Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Nilai Dolar Melambung, Produsen Tempe Waswas Harga Bahan Baku Naik

Nilai Dolar Melambung, Produsen Tempe Waswas Harga Bahan Baku Naik
Produsen tempe di Tabanan saat membuat tempe (IDN Times/Wira Sanjiwani)
Intinya Sih
  • Kenaikan nilai dolar AS bikin produsen tempe di Tabanan khawatir harga kedelai impor naik, padahal saat ini masih stabil di sekitar Rp10.450 per kilogram.
  • Untuk menekan biaya produksi tanpa menaikkan harga jual Rp5 ribu per potong, produsen mengurangi ketebalan tempe dari 2,5 sentimeter menjadi 2 sentimeter.
  • Meski biaya bahan baku dan plastik meningkat, produsen masih meraih keuntungan harian Rp300–400 ribu dari pengolahan 90–100 kilogram kedelai yang terserap penuh di pasar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Tabanan, IDN Times - Kenaikan nilai dolar Amerika Serikat (USD) terhadap Rupiah memicu kekhawatiran di kalangan perajin tempe di Tabanan. Hal ini karena bahan baku tempe dalam hal ini kedelai masih tergantung impor dari AS. Kenaikan nilai USD ini dikhawatirkan turut menaikkan harga kedelai.

Mohammad Abdulah, salah satu produsen tempe di Pasar Obral, Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan, mengatakan saat ini harga kedelai masih stabil. "Belum ada kenaikan kedelai impor. Tetapi dengan penguatan penguatan USD takutnya berdampak langsung pada lonjakan harga kedelai impor," ujarnya, Jumat (22/5/2026).

1. Produsen tempe Tabanan khawatir stabilnya harga kedelai impor tidak bertahan lama

IMG-20260409-WA0010.jpg
Produsen tempe di Tabanan saat membuat tempe (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Abdulah mengaku saat ini memang harga jual kedelai impor memang belum ada kenaikan. Tetapi pihaknya tetap waswas karena informasi kenaikan dolar sudah beredar di kalangan produsen tempe sejak sepekan terakhir.

"Saat ini harga kedelai masih stabil di angka Rp10.450 per kilogram. Namun, tetap khawatir kondisi ini tidak akan bertahan lama jika tekanan kurs USD terus berlanjut," ujarnya.

Selain kenaikan harga kedelai, tekanan biaya juga datang dari harga plastik pembungkus yang melonjak signifikan, dari Rp415 ribu per bal menjadi Rp600 ribu per bal.

2. Produsen tempe tetap mempertahankan harga jual tempe

IMG-20260409-WA0008.jpg
Produsen tempe Tabanan lakukan penipisan tempe hingga 0.5 cm (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Untuk menyiasati potensi kenaikan biaya produksi, Abdulah memilih tidak menaikkan harga jual tempe. Sebagai gantinya, dia mengurangi ukuran produk. Ketebalan tempe yang sebelumnya sekitar 2,5 sentimeter kini dipangkas menjadi 2 sentimeter, dengan panjang tetap 20 sentimeter. Harga jual pun dipertahankan di Rp5 ribu per potong.

Dia menegaskan, menaikkan harga jual bukan pilihan mudah. Pasalnya, tempe dikenal sebagai makanan rakyat yang harus tetap terjangkau. “Kalau harga naik, pembeli bisa berkurang. Tempe itu identik makanan murah,” katanya.

3. Produsen tempe masih mendapat keuntungan

IMG-20260409-WA0009.jpg
Produsen tempe di Tabanan (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Dalam sehari, Abdulah mengolah sekitar 90 hingga 100 kilogram kedelai dan menghasilkan sekitar 300 potong tempe. Seluruh produksi tersebut terserap pasar karena telah memiliki pelanggan tetap. Di tengah kenaikan harga kedelai, Abdulah mengaku masih mampu meraih keuntungan sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari, dari total modal produksi sekitar Rp 1 juta.

Abdulah berharap harga kedelai dapat kembali stabil di kisaran Rp8 ribu hingga Rp9 ribu per kilogram. Dengan harga tersebut, dia bisa mengembalikan ukuran tempe ke kondisi ideal, yakni ketebalan sekitar 3,5 sentimeter dan panjang 22 sentimeter.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang

Latest News Bali

See More