Pasar Kumbasari Masih Sepi Wisman Meski Dolar AS Menguat

- Penguatan Dolar AS belum berdampak signifikan pada Pasar Kumbasari, di mana pedagang mengaku wisatawan mancanegara hanya melihat-lihat tanpa banyak berbelanja.
- Pedagang lokal dan wisatawan nusantara masih menjadi pembeli utama, meski penjualan grosir oleh-oleh dan rempah tetap lesu pascabanjir serta kondisi ekonomi yang sulit.
- BPS Bali mencatat penurunan 1,11 persen kunjungan wisman Januari–April 2026 dibanding tahun sebelumnya dan belum memastikan pengaruh langsung penguatan Dolar AS terhadap pariwisata Bali.
Denpasar, IDN Times - Rupiah telah menyentuh angka Rp18 ribu per 1 Dolar Amerika Serikat (AS). Muncul isu hal ini berdampak positif terhadap pariwisata Bali, terutama kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).
Namun, bagi pedagang oleh-oleh, Kadek Suartini, remah-remah pariwisata belum sepenuhnya menghampiri Pasar Kumbasari, Kota Denpasar. Selama menjaga kios, tak banyak wisman membeli.
“Turis paling cuma lihat-lihat, kalau ada yang beli cuma gelang, gantungan kunci,” ujar Suartini kepada IDN Times, Minggu (7/6/2026).
1. Pembeli lokal untuk dijual lagi

Suartini mengatakan, pembeli yang datang lebih banyak wisatawan nusantara (wisnus) atau pembeli untuk diecer.
“Sebelumnya lebih sering beli grosir ke sini orang lokal, paling banyak dicari produk kayu,” kata perempuan asal Nusa Penida, Kabupaten Klungkung ini.
Seingat Suartini, pembeli lokal itu menjual kembali secara ecer ke toko-toko di Ubud hingga Canggu. Meskipun demikian, pembelian grosir ini juga tidak banyak.
Berdasarkan pemantauan IDN Times pada Minggu (7/6/2026), keberadaan wisman di Pasar Kumbasari dapat dihitung jari. Sekitar pukul 14.21 Wita, hanya ada enam orang wisman di area kios pakaian pantai dan pernak-pernik.
Area penjual lukisan dan patung terlihat sepi pembeli. Kondisi ini serupa saat Maret 2026 lalu menjelang Nyepi dan Idul Fitri. Sementara itu, wisnus terlihat lebih banyak dan membeli berbagai jenis oleh-oleh. Ada juga yang terlihat membawa koper, hendak membeli secara grosir.
2. Curhat pedagang rempah, ekonomi serba susah

Seorang pedagang rempah di Pasar Kumbasari, Halimah, mengatakan pascabanjir 10 September 2025 lalu, kelesuan toko rempahnya masih terasa.
Perempuan berusia lanjut ini telah berjualan rempah di kios paling bawah Pasar Kumbasari selama bertahun-tahun. Ada berbagai jenis rempah mulai dari lada, dedaunan herbal, cengkeh, dan sebagainya. Hampir seluruh barang dagangannya berasal dari Pulau Jawa.
“Sekarang ada saja yang beli, tapi ya gimana sekarang ekonomi susah tidak seramai tahun sebelumnya,” tutur Halimah lesu sambil memegang tongkatnya.
3. BPS Bali belum dapat memastikan pengaruh Dolar AS menguat terhadap Bali

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menyampaikan pihaknya belum dapat memastikan dampak penguatan Dolar AS terhadap Bali, khususnya dari sisi pariwisata.
Meskipun demikian, BPS Provinsi Bali mencatat pada periode Januari-April 2026 terjadi penurunan jumlah wisman dibandingkan periode bulan yang sama pada 2025. Penurunan jumlah kunjungan wisman ke Bali pada periode tersebut sebesar 1,11 persen.
“Apakah penguatan nilai mata uang mereka berpengaruh, ya kami belum berani jawab karena belum ada penelitian terkait itu. Tapi kalau secara teori pastilah, punya uang lebih banyak ya daya belinya lebih tinggi,” papar Agus di Kantor bPS Provinsi Bali Selasa lalu, 2 Juni 2026.
Apabila melihat dari paspor yang dipegang, wisman dengan paspor negara Australia paling banyak datang ke Bali pada periode Januari-April 2026. Jumlahnya sebanyak 500 ribu lebih orang. Sisanya secara berurutan ada Tiongkok, India, Korea Selatan, dan Inggris.
![[QUIZ] 3 Sifat Triguna, Kamu Mirip Tokoh Ini di Drakor Teach You A Lesson](https://image.idntimes.com/post/20260607/hhrbvyexcaaattt_7db46706-d928-4378-a4a1-24654cab8dda.jpg)




![[QUIZ] Tipe-Tipe Liburan di Bali, Ini Karakter Upin Ipin Mirip Kamu](https://image.idntimes.com/post/20250506/1000008112-a9936ff4ece60dc64a0fc7d3e0c841a5.png)










