seruan Bersama agar menjaga toleransi serta kerukunan antarumat beragama di Bali.
  • Wisatawan diminta tetap tenang selama Nyepi, tidak menyalakan petasan, lampu berlebihan, atau keluar dari tempat menginap demi menghormati kesucian hari raya tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Menjelang hari suci Nyepi di Bali pada Kamis, 19 Maret 2026 mendatang, Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) RI Provinsi Bali meminta pelaku wisata tidak mempromosikan paket wisata Nyepi 2026. Imbauan ini tertulis dalam Seruan Bersama tentang Pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948/Tahun 2026 yang bertepatan dengan Malam Takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah. 

Pengelola destinasi wisata tidak mempromosikan kegiatan usaha mengatasnamakan Hari Suci Nyepi. Ini berlaku untuk seluruh masyarakat, pelaku usaha, serta wisatawan yang berada di wilayah Provinsi Bali wajib.

“Terus jasa akomodasi, jasa hiburan, pengelola destinasi wisata itu gak diperkenankan untuk mempromosikan secara besar-besaran,” tutur Ketua Tim Kerja Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kemenag Bali Wina Maya Lestari pada Selasa (3/3/2026) di Kanwil Kemenag Bali.

Larangan promosi besar-besaran atas nama Nyepi

Ketua Tim Kerja Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kemenag Bali, Wina Maya Lestari. (IDN Times/Yuko Utami)

Wina menjelaskan imbauan agar pelaku usaha pariwisata di Bali agar tidak menjual paket wisata atas nama Nyepi telah ada sejak dulu. Promosi paket wisata dengan menggunakan Nyepi untuk menggaet wisatawan tidak menunjukkan toleransi keagamaan. Ia menegaskan, agar pelaku usaha menghargai umat Hindu yang melaksanakan Catur Brata Penyepian (Empat Pantangan Penyepian).

“Paling gak kita hargai, menghormati bahwa saudara-saudara kita di Bali sedang melaksanakan Catur Brata Penyepian begitu,” ujar Wina.

Perayaan Nyepi adalah momentum kesadaran toleransi umat beragama. Ia berharap agar imbauan tidak promosi paket wisata atas nama Nyepi, mampu menjaga kerukunan dan toleransi di Bali tetap terjaga.

Penyedia jasa wisata telah mendapatkan sosialisasi

Ilustrasi hotel di Bali (unsplash.com/antonioaaaraujo)

Wina menjelaskan, seruan bersama agar tidak menjual paket wisata Nyepi telah diketahui oleh penyedia jasa. Sosialisasi tentang hal ini telah didapatkan penyedia jasa wisata di Bali sejak beberapa tahun lalu. 

“Kemudian begitu juga penyedia jasa wisata seperti perhotelan untuk diundang. Untuk menandatangani nanti di kesepakatan itu juga ada,” kata dia.

Ia berharap kesepakatan dalam seruan bersama dijalankan dengan sebaik mungkin. Ia meyakini, penyedia jasa wisata telah memahami isi seruan bersama agar tidak menjual paket wisata atas nama hari suci Nyepi.

Wisatawan tetap menjaga ketertiban saat Nyepi

ilustrasi nyepi (unsplash.com/Jared Rice)

Sementara itu, bagi wisatawan yang berlibur di Bali agar tetap menjaga ketertiban saat hari suci Nyepi. Masyarakat maupun wisatawan di Bali, dilarang menyalakan petasan/mercon, pengeras suara, bunyi-bunyian, lampu penerangan berlebihan, maupun aktivitas lain yang dapat mengganggu Hari Suci Nyepi dan ketertiban umum.

“Aktivitasnya ada di dalam hotel, yang penting tidak melakukan kegaduhan, bersenang-senang seperti itu, tetap menghormati aturan atau aturan Catur Brata Penyepian tersendiri di Bali,” ucap Wina.

Selain menjaga ketenangan dan ketertiban, wisatawan dilarang keluar dari hotel maupun vila tempat menginap. Masyarakat dan wisatawan tidak boleh bepergian maupun keluar rumah saat Catur Brata Penyepian.

Editorial Team