Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Eksportir Cokelat di Tabanan Tak Lagi Melirik Amerika
Ilustrasi cokelat hitam (Pexels.com/Polina Tankilevitch)

Tabanan, IDN Times - Komoditas cokelat atau kakao menjadi unggulan dari perkebunan di Kabupaten Tabanan, selain kopi. Potensi cokelat terbilang sangat baik. Kenaikan harga biji cokelat saat ini tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Harga biji cokelat kualitas fermentasi menembus di kisaran Rp130.000 hingga Rp150.000 per kilogram.

Satu produk cokelat yang diminati pasar saat ini adalah cokelat olahan. Selain pasar domesik, cokelat olahan ini juga banyak dilirik pasar luar negeri. Pengusaha eksportir cokelat olahan yaitu CEO PT Cau Cokelat, Kadek Surya Prasetya Wiguna, mengatakan pasar Amerika Serikat (AS) saat ini dinilai kurang menarik akibat kebijakan dagang yang dinilai memberatkan pelaku usaha eksportir lokal.

Menurutnya ada tiga negara yang lebih berpotensi untuk ekspor cokelat yaitu Australia, Jepang, dan Singapura.

1. Hentikan sementara ekspor ke Amerika

instagram.com/cauchocolatesbali

Kebijakan tarif impor sebesar 32 persen yang diterapkan AS membuat pangsa pasar ekspor ke negara tersebut tidak lagi menguntungkan. Menurut Surya, dengan beban tarif sebesar itu, harga produk cokelat olahannya menjadi tidak bersaing.

"Otomatis, kami akan hentikan dulu ekspor ke Amerika Serikat dan alihkan ke negara lain,” ujarnya, Rabu (9/4/2025).

Seperti diketahui, Cau Cokelat pada Februari 2024 lalu mengekspor produk olahan cokelat sebanyak satu ton ke empat negara yaitu Amerika, Inggris, Jepang, dan Australia. Produk cokelat yang dikirim ke luar negeri itu berupa bubuk, butter, nibs, dan cokelat blok (batangan).

2. Penyerapan produk cokelat olahan didominasi pasar domestik

instagram.com/cauchocolatesbali

Surya mengatakan, kebijakan Amerika Serikat saat ini tidak terlalu berpengaruh pada penyerapan produk cokelat olahan dari PT Cau Cokelat. Hal ini karena serapan produk cokelat olahan masih didominasi pasar domestik.

"Ekspor cokelat olahan dari perusahaan kami hanya sebesar 5–10 persen dari total produksi. Sebagian besar ditujukan ke pasar domestik di dalam negeri," ujarnya.

Selain itu, negara tujuan ekspor terbesar bukanlah Amerika Serikat, melainkan Australia.

"Permintaan ekspor pun belum rutin. Rencananya yang rutin nanti adalah ke Australia. Permintaan tahun ini sebanyak 13 ton. Jumlah ini bisa kami  penuhi," katanya.

3. Petani didorong melakukan peningkatan produksi cokelat

instagram.com/cauchocolatesbali

Surya mengakui, saat ini permintaan biji cokelat yang menjadi bahan baku produk cokelat olahan masih sangat tinggi.

"Permintaan cokelat olahan di dalam negeri masih sangat tinggi dan turut mendorong stabilnya harga produk. Tren naiknya harga cokelat ini diharapkan semakin mendorong geliat petani cokelat di Bali," katanya.

Potensi keuntungan yang tinggi mencapai Rp150 juta hingga Rp200 juta per hektare per tahun. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi petani cokelat untuk mendorong peningkatan produksi dan kualitas biji cokelat.

"Produksi cokelat dari Bali sangat berkualitas, tapi pasokannya masih jauh dari cukup. Karena itu kami terus mendorong peningkatan produksi lokal dan saat ini petani mulai melakukan peremajaan tanaman cokelat,” kata  Surya.

Editorial Team

Related Article