Galeri Tidak Selalu Menjadi Ruang Utama Karya Seni Seniman

Denpasar, IDN Times - Ruang publik, galeri, tidak selalu menjadi pilihan seniman untuk mengenalkan karyanya. Dari pengalaman seniman berdarah China, Ade Kurniawan alias Lie Ping-Ping, pemanfaatan ruang galeri untuk pameran karya seni tidak menjadi pakem atau satu-satunya jalan bagi seniman untuk menampilkan karyanya.
Pameran karya seni di galeri menjadi pilihan tersendiri atas pertimbangan kesepakatan dua belah pihak. Baginya, galeri tidak efektif karena lukisannya malah banyak yang terjual di luar ruang galeri. Namun pada dasarnya, baik di dalam maupun luar galeri, pameran karya seni tetap memiliki pesonanya sendiri.
"Tertarik tapi tidak harus selalu pameran itu mesti di galeri. Karena seni tidak sesempit itu, jika memang yang dipamerkan adalah karya seni harusnya tidak sebaku itu pameran harus di galeri seni saja," ungkapnya, pada Kamis (5/2/2026).
1. Galeri mem-branding harga karya seni lebih tinggi

Kesepakatan antara seniman dan pihak galeri juga berpengaruh terhadap pendapatan yang diterima sang seniman dari hasil penjualan karyanya. Lie Ping-Ping mengatakan, karya seni yang terjual di acara pameran atau galeri biasanya akan mendapatkan publikasi bahwa karya si seniman terjual. Dari sisi inilah ada rasa kebanggaan tersendiri karena diketahui publik. Namun di sisi lain, harga karya seni juga akan berkali lipat daripada harga di luar galeri.
"Ada persentase bagian yang harus diterima oleh pihak galeri. Jika terjual di rumah biasanya harga lebih murah karena tidak kena persentase dari galeri tapi tidak mendapat publikasi (kebanggaan)," ungkapnya.
Umumnya, galeri akan meminta 30 persen jika terjual dalam pameran. Namun ini tidak menjadi aturan baku dari kesepakatan karena setiap galeri memiliki poin kesepakatan yang berbeda. Misalnya saja ada beberapa galeri yang meminta persentase mencapai 50 persen dengan dukungan tambahan berupa katalog berkualitas yang disediakan oleh galeri.
"Tapi ada juga sistem lanjutan, sistem kongsinyasi (kerja sama). Lukisan simpelnya kita titip di galeri untuk dipajang, dan galeri berusaha menjual. Nah, yang ini biasanya agak ugal-ugalan. Karyaku pernah mau dipinjam untuk dipajang dan dijualkan, tapi galeri minta bagian 60 persen dari hasil penjualan," terangnya.
2. Galeri sebelum dan sesudah berkembangnya media sosial

Sementara itu, seniman lainnya, I Made Romi Sukadana, mengatakan galeri dapat membantu untuk mendekatkan karya seninya dengan publik. Sebelum adanya media sosial, keberadaan galeri diakuinya sangat mengangkat nama seniman atau memberikan citra dan gengsi tersendiri. Setelah media sosial berkembang, masyarakat bisa mudah bertemu dengan sang seniman.
"Kami sebagai seniman sangat berterima kasih kepada galeri-galeri yang mau memamerkan karya seni. Tanpa galeri, seniman itu dulu ya gak ada tempat," ungkapnya.
3. Galeri bisa membangun citra seorang seniman

Pengelola galeri di Griya Santrian Sanur, Made Dollar Astawa, mengatakan dalam setahun, galeri ini memfasilitasi 6 hingga 7 kali pameran seniman dari dalam maupun luar negeri. Para seniman yang berkeinginan pameran di galeri harus mengirimkan proposal yang kemudian diseleksi.
Pihaknya mengklaim peran galeri dalam mem-branding nama seniman cukup efektif. Setidaknya dalam sekali pameran, sekitar 25 karya berukuran medium akan memanjakan mata pengunjung dan tamu hotel.
Ia mengklaim bahwa Griya Santrian Galerry menerima puluhan proposal dalam setahun. Namun tidak semua terfasilitasi, karena masing-masing pameran diberikan waktu 2 bulan. Sehingga dalam setahun, hanya ada 6 seniman yang terfasilitasi. Dengan situasi saat ini dan tantangan media sosial, ia mengungkap minat seniman melakukan pameran karya di ruang publik cukup tinggi.
"Banyak teman-teman seniman posisi mereka naik kelas (setelah pameran di galeri). Karya-karyanya terinformasikan," terangnya.


















