Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

FKUB Imbau Takbiran Idulfitri di Bali Tanpa Pengeras Suara dan Petasan

FKUB Imbau Takbiran Idulfitri di Bali Tanpa Pengeras Suara dan Petasan
ilustrasi masjid di bawah langit berawan (pexels.com/David McEachan)

Denpasar, IDN Times - Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali mengimbau pelaksanaan malam Takbiran Idulfitri 1447 Hijriah/Tahun 2026 tanpa pengeras suara dan petasan. Imbauan ini tertulis secara rinci berdasarkan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor: B.30.800.1.6.2/61594/PK/ BKPSDM Tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026 serta diskusi berbagai perwakilan umat beragama di Bali.

Dialog tersebut menghasilkan seruan bersama tentang pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948/Tahun 2026 yang bertepatan dengan Malam Takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah. Seruan dari FKUB Provinsi Bali ini ditetapkan bersama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha; sepengetahuan Gubernur, Bali Wayan Koster; Kepala Kepolisian Daerah Bali, Daniel Adityajaya; dan Komandan Komando Resor Militer 163/Wira Satya, Ida I Dewa Agung Hadisaputra.

Takbiran di Bali tanpa pengeras suara dan petasan

Ilustrasi takbiran keliling. (IDN Times/Yudi Pane)
Ilustrasi takbiran keliling. (IDN Times/Yudi Pane)

Hari Suci Nyepi pada tanggal 19 Maret 2026 bertepatan dengan Malam Takbiran Idulfitri 1447 Hijriah. Adanya perayaan yang bersamaan tersebut, FKUB Bali mengimbau umat Islam di Bali melaksanakan Takbiran di masjid atau musala terdekat dengan berjalan kaki.

Selain itu, pelaksanaan malam takbiran tanpa penggunaan pengeras suara, tanpa menyalakan petasan/mercon atau bunyi-bunyian lainnya. Termasuk menggunakan penerangan secukupnya, mulai pukul 18.00 Wita sampai dengan pukul 21.00 Wita.

Ketua FKUB Provinsi Bali, Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet, mengungkapkan pengamanan dan ketertiban pelaksanaan Takbiran menjadi tanggung jawab masing-masing pengurus masjid atau musala dengan tetap berkoordinasi bersama aparat keamanan setempat. Sinergi prajuru (pengurus) desa adat, pecalang, masjid, linas, dan aparat desa setempat diharapkan bersama-sama menjaga pelaksanaan Nyepi maupun Takbiran.

“Majelis-majelis agama, lembaga sosial keagamaan, serta instansi terkait agar menyosialisasikan Seruan Bersama ini kepada seluruh umat beragama di Bali secara berjenjang dan berkesinambungan,” ungkap Sukahet dalam pernyataannya 28 Februari 2026 lalu.

Umat Hindu tetap melaksanakan rangkaian Nyepi

Foto ilustrasi Nyepi. (pixabay.com/Njaj)
Foto ilustrasi Nyepi. (pixabay.com/Njaj)

Sementara itu, umat Hindu diharapkan melaksanakan seluruh rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 dengan khidmat dan penuh kekhusyukan. Rangkaian pelaksanaan Nyepi terdiri dari Melasti, Pangrupukan, Sipeng (Catur Brata Penyepian), dan Ngembak Geni.

Sukahet menegaskan agar seluruh penyedia jasa transportasi darat, laut, dan udara tidak diperkenankan beroperasi selama pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Larangan operasional ini sejak hari Kamis, 19 Maret 2026 pukul 06.00 Wita hingga hari Jumat, 20 Maret 2026 pukul 06.00 Wita.

Tidak hanya penyedia jasa transportasi, lembaga penyiaran radio maupun televisi tidak diperkenankan melakukan siaran selama pelaksanaan Hari Suci Nyepi. Larangan siaran ini mulai sejak hari Kamis tanggal 19 Maret 2026 pukul 06.00 Wita sampai dengan hari Jumat tanggal 20 Maret 2026 pukul 06.00 Wita.

Pelaku usaha dilarang mempromosikan kegiatan usaha atas Nyepi

ilustrasi nyepi (unsplash.com/Jared Rice)
ilustrasi nyepi (unsplash.com/Jared Rice)

Selain penyiaran, penyedia layanan (provider) jasa telekomunikasi seluler agar menonaktifkan layanan data seluler, dan seluruh penyedia jasa televisi agar tidak mendistribusikan siaran selama pelaksanaan Nyepi. Pelaksanaan waktunya sesuai dengan jadwal larangan siaran.

“Dengan tetap memperhatikan layanan komunikasi darurat,” imbuh Sukahet.

Masyarakat dan wisatawan tidak boleh bepergian maupun keluar rumah. Tidak boleh menyalakan petasan/mercon, pengeras suara, bunyi-bunyian, lampu penerangan berlebihan, maupun aktivitas lain yang dapat mengganggu Hari Suci Nyepi dan ketertiban umum.

Melalui seruan bersama tersebut, Sukahet dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha, mengimbau agar pengelola destinasi wisata tidak mempromosikan kegiatan usaha mengatasnamakan Hari Suci Nyepi.

“Seluruh masyarakat, pelaku usaha, serta wisatawan yang berada di wilayah Provinsi Bali wajib menaati dan melaksanakan aeruan bersama ini dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab,” ujar Sukahet.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More

10 Bahasa Bali yang Berkaitan dengan Puasa dan Idulfitri

02 Mar 2026, 11:34 WIBNews