Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kisah Mahasiswa Undiksha Jalan Kaki 23 Jam dari Buleleng-Karangasem

Kisah Mahasiswa Undiksha Jalan Kaki 23 Jam dari Buleleng-Karangasem
Kadek Yogi Suardana (menggendong tas) saat jalan kaki dari Undiksha Singaraja ke rumahnya di Desa Sebudi, Karangasem untuk rayakan kelulusan. (Dok.IDN Times/Kadek Yogi Suardana)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • I Kadek Yogi Suardana, lulusan Undiksha dengan IPK 3,93, merayakan kelulusan dengan berjalan kaki hampir 23 jam dari Buleleng ke Karangasem sebagai simbol perjuangan dan rasa syukur.
  • Selama perjalanan, Yogi menghadapi tantangan fisik seperti kaki lecet namun tetap melanjutkan langkahnya dengan semangat dan kreativitas untuk mengurangi rasa sakit di tengah perjalanan panjang.
  • Aksi jalan kaki ini juga dimanfaatkan Yogi untuk menggalang donasi sekitar Rp2 juta yang kemudian disalurkan ke panti asuhan sebagai bentuk kepedulian sosial dan penerapan nilai ilmunya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Karangasem, IDN Time s- Banyak mahasiswa merayakan kelulusan dengan pesta atau liburan. Namun, cara berbeda dipilih I Kadek Yogi Suardana (21).

Lulusan Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) ini memutuskan berjalan kaki dari Singaraja, Kabupaten Buleleng, menuju rumahnya di Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.

Aksi yang ditempuh selama hampir 23 jam itu sempat viral di media sosial. Bukan sekadar perjalanan fisik, langkah panjang tersebut menjadi simbol perjuangan Yogi selama menempuh pendidikan hingga akhirnya berhasil menyandang gelar sarjana.

1. Ada tantangan saat kuliah

Ilustrasi nilai akademik (pexels.com/Andy Barbour)
Ilustrasi nilai akademik (pexels.com/Andy Barbour)

Di balik capaian akademiknya yang mengesankan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,93, Yogi mengaku pernah mengalami masa sulit selama kuliah.

Kesibukannya mengikuti berbagai organisasi kampus membuat beberapa mata kuliah tertunda. Bahkan, ia sempat tertinggal hingga 12 SKS dan harus mengulang sejumlah mata kuliah semester tiga pada semester lima.

Kondisi tersebut sempat membuat rasa percaya dirinya menurun. Namun, Yogi memilih untuk bangkit dan menjadikan pengalaman itu sebagai motivasi.

"Ketika itu saya sempat tidak percaya diri. Tapi saya berpikir harus tetap bangkit dan membuktikan bahwa saya bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu," ujarnya, Sabtu (6/6/2026).

Usahanya tidak sia-sia. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan dalam waktu 3,9 tahun dengan hasil yang memuaskan.

2. Awalnga banyak teman menganggap idenya tidak masuk akal

NAA06351.jpg
Kadek Yogi Suardana (menggendong tas) saat jalan kaki dari Undiksha Singaraja ke rumahnya di Desa Sebudi, Karangasem untuk rayakan kelulusan. (Dok.IDN Times/Kadek Yogi Suardana)

Sebagai bentuk syukur atas kelulusannya, sekaligus memenuhi janji yang dibuat untuk dirinya sendiri (sesangi/nazar) Yogi memutuskan berjalan kaki dari kampus hingga rumahnya di Karangasem.

Keputusan tersebut awalnya menuai beragam respons dari teman-temannya. Tidak sedikit yang menganggap aksinya terlalu nekat.

"Saya bilang mau jalan kaki dari kampus sampai rumah. Banyak yang bilang saya gila atau nekat. Tapi saya ingin membuktikan bahwa saya bisa," katanya.

Meski begitu, penilaian orang lain tidak menyurutkan niatnya. Ia tetap menjalankan perjalanan yang telah direncanakan sejak lama tersebut.

3. Lecet di kaki menjadi tantangan terberat

NAA06496 (1).jpg
Kadek Yogi Suardana (menggendong tas) saat jalan kaki dari Undiksha Singaraja ke rumahnya di Desa Sebudi, Karangasem untuk rayakan kelulusan. (Dok.IDN Times/Kadek Yogi Suardana)

Selama perjalanan, Yogi menghadapi berbagai tantangan. Menariknya, bagian tersulit bukan saat menanjak, melainkan ketika harus melewati jalan menurun dalam kondisi kaki yang mulai lecet.

Rasa sakit akibat gesekan membuatnya harus mencari cara agar tetap bisa melanjutkan perjalanan. Salah satunya memasang pembalut di dalam sepatu untuk mengurangi tekanan pada kaki.

"Momen paling berat saat kaki mulai lecet di Desa Pempatan. Kalau tanjakan masih bisa dilawan dengan tenaga. Tapi saat turunan dan kaki sudah sakit, itu yang menjadi tantangan besar," kenangnya.

Ia juga menjaga kondisi tubuh dengan membatasi konsumsi makanan selama perjalanan agar tetap nyaman berjalan dalam waktu lama.

4. Kumpulkan donasi Rp2 juta untuk panti asuhan

NAA06538.jpg
Kadek Yogi Suardana (menggendong tas) saat jalan kaki dari Undiksha Singaraja ke rumahnya di Desa Sebudi, Karangasem untuk rayakan kelulusan. (Dok.IDN Times/Kadek Yogi Suardana)

Perjalanan itu tidak hanya dimaknai sebagai bentuk rasa syukur. Yogi juga memanfaatkan momen tersebut untuk menggalang donasi.

Dari aksi yang dilakukan, ia berhasil mengumpulkan sekitar Rp2 juta. Dana itu kemudian disalurkan kepada panti asuhan.

Menurut Yogi, ilmu dan kesehatan yang dimiliki seharusnya bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

"Saya ingin menunjukkan bahwa sehat itu bisa berdampak. Ilmu yang saya dapatkan juga harus bermanfaat dan bisa dibagikan kepada orang lain," ungkapnya.

5. Terus melangkah karena teringat perjuangan orang tua

NAA06496 (1).jpg
Kadek Yogi Suardana (menggendong tas) saat jalan kaki dari Undiksha Singaraja ke rumahnya di Desa Sebudi, Karangasem untuk rayakan kelulusan. (Dok.IDN Times/Kadek Yogi Suardana)

Ketika rasa lelah mulai datang, Yogi mengaku selalu mengingat perjuangan kedua orang tuanya.

Ayahnya, I Wayan Putu Astawa, merupakan pensiunan guru. Sementara sang ibu, Ni Komang Merta Asih, adalah ibu rumah tangga yang selama ini memberikan dukungan dan doa selama dirinya menempuh pendidikan.

"Kalau mulai lelah saya ingat keluarga, terutama orang tua yang sudah berjuang membantu saya kuliah. Itu yang membuat saya terus melangkah," katanya.

Setelah hampir 23 jam perjalanan dan beberapa kali beristirahat, Yogi akhirnya tiba di rumah. Kedatangannya disambut keluarga, kerabat, dan warga sekitar yang telah menunggu.

Bagi Yogi, perjalanan tersebut menjadi pengingat setiap tujuan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Ia berharap kisahnya bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa dan pelajar agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi hambatan dalam proses pendidikan.

Ke depan, Yogi bercita-cita melanjutkan pendidikan melalui jalur beasiswa dan menjadi tenaga pendidik. Baginya, ilmu pengetahuan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing

Latest News Bali

See More