Petani garam di Kusamba, Kabupaten Klungkung. (IDNTimes/Wayan Antara)
Petani garam Kusamba membuat produknya dari pagi hingga petang. Awalnya petani garam mengambil air laut menggunakan alat dari pangkal pelepah pinang (upih).
Air laut tersebut disiramkan ke pasir, lalu pasir dijemur selama sehari hingga kering. Pasir kering dikumpulkan memakai garuk dan sekop kayu, kemudian dibawa ke gubuk produksi untuk ditimbun dalam sebuah bak.
Bak penampung pasir ini terhubung melalui pipa bambu ke wadah penyaring air yang disebut belong. Pasir dalam bak disiram kembali dengan air laut, dan air hasil saringannya tertampung di belong.
Air garam pekat dari belong selanjutnya dijemur di atas palungan yakni wadah penjemuran. Idealnya terbuat dari batang pohon kelapa agar menghasilkan garam berkualitas baik.
Proses penjemuran tidak boleh melebihi satu hari, sebab jika lebih lama, ampas akan tercampur ke dalam kristal garam sehingga rasanya menjadi pahit.
Proses akhir, garam dipanen oleh pekerja laki-laki maupun perempuan, ditiriskan menggunakan alat bernama kukusan, kemudian dikemas ke dalam kantong plastik.