Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Desa Adat Akah Gelar Upacara Nyenuk Setelah 37 Tahun Tak Dilaksanakan

Kab. Klungkung
3 min read
Desa Adat Akah Gelar Upacara Nyenuk Setelah 37 Tahun Tak Dilaksanakan
Upacara Nyenuk hingga Nuwek Bagia, Sabtu (24/10/2026). Rangakian upacara ini merupakan penutup dari karya atau upacara besar yang digelar terakhir di Desa Akah pada 37 tahun silam. (Dok. IDN Times/Istimewa)
  • Desa Adat Akah di Klungkung menggelar Karya Agung di Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Taman Pucak Sari setelah 37 tahun, usai renovasi pura selesai.

  • Prosesi Nyenuk hingga Nuwek Bagia melibatkan persembahan dan hasil bumi sebagai ungkapan syukur, harapan kesejahteraan, serta keseimbangan hubungan dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.

  • Rangkaian upacara didanai bantuan pemerintah daerah, punia, dan swadaya warga; gotong royong enam banjar menjadi kekuatan utama untuk mempererat kebersamaan warga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Klungkung, IDN Times - Warga Desa Adat Akah, Kabupaten Klungkung, kembali menggelar rangkaian upacara besar yang sudah 37 tahun tidak dilaksanakan.

Setelah puncak Karya Pamungkah Tawur Agung Nabung Pedagingan, Ngenteg Linggih, dan Padudusan Agung digelar pada Senin (19/10), rangkaian karya dilanjutkan dengan Upacara Nyenuk hingga Nuwek Bagia, Sabtu (24/10).

Rangkaian tersebut dipusatkan di tiga pura, yakni Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Taman Pucak Sari. Sejak pagi, krama adat terlihat bergotong royong mempersiapkan berbagai sarana upacara hingga mengikuti prosesi Nyenuk.

Bagi Desa Adat Akah, pelaksanaan karya kali ini menjadi momentum istimewa. Sebab, Karya Agung yang melibatkan tiga pura sekaligus tersebut terakhir kali dilaksanakan pada 1989.

Bendesa Adat Akah, I Ketut Wirta, mengatakan pelaksanaan karya besar ini dilakukan setelah seluruh pura yang ada di desa adat tersebut selesai direnovasi.

“Desa Adat Akah terdiri dari enam banjar dan memiliki empat pura. Setelah seluruh pura selesai direnovasi, tahun ini kami melangsungkan karya suci untuk tiga pura sekaligus,” ujar Ketut Wirta, Minggu (25/10/2026)

  1. 1. Prosesi Nyenuk jadi ungkapan syukur warga

    IMG-20261024-WA0077.jpg
    Upacara Nyenuk hingga Nuwek Bagia, Sabtu (24/10/2026). Rangakian upacara ini merupakan penutup dari karya atau upacara besar yang digelar terakhir di Desa Akah pada 37 tahun silam. (Dok. IDN Times/Istimewa)

    Prosesi Nyenuk menjadi bagian penting dalam rangkaian penutup karya. Dalam upacara tersebut, krama membawa berbagai sarana upakara serta hasil bumi atau pula kerti secara beriringan.

    Menurut Ketut Wirta, prosesi tersebut merupakan bentuk ungkapan syukur atas seluruh rangkaian karya yang telah berjalan hingga tahap akhir. Pula kerti yang dibawa dalam prosesi juga memiliki makna simbolis sebagai ungkapan harapan atas kesejahteraan dan kerahayuan bagi masyarakat.

    Upacara tersebut dipimpin oleh Ida Pedanda Gde Batuaji dari Griya Batuaji, Desa Akah.

    “Upacara ini mencerminkan kesucian, kebersamaan, dan keteguhan sradha bhakti kita kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” katanya.

    Selain Nyenuk, krama juga melaksanakan ritual Mebangun Ayu dan Kebat Daun. Kedua prosesi tersebut menjadi bagian dari rangkaian yang memiliki makna menjaga keseimbangan antara parahyangan (tuhan), pawongan (sesama manusia), dan palemahan (lingkungan).

  2. 2. Berharap keharmonisan tetap terjaga

    IMG-20261024-WA0083.jpg
    Upacara Nyenuk hingga Nuwek Bagia, Sabtu (24/10/2026). Rangakian upacara ini merupakan penutup dari karya atau upacara besar yang digelar terakhir di Desa Akah pada 37 tahun silam. (Dok. IDN Times/Istimewa)

    Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan Penyineb dan Nuwek Bagia Pulakerti. Ritual Nuwek Bagia menjadi simbol penguncian atau penetapan doa dan harapan yang telah dihaturkan selama pelaksanaan karya.

    Krama berharap seluruh rangkaian upacara tidak hanya menjadi bagian dari tradisi keagamaan, tetapi juga semakin mempererat hubungan antarwarga.

    Pelaksanaan Karya Agung tersebut membutuhkan biaya hingga miliaran rupiah. Pendanaan bersumber dari bantuan pemerintah daerah, serta punia (uang sukarela) dan swadaya krama Desa Adat Akah.

  3. 3. Gotong-royong jadi kekuatan dalam pelaksanaan upacara

    IMG-20261024-WA0085.jpg
    Upacara Nyenuk hingga Nuwek Bagia, Sabtu (24/10/2026). Rangakian upacara ini merupakan penutup dari karya atau upacara besar yang digelar terakhir di Desa Akah pada 37 tahun silam. (Dok. IDN Times/Istimewa)

    Ketut Wirta mengatakan besarnya skala karya membuat keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam seluruh proses. Gotong royong warga, menurutnya, menjadi kekuatan utama hingga rangkaian karya dapat terlaksana.

    “Melalui pelaksanaan karya suci ini, kami berharap semangat gotong royong dan menyama braya warga Desa Adat Akah semakin erat sebagai wujud bakti kita kehadapan Ida Sesuhunan (leluhur),” ungkap dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More