Tumpek Uye, Bentuk Hubungan Harmonis Manusia dan Hewan

- Tumpek Uye mengajarkan kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari makhluk hidup lainnya, termasuk hewan.
- Tumpek Uye merepresentasikan nilai Ahimsa atau tanpa kekerasan, yang mengajarkan manusia untuk menjalin hubungan harmonis dengan hewan tanpa kekejaman.
- Di tengah krisis lingkungan global, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Tumpek Uye dinilai semakin relevan.
Tabanan, IDNTimes-Hari suci Tumpek Uye jatuh setiap Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Uye. Tumpek Uye juga dikenal dengan sebutan Tumpek Kandang. Hari tersebut merupakan momentum khusus bagi umat Hindu di Bali untuk memuliakan hewan.
Istilah “kandang” merujuk pada tempat pemeliharaan hewan, yang menandakan bahwa hari tersebut didedikasikan bagi penghormatan terhadap hewan ternak maupun hewan peliharaan sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia.
Dalam pelaksanaannya Tumpak Uye, umat Hindu memandikan, menghias, memberi sesajen, serta memanjatkan doa bagi hewan-hewan seperti sapi, kerbau, ayam, anjing, kucing, burung, hingga ikan peliharaan. Hewan-hewan tersebut diyakini memiliki peran dan kontribusi besar bagi keberlangsungan hidup manusia, sehingga patut dihormati secara lahir dan batin.
1. Ajarkan manusia tidak dapat dipisahkan dari mahluk hidup

Tumpek Uye mengajarkan kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari makhluk hidup lainnya, termasuk hewan. Nilai ini tidak hanya menjadi filosofi, tetapi diwujudkan secara konkret melalui tradisi keagamaan yang menumbuhkan rasa hormat, syukur, dan kasih sayang terhadap seluruh ciptaan Tuhan.
Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menyampaikan bahwa Tumpek Uye sejalan dengan ajaran Tat Twam Asi, yang bermakna “aku adalah engkau, engkau adalah aku”. Menurutnya, seluruh makhluk hidup merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan memiliki kedudukan yang patut dihormati.
“Hewan bukan sekadar objek atau makhluk yang bisa dieksploitasi, melainkan bagian dari semesta yang harus diperlakukan dengan kasih dan tanggung jawab,” ujarnya, Sabtu (7/2/2026)
2. Tumpek Uye menanamkan empati terhadap mahluk hidup

Sanjaya melanjutkan Tumpek Uye juga merepresentasikan nilai Ahimsa atau tanpa kekerasan, yang mengajarkan manusia untuk menjalin hubungan harmonis dengan hewan tanpa kekejaman. Nilai ini menjadi bagian tak terpisahkan dari konsep Tri Hita Karana, yakni keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan.
Dalam konteks pendidikan karakter, Tumpek Uye memiliki peran penting sebagai sarana pembelajaran spiritual, terutama bagi generasi muda. Keterlibatan anak-anak dalam perayaan ini menanamkan empati sejak dini, bahwa hewan juga memiliki hak untuk hidup layak dan dihargai.
3. Tumpek Uye semakin relevan dengan kondisi lingkungan saat ini

Di tengah krisis lingkungan global yang ditandai dengan rusaknya ekosistem, punahnya berbagai spesies, dan perubahan iklim, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Tumpek Uye dinilai semakin relevan. Melalui pelestarian tradisi ini, Pemkab Tabanan berharap masyarakat dapat terus menjaga keharmonisan dengan alam sebagai fondasi mewujudkan Tabanan Era Baru yang berkelanjutan
"Pemerintah Kabupaten Tabanan terus mengajak masyarakat untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal Bali . Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut tercermin dalam perayaan Hari Suci Tumpek Uye, yang sarat makna spiritual, ekologis, dan kemanusiaan," ujarnya Sanjaya.


















