Mahasiswa di Bali: Tewasnya Affan Cerminan Kerusakan Sistemik Aparat

Denpasar, IDN Times - Kendaraan berlalu-lalang melintas di Jalan Raya Sudirman, Kota Denpasar, pukul 13.49 Wita, Jumat (29/8/2025). Sisi kanan jalan, terbentang spanduk bertuliskan Polri Biadab! Kepada Rakyat-Justice For Affan dengan tinta berwarna merah. Affan adalah pemuda berusia 21 tahun, yang bekerja sebagai pengendara ojek online (ojol) di Jakarta. Ia meninggal dilindas kendaraan taktis (rantis) polisi saat demonstrasi di Jakarta pada Kamis malam, 28 Agustus 2025.
Kepala Bidang Kajian dan Aksi Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Unud, Firmansyah Krisna Maulana, berbelasungkawa atas meninggalnya Affan. Firman mengecam tindakan represif aparat kepolisian terhadap para demonstran.
“Sayangnya, keresahan itu (warga) dibalas dengan pendekatan represif dari aparat kepolisian yang kita bisa saksikan secara brutal,” kata Firman saat dihubungi IDN Times via pesan WhatsApps, Jumat (29/8/2025).
1. Warga resah atas kebijakan pemerintah, aparat justru bertindak represif

Firman berpendapat, aksi di Jakarta adalah bentuk akumulasi keresahan warga atas kebijakan pemerintah, eksekutif, maupun legislatif yang jauh dari orientasi sesungguhnya untuk warga. Meninggalnya Affan, bagi Firman adalah bukti nyata bahwa kepolisian belum menjadi institusi yang mengedepankan perlindungan terhadap warga negara.
“Ini memperlihatkan kerusakan sistemik dalam tubuh Polri, di mana pola brutalitas aparat masih terus berulang.”
Tewasnya Affan adalah cermin kerusakan sistemik dalam kultur aparat yang menormalisasi kekerasan sebagai instrumen pengendalian. Firman mengungkapkan, padahal prinsip dasar negara hukum adalah menjamin keselamatan warga negara, bukan memperlakukan warga sebagai musuh.
“Aparat polisi seharusnya dan sejatinya hadir untuk menjamin rasa aman, bukan justru menjadi ancaman bagi nyawa rakyat,” jelasnya.
2. Protes menguat ke berbagai daerah, Gita heran entah apa yang merasuki aparat

Sementara Mahasiswa Unud, Gita Andari, syok atas meninggalnya Affan, dan berbagai poster bernuansa merah maupun hitam menyala dengan berbagai tagar merespon situasi negara. Gita menyayangkan bentuk represif aparat kepada massa aksi. Gita mengamati aksi akan meluas ke berbagai kalangan warga di seluruh daerah se-Indonesia.
“Entah dirasuki apa para aparat tersebut, hingga tega melindas masyarakat. Lebih miris lagi almarhum Affan tidak memiliki niat melukai siapa pun. Dia hanya bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup,” terang Gita kecewa kepada IDN Times, Jumat (29/8/2025).
3. Kemarin satu orang kehilangan nyawa, esok hari kita bisa jadi korban brutalitas aparat

Firman mempertanyakan, jika pola represif aparat terus berulang, untuk siapa sebenarnya negara ini bekerja? Satu orang kehilangan nyawa, dan tidak tahu bagaimana hari esok.
“Mungkin kemarin hanya satu orang yang kehilangan nyawa, tapi kita tidak tahu hari esok, mungkin saya dan kalian bisa jadi korban dari brutalitas aparat yang tidak mau berbenah,” jawab Firman.
Sementara, Gita menganggap peristiwa brutalitas aparat adalah pelanggaran atas Pancasila. Baginya, sejak lama setiap ada demonstrasi untuk menegakkan demokrasi, pembungkaman kepada sipil maupun jurnalis selalu terjadi.
“Semua diadang, tak jarang lewat kekerasan. Lantas sampai sekarang pun demokrasi ini masih hanya berupa pajangan, tapi tidak dapat dirasakan manfaatnya terutama bagi mereka yang lemah dan tertindas,” tegas Gita.