Bali Kerap Kebanjiran, Akademisi Menyoroti Saluran Irigasi Menyempit

- Banjir di Bali makin sering terjadi, terutama di Denpasar dan Badung, akibat curah hujan tinggi serta penyempitan saluran irigasi dan alih fungsi lahan yang masif.
- Akademisi Prof. Putu Rumawan menilai berkurangnya daerah resapan air dan ruang terbuka hijau menjadi alarm darurat ekologis bagi Denpasar.
- Pergeseran kultur dari pertanian ke sektor jasa membuat sawah berubah jadi bangunan, memperparah penyumbatan irigasi dan meningkatkan risiko banjir berulang.
Denpasar, IDN Times - Banjir kerap melanda sejumlah wilayah di Provinsi Bali, terutama kawasan Bali Selatan. Sejumlah titik lokasi di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung kebanjiran dalam sekejap setelah beberapa hari hujan deras sepekan lalu.
Akademisi Arsitektur Tradisional Bali dan Pegiat Tata Ruang, Prof Putu Rumawan, mengatakan bencana banjir di Bali tidak hanya disebabkan faktor curah hujan. Tetapi juga disebabkan oleh kondisi alih fungsi lahan dan penyempitan saluran irigasi. Hal ini telah Rumawan amati sejak banjir bandang di Denpasar pada 10 September 2025 lalu.
Selain kawasan hilir Bali di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, Rumawan mengatakan banjir juga terjadi di kawasan hulu Bali. Baginya, fenomena ini adalah implikasi dari berkurangnya daerah resapan air yang tergantikan oleh bangunan.
“Karena daerah resapan ini khususnya di Denpasar sudah melebihi 60 persen untuk bangunan. Daya serapnya sudah kurang,” kata Rumawan saat diwawancara IDN Times Senin lalu, 2 Maret 2026.
Alarm darurat ekologi untuk Denpasar

Hujan selama tiga hari berturut-turut sejak 21 Februari 2026 lalu telah merendam sejumlah lokasi di Denpasar. Bagi Rumawan, kondisi ini adalah alarm darurat ekologis untuk Denpasar.
Berkurangnya lahan sawah dan ruang terbuka hijau perkotaan, akibat pergeseran kultur ekologi menjadi ekonomi. Pergeseran ini mengakibatkan lahan sawah terimpit dan saluran irigasi turut menyempit.
“Karena memang di samping lahan sawah, ada juga irigasi sawah itu tidak lagi seperti dulu, buntu di beberapa titik sehingga dia (banjir) akan meluber ke tempat yang rendah gitu. Itu salah satunya,” papar Rumawan.
Sawah berkurang, sampah bertambah

Selain menyinggung masalah sawah berkurang, sampah juga menjadi penyebab tambahan banjir di perkotaan. Rumawan menegaskan, bertambahnya sampah di Bali juga bagian dari pergeseran ekologi kultur warga. Berkurangnya lahan sawah menyisakan kenyataan bahwa subak bisa jadi telah kehilangan peran sejatinya.
“Subak sudah berubah, jadi tidak lagi pura subak. Misalkan ikatan itu sudah lepas, sehingga dengan demikian ini social engineering-nya menjadi berubah lagi untuk daerah perkotaan,” tutur Rumawan.
Menurut Rumawan, hal-hal yang diinginkan warga modern saat ini, berdampak terhadap kehidupan sosial, lingkungan, dan ekonomi.
Alih fungsi tak terelakkan

Sawah menjelma menjadi beton, sehingga petani mulai bergeser pilihan. Rumawan mengamati, petani di lahan persawahan dan pariwisata berganti peran menjadi penjual jasa.
“Akibatnya budaya kita tidak akan lagi kepada budaya pertanian, tapi sudah menjadi jasa budaya jasa,” ucapnya.
Hal ini tidaklah sepenuhnya keinginan petani. Menurutnya, hal ini lahir karena minimnya pilihan dalam pertanian. Hasil tak menentu, modal pertanian kian meninggi, dan ancaman gagal panen di depan mata. Faktor-faktor tersebut membuat petani melepas profesinya agar mampu meraup keuntungan kilat di dunia pariwisata.
Irigasi menyempit efek alih fungsi menyebabkan banjir berulang

Berkurangnya sawah akibat pembangunan, membahayakan peran saluran irigasi. Rumawan menjelaskan, air punya sifat liar yang mengalir ke mana saja. Tanpa jalur yang tepat, air akan segera menghantam berbagai objek di depannya.
Jika semua lahan tertutup beton, air akan menuju ke irigasi. Namun, jika irigasi tidak memadai karena penyempitan, air akan terus berpindah dengan caranya.
“Ketika volumenya gak memadai dia (air) berpindah ke jalan dan berpindah ke tempat yang rendah,” kata dia.
Rumawan menyarankan agar ada dialog soal daya tampung air ke dalam irigasi. Mengetahui pelimpahan air dengan mempertimbangkan luas lahan, maka langkah selanjutnya memperluas aliran irigasi. Tujuannya agar air memiliki tempat untuk mengalir dan tidak meluber. Menurut Rumawan, banjir di Denpasar disebabkan buntunya saluran irigasi.
“Ketika subak-subak itu sudah banyak pembangunan apakah perumahan, apakah sekolah, ataukah industri yang lain. Itu pasti ada yang buntu saluran irigasi yang tidak dibuat ketika dibangun bangunan-bangunan itu. Dia tidak membuat salurannya tidak dihubungkan,” papar Rumawan.

















