Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bali Masih Bisa Melihat Bintang di Tengah Ancaman Polusi Cahaya

Bali Masih Bisa Melihat Bintang di Tengah Ancaman Polusi Cahaya
Ilustrasi siluet seseorang berdiri di bawah langit berbintang. (pexels.com/Thirdman)
Intinya Sih
  • Abdi Ahsan menilai Bali masih beruntung karena langit malamnya memungkinkan masyarakat melihat bintang, berbeda dengan Jakarta yang sudah terdampak polusi cahaya.
  • Ia mengingatkan bahwa pencahayaan berlebihan di kawasan wisata seperti Ubud bisa menghilangkan pengalaman menikmati langit malam yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.
  • Abdi menyoroti pentingnya menjaga kegelapan langit demi kelestarian ekosistem, termasuk populasi kunang-kunang yang terganggu akibat penggunaan cahaya tidak tepat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Gianyar, IDN Times - Founder dan Direktur Lumina Group sekaligus Founder of E8, Abdi Ahsan, mengatakan masyarakat Bali masih beruntung karena masih bisa melihat bintang pada malam hari. Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan di Jakarta yang sulit melihat bintang akibat polusi cahaya.

"Di Bali masih beruntung bisa melihat bintang. Nah, jangan sampai nanti kehilangan bintang itu juga," terangnya.

Bali berpotensi pencahayaan yang terlalu terang

ilustrasi langit malam (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi langit malam (pexels.com/Pixabay)

Abdi mengatakan banyak wisatawan dari Eropa dan Amerika datang ke Ubud untuk menikmati alam Bali, termasuk pemandangan langit malam dan bintang. Menurutnya, pengalaman tersebut akan hilang jika pencahayaan di suatu kawasan terlalu terang.

"Artinya sia-sia kan. Gak ada experience-nya," ungkapnya.

Perlunya membuat langit lebih gelap

Ilustrasi seseorang di bawah langit bertaburan bintang (pexels.com/@7inchs)
Ilustrasi seseorang di bawah langit bertaburan bintang (pexels.com/@7inchs)

Lebih lanjut, Abdi mengatakan dampak pencahayaan terhadap lingkungan juga berkaitan dengan isu yang menjadi perhatian Dark Sky Organization.

Ia menyebut Indonesia merupakan satu-satunya negara di belahan selatan khatulistiwa yang memiliki teropong bintang Bosscha. Namun, kondisi saat ini disebut membuat pengamatan bintang di Bosscha terganggu akibat tingginya polusi cahaya.

"Kita berusaha untuk membuat langit di negara ini lebih gelap," ucapnya.

Pencahyaan juga berpengaruh terhadap ekosistem

ilustrasi kunang kunang (unsplash.com/Tony Phan)
ilustrasi kunang kunang (unsplash.com/Tony Phan)

Abdi menambahkan dampak pencahayaan juga dapat dilihat dari keberadaan kunang-kunang yang menjadi indikator lingkungan sehat. Menurutnya, penggunaan cahaya yang tidak tepat menjadi salah satu faktor berkurangnya populasi kunang-kunang.

"Dia gak bisa mating, jadi kalau ada cahaya gak kelihatan. Akhirnya dia gak nemu pasangan," pungkasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang

Latest News Bali

See More