Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Keramik Berglasir dari Desa Pejaten Jadi Produk Unggulan Ekspor

IMG-20260205-WA0023.jpg
Putu Oka Mahendra menunjukkan produk keramik berglasir asal Desa Pejaten (IDN Times/Wira Sanjiani)

Tabanan, IDN Times - Baru-baru ini Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan mendapatkan juara kedua untuk lomba Desa Ekspor tahun 2025 yang digelar Pemerintah Pusat. Kemenangan ini membuat Desa Pejaten berhak mendapatkan fasilitas seperti pembinaan, pendanaan, hingga promosi.

Owner Tanteri Keramik yang mewakili Desa Pejaten dalam lomba tersebut, Putu Oka Mahendra, mengatakan produk ekspor unggulan Desa Pejaten adalah kerajinan keramik dan terakota.

"Desa Pejaten saat ini memiliki delapan eksportir yang masing-masing terjun di bidang kerajinan keramik, terakota, iron art, hingga ekspor buah salak," ujarnya, Kamis (5/2/2026).

Atas kemenangan Desa Pejaten dalam lomba Desa Ekspor 2025, ditambah dorongan dari Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten (BRIDA) Tabanan, dua produk unggulan mereka didaftarkan untuk mendapatkan Indikasi Geografis (IG) dalam Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Adapun dua produk tersebut adalah keramik berglasir dan terakota.

1. IG HKI akan melindungi produk dari peniruan dan pemalsuan

IMG-20260205-WA0022.jpg
Proses pembuatan tableware keramik di Desa Pejaten (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Oka Mahendra menjelaskan, alasan keramik berglasir dan terakota diajukan untuk mendapatkan IG HKI, karena kedua produk tersebut menjadi ciri khas dari Desa Pejaten. Seperti keramik berglasir motif cicak, capung, dan kodok.

"Begitu juga kerajinan terakota. Karena ada unsur geografis dan karakterisik khas sebuah daerah, maka bisa didaftarkan untuk mendapatkan IG HKI," jelasnya.

Apabila disetujui, maka produk keramik berglasir dan terakota Desa Pejaten akan mendapatkan logo khusus yang melindungi produk dari peniruan dan pemalsuan. Logo tersebut juga akan meningkatkan nilai ekonomi dan daya saing produk, mengangkat identitas, citra daerah, serta mendorong pelestarian lingkungan dan kearifan lokal.

"Selain itu, dengan adanya IG HKI, maka produk akan terjamin keaslian dan kualitasnya," katanya.

2. Mereka mengekspor hingga ke Amerika dan Swiss

IMG-20260205-WA0025.jpg
Produk tableware Tanteri Keramik di Desa Pejaten (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Menurut Oka, sebagai eksportir produk ini, pasar luar negeri berminat pada keramik yang tidak hanya untuk dipakai dalam kebutuhan sehari-hari (tableware), tetapi juga ada seni di dalamnya. Ia mengekspor produk Tanteri Keramik ke Los Angeles, Australia, hingga Swiss. Ia optimis setelah menjadi juara dalam lomba Desa Ekspor, produk-produknya akan semakin terbantu dalam segi penjualan maupun promosi.

"Serapan produk keramik Tanteri Bali memang masih didominasi pasar dalam negeri sekitar 85 persen. Baru 15 persen yang terserap pasar ekspor," kata Oka.

3. Tenaga kerja tergantung dari luar Bali

IMG-20260205-WA0020.jpg
Proses pembuatan tableware keramik di Desa Pejaten (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Satu tantangan dalam membuat produk kerajiinan keramik berkualitas ekspor adalah pemenuhan tenaga kerja. Menurut Oka, pihaknya kesulitan memberdayakan warga lokal di Desa Pejaten untuk bekerja di bidang pembuatan keramik. Untuk memenuhi tenaga kerja, pihaknya menyerap tenaga kerja dari luar, terutama Jawa. Tentunya mereka harus ikut pelatihan dulu.

"Ini karena rata-rata penduduk di sini sudah menjadi owner kerajinan sendiri. Selain itu juga lebih tertarik bekerja di bidang jasa dan hospitality seperti bekerja di kapal pesiar atau pariwisata," jelasnya.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More

Sampah Spesifik di Bali Diperlakukan Spesial, Berdampak ke Politik

07 Feb 2026, 01:47 WIBNews