Menghadapi Pertanyaan Kapan Nikah, Laki-Laki Cenderung Lebih Santai

- Laki-laki cenderung lebih santai menghadapi pertanyaan kapan menikah, melihat hubungan sebagai pilihan pribadi bukan bentuk validasi sosial.
- Andri menilai setiap orang punya waktu dan jalan hidup berbeda, sehingga tekanan menikah tidak terlalu memengaruhi pandangannya terhadap hubungan.
- Psikolog menjelaskan laki-laki juga menghadapi tekanan pernikahan, namun lebih pada kesiapan finansial dan peran sebagai kepala keluarga dibandingkan faktor usia.
Denpasar, IDN Times - Berbeda dengan perempuan, laki-laki cenderung lebih santai menghadapi tuntutan pernikahan. Ade (37) menyampaikan, di usianya yang sekarang, cara pandang terhadap hubungan ikut berubah. Baginya hubungan adalah pilihan bukan validasi.
Dulunya, ia sempat kekeh menikah di usia muda demi membahagiakan ayahnya. Namun, rencananya tidak berjalan mulus. Hubungannya kandas di tahun 2021 setelah ia memutuskan melepaskan diri dari hubungan toksik. Banyak juga tekanan yang ia alami dari lingkungan pertemanan, namun ia tidak menjadikannya itu sebagai beban.
"Masa bodoh. Sebenarnya lebih mengalir saja tanpa target. Yang penting bertanggung jawab atas pilihan tersebut," ujarnya.
1. Perlunya membangun pemahaman bahwa jalan hidup orang berbeda-beda

Andri (34) mengaku telah lama menjalin hubungan Long Distance Relationship (LDR). Tahun 2026 ini hubungannya genap 11 tahun. Baginya, pasangan adalah support system, bagaimana mereka saling membangun, saling mendukung untuk tujuan atau cita-cita masing-masing atau tujuan bersama. Sehingga ia tidak terlalu terganggu dengan tuntutan pernikahan yang ditujukan kepadanya.
"Ya, itu pasti pernah, tapi justru dari luar keluarga inti biasanya. Bukan dari orangtua, semisal dari bude atau yang lain. Emm, tidak terlalu mengganggu, karena saya berpegangan pada hidup adalah kita yang jalani, dan kita punya peran serta zona waktu masing-masing setiap orang," ucapnya.
2. Laki-laki lebih mempertimbangkan yang dijalani hari ini

Lebih lanjut, Andri menyampaikan semakin bertambahnya usia, dirinya cenderung berpikir banyak orang yang bersatu akhirnya bercerai. Fakta yang ia temui, mereka justru lebih bahagia saat bercerai. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan di benaknya: Lantas apa tujuan hidup sebenarnya? Apakah untuk berpasangan atau untuk berbahagia?
"Kalau kita bisa membina, bisa hidup dalam cinta kasih, mengesampingkan ego, saling mendukung. Karena saya bahagia dengan diri saya, dengan apa yang saya miliki dan apa yang saya jalani sekarang, saya bersyukur atas apa yang saya terima sekarang," kata dia.
3. Tuntutan pernikahan dihadapi laki-laki lewat sudut pandang berbeda

Psikolog Klinis Bali Bersama Bisa, Ni Luh Putu Diah Putri Rahayu, mengatakan tidak ada jawaban yang pasti soal tuntutan kapan menikah. Namun seseorang bisa memberikan jawaban dengan komunikasi yang asertif, misalnya bisa menyampaikan fokus yang sedang dijalani dalam hidup saat ini. Biasanya adalah karir atau bisa menyampaikan secara jujur kondisi yang sedang dialami contohnya sedang mempersiapkan mental sebelum memulai pernikahan nanti.
"Fenomena ini juga dialami oleh laki-laki, hanya saja bentuk tekanannya berbeda. Perempuan biasanya ditanya soal usia maupun kapan akan menikah, sedangkan laki-laki lebih sering dituntut soal kesiapan finansial maupun pemimpin kepala keluarga," ujarnya.
![[QUIZ] Uji Pengetahuan Tebak Makna Simbol Dewi Saraswati](https://image.idntimes.com/post/20220830/inspirasi4-c7c8a956c08d5240d23a9803c984bd4e-368be3d4b386e227c928db93b011873b.jpg)

















