Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Masih Eksis, Keberadaan Sekaa Manyi di Tabanan

Masih Eksis, Keberadaan Sekaa Manyi di Tabanan
Subak Asah, Desa Karya Sari, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan (Dok.IDN Times/Sudiastra)
Intinya Sih
  • Seka Manyi di Subak Asah, Tabanan, membantu petani memanen padi dengan gotong royong tanpa biaya tukang panen dari luar.
  • Anggota seka manyi berusia 20-50 tahun, mewariskan tradisi gotong royong selama tiga generasi dan masih lestari.
  • Seka manyi juga memanen hasil perkebunan di lahan anggotanya, kontribusi dalam musim panen mencapai 10 persen dari 75 hektare Subak Asah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tabanan, IDN Times - Pada debat terbuka Pilkada 2024 Tabanan yang digelar Rabu (20/11/2024) lalu mencuat sebuah fakta bahwa sekaa manyi atau kelompok tukang panen di Tabanan mulai terkikis keberadaannya. Rupanya, sekaa manyi ini masih ada dan lestari di beberapa wilayah di Bali.

Salah satunya di Subak Asah, Desa Karya Sari, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Keberadaan sekaa manyi di Subak Asah itu sangat membantu petani dalam hal memenuhi tenaga untuk memanen padi karena biaya operasional petani bisa ditekan.

1. Sekaa manyi memiliki prinsip gotong royong

Tanaman Padi (Pixabay.com/VincentNguyen)
Tanaman Padi (Pixabay.com/VincentNguyen)

Pekaseh Subak Asah, I Ketut Sudiastra memaparkan sekaa manyi di Subak Asah ada 10 orang yang semuanya juga anggota Subak Asah. Prinsip kerja sekaa manyi adalah gotong royong dan tidak memungut bayaran. "Jadi mereka secara bergantian dan terjadwal memanen padi di lahan anggotanya," ujar Sudiastra, Jumat (22/11/2024)

Oleh karena bersifat gotong royong, biaya operasional petani bisa ditekan, terutama dalam mengeluarkan dana untuk membayar tukang panen.

"Kalau menyewa tukang panen dari luar itu bisa Rp80 ribu per hari.Tetapi selama ini karena ada sekaa manyi, petani di Subak Asah belum pernah memakai tukang panen dari luar," ujar Sudiastra.

2. Sudah ada sejak tiga generasi

Petani memegang padi (Freepik)
Petani memegang padi (Freepik)

Menurut ingatan Sudiastra, keberadaan sekaa manyi di Subak Asah ini  sudah ada sejak tiga generasi lalu. "Seingat saya,  sudah ada sejak jaman nenek saya hingga sekarang," ujarnya.

Adapun anggota sekaa manyi di Subak Asah memiliki rentang usia 20 tahun hingga 50 tahun.  "Jadi merata usianya. Ada yang paling muda sekitar 20 tahunan," paparnya. Sehingga bisa dikatakan generasi muda pun saat ini masih ada yang mau terjun menjadi sekaa manyi dan melestarikan keberadaannya.

3. Sekaa manyi tidak hanya memanen padi

ilustrasi tanaman padi (pexels.com/Sergei A)
ilustrasi tanaman padi (pexels.com/Sergei A)

Sudiastra menjelaskan, sekaa manyi di Subak Asah ini tidak hanya memanen padi, tetapi juga memanen hasil perkebunan. Prinsipnya sama yaitu  gotong royong dan bergantian memanen di lahan masing-masing anggotanya.

Saat ini Subak Asah yang memiliki luas 75 hektare sedang memasuki  musim panen dan sekitar 10 persen sudah dipanen oleh sekaa manyi. "Rata-rata hasil panen per hektare di Subak Asah sekitar 4 ton," ujar Sudiastra.

Untuk harga jual gabah menurut Sudiastra harganya saat ini di Rp6000 per kilogram gabah basah. "Petani di Subak Asah itu menyimpan 50 persen panennya untuk kebutuhan sendiri. Sementara 50 persennya dijual dalam bentuk gabah basah yang belum dikeringkan," jelas Sudiastra.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ni Ketut Wira Sanjiwani
Ita Lismawati F Malau
Ni Ketut Wira Sanjiwani
EditorNi Ketut Wira Sanjiwani
Follow Us

Latest News Bali

See More