Ogoh-Ogoh Kunti Seraya Kecamatan Kediri (IDN Times/Wira Sanjiwani)
Ogoh-Igoh Kunti Seraya merupakan karya STT Permata dari Banjar Tanah Bang, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Karya ini mengisahkan jagat raya berdiri di ambang perang agung Bharatayudha. Ketika langit seakan menahan napas dan bumi bergetar menanti takdirnya, turunlah dua kekuatan dahsyat ke dunia fana: Kalantaka dan Kalanjaya.
Mereka bukan sekadar raksasa penebar teror, melainkan jelmaan makhluk kahyangan yang terkutuk karena tidak bisa mengontrol hawa nafsu. Dari cahaya mereka jatuh ke jurang kegelapan; dari kemuliaan mereka berubah menjadi amarah yang membara.
Kehadiran mereka segera dimanfaatkan oleh ambisi Kurupati yang haus kemenangan. Sejak saat itu, udara Indraprastha terasa berat dan muram. Malam-malam dipenuhi lolongan yang menggema di antara bayang, angin membawa bisikan firasat buruk, dan hati para Pandawa diliputi kegelisahan yang tak terucap-seolah alam sendiri merasakan goyahnya keseimbangan dharma.
Melihat ancaman itu, Batara Narada menuntun Dewi Kunti memohon petunjuk kepada Dewi Durga, pada hari suci yang dipenuhi kekuatan gaib. Namun permohonan keselamatan itu dibalas dengan syarat yang mengiris batin. Sahadewa, Putra Dewi Kunti, harus dijadikan sebagai gantinya.
Hati Kunti terbelah antara cinta seorang ibu dan kewajiban menjaga dharma. Ia menolak dengan seluruh kasihnya. Tetapi penolakan itu justru membuka celah bagi kegelapan. Energi Kalika merasuki dirinya, mengaburkan kesadaran, membangkitkan emosi dalam diri hingga tanpa daya ia menyeret dan membawa Sahadewa ke hadapan Dewi Durga.
Namun sesungguhnya, yang diminta bukanlah pengorbanan darah. Dewi Durga menghendaki pembebasan dari sisi gelap yang menyelimuti dirinya sendiri. Sahadewa, dengan kerendahan hati, merasa tak layak memikul tugas sebesar itu. Hingga akhirnya kekuatan Siwa menyatu dalam dirinya, memberi keberanian dan kesucian niat.
Melalui tangan Sahadewa, pengruwatan pun terlaksana. Kegelapan pun luruh, murka menjelma cahaya. Durga kembali pada wujud sucinya sebagai Dewi Uma yang lembut, penuh kasih, dan memancarkan terang kedamaian.
Dari peristiwa agung itu lahirlah ajaran yang mendalam: bahwa kegelapan bukanlah sesuatu yang harus dimusnahkan, melainkan disucikan. Bahwa kemenangan dharma tidak selalu ditegakkan dengan pedang, tetapi dengan kesadaran, ketulusan, dan keberanian menaklukkan sisi gelap dalam diri.
Dengan restu para dewa, para Pandawa pun melangkah menuju Kurukshetra bukan sekadar untuk berperang, melainkan untuk menegakkan kembali keseimbangan darma.