Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kemampuan Menabung Konsumen di Indonesia Menurun

Kemampuan Menabung Konsumen di Indonesia Menurun
ilustrasi buku tabungan anak (freepik.com/rawpixel)
Share Article

Badung, IDN Times – Niat dan kemampuan menabung konsumen pada Mei 2025 menurun. Direktur Group Riset LPS, Seto Wardono, menyampaikan bahwa Indeks Menabung Konsumen (IMK) pada Mei 2025 berada di level 79,0. Level ini melemah 4,4 poin dari posisi bulan sebelumnya.

Hal ini sejalan dengan penurunan komponen Indeks Waktu Menabung (IWM) sebesar 1,7 poin pada periode yang sama ke level 92,9 dan Indeks Intensitas Menabung (IIM) yang turun 7,1 poin ke level 65,1.

"Terkait dengan komponen IIM, sebanyak 30,3 persen responden Survei Konsumen dan Perekonomian (SKP) LPS menyatakan tidak pernah menabung," terangnya, pada Senin (2/5/2025).

1. Konsumen menabung dengan nilai yang lebih kecil dari yang direncanakan

ilustrasi menabung (freepik.com/jcomp)
ilustrasi menabung (freepik.com/jcomp)

Direktur Group Riset LPS, Seto Wardono, menyampaikan angka tersebut menurutnya lebih tinggi dari 29,3 persdn responden yang tidak pernah menabung pada April 2025. Terjadi peningkatan pada persentase responden yang menyatakan bahwa nilai yang ditabung lebih kecil dari yang direncanakan. Yaitu dari 49,1 persen responden pada April 2025 menjadi 56,7 persen responden pada Mei 2025.

2. Konsumen tidak tepat menabung, banyak kendala

ilustrasi utang (unsplash.com/rc.xyz NFT gallery)
ilustrasi utang (unsplash.com/rc.xyz NFT gallery)

Selanjutnya mengenai komponen IWM, persentase responden yang menilai bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk menabung tercatat meningkat menjadi 29 persen pada Mei 2025, dari 27,9 persrn pada April 2025.

Sebaliknya, persentase responden yang menyatakan bahwa tiga bulan mendatang merupakan waktu yang tepat untuk menabung tercatat menurun, yaitu menjadi 39,8 persen dari 42,3 persen pada periode yang sama.

“Perkembangan ini mengindikasikan rencana dan intensitas menabung yang cenderung melemah," terangnya.

Menurutnya, hal ini berhubungan dengan pengeluaran rumah tangga yang lebih tinggi untuk pendidikan selama masa penerimaan siswa baru, dan jelang dimulainya tahun ajaran baru. Selain itu, juga terdapat peningkatan jumlah responden yang mengurangi tabungannya untuk membayar cicilan utang.

3. IMK dipengaruhi oleh ragam pendapatan

ilustrasi dompet (pexels.com/Robert Bogdan)
ilustrasi dompet (pexels.com/Robert Bogdan)

Selanjutnya, pergerakan IMK pada seluruh kelompok pendapatan rumah tangga (RT) melemah pada Mei 2025. Penurunan terbesar IMK terlihat pada kelompok RT berpendapatan hingga Rp1,5 juta per bulan (turun 12,5 poin) diikuti RT berpendapatan di atas Rp3 juta—Rp7 juta per bulan, turun 7,2 poin. IMK kelompok RT dengan pendapatan di atas Rp1,5 juta–Rp3 juta, turun 3,0 poin.

"Khusus kelompok RT dengan pendapatan di atas Rp7 juta per bulan, IMK masih berada di atas level 100, meski mengalami sedikit penurunan, turun 1,1 poin," terangnya.

Untuk diketahui bahwa level IMK di atas 100 menunjukkan niat dan kemampuan menabung konsumen yang tinggi. IMK terdiri dari dua komponen penyusun yaitu Indeks Intensitas Menabung (IIM) dan Indeks Waktu Menabung (IWM). IIM menunjukkan penilaian konsumen tentang intensitas dan kemampuan menabung, sedangkan IWM menggambarkan penilaian konsumen terhadap waktu yang tepat untuk menabung atau niat untuk menabung.

Share Article
Topics
Editorial Team
Ayu Afria Ulita Ermalia
Irma Yudistirani
Ayu Afria Ulita Ermalia
EditorAyu Afria Ulita Ermalia

Latest News Bali

See More

KPK Ungkap Dugaan Praktik Korupsi di Kanim Ngurah Rai dan Denpasar

26 Jun 2026, 19:49 WIBNews