Dandhy Laksono Bagikan Rekomendasi Buku dan Makna Solidaritas

Dandhy Laksono menilai pemberedelan, penyensoran, dan represi ekspresi berulang di seluruh rezim Indonesia selama 400 tahun, sehingga masyarakat perlu terus menjaga solidaritas serta kemampuan berekspresi.
Ia menekankan karya berperspektif penting bagi jurnalis; independensi, sikap jelas, data, dan fakta dinilai lebih utama daripada netralitas, popularitas, atau kepentingan tertentu.
Dandhy menggambarkan gerakan saat ini sebagai rizoma yang mengikis perlahan dan membutuhkan kesabaran, konsolidasi, serta gagasan alternatif agar pergantian rezim tidak sekadar mengganti elite.
Gianyar, IDN Times - Jurnalis Investigasi dan Filmmaker, Dandhy Laksono, membagikan rekomendasi buku untuk anak muda saat dijumpai IDN Times setelah mengisi sesi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026, Kamis (22/10/2026).
"Mahal sih. Mahal banget nih buku, tapi ini berisi cerita 400 tahun pemberedelan," kata Dandhy sambil tertawa.
Dandhy turut memboyong buku berjudul Merayakan Ingatan: Bredel bersamanya saat mengisi sesi Defying Silence di Taman Baca Ubud kemarin. Jurnalis, peneliti, hingga seniman senior terlibat dalam penulisan buku ini, di antaranya Didi Kwartanada, Goenawan Mohamad, Ignatius Haryanto, JJ Rizal, dan Oscar Matuloh.
1. Berbagai bentuk pemberedelan terjadi di semua rezim

Jurnalis investigasi dan pembuat film, Dandhy Laksono. (IDN Times/Yuko Utami) Rekaman 400 tahun pemberedelan di Indonesia, kata Dandhy tercatat apik dalam buku ini sejak zaman penjajahan Belanda, Jepang, kemerdekaan era Sukarno, orde baru era Soeharto, reformasi, termasuk masa Pemerintahan Presiden Jokowi dan Prabowo. Setelah membaca buku ini, Dandhy menilai segala bentuk pemberedelan terjadi di semua rezim, hingga saat ini.
"Jadi, pemberedelan, penyensoran, represi terhadap ekspresi itu dilakukan semua rezim bahkan yang kita dukung saat itu. Karena tapi begitu rezim atau kekuatan yang kita dukung jadi kekuasaan, ya kekuasaan selalu mengulang hal yang sama," paparnya.
Dandhy mengatakan segala bentuk pemberedelan ini dapat mengasah daya lenting dan kemampuan berekspresi.
"Teman-teman gak usah frustrasi. Pemberedelan akan ada di sepanjang masa, yang perlu kita lakukan adalah terus mengasah diri untuk ya tetap berekspresi," tegasnya.
Baginya, ekspresi dengan pemberedelan itu ibarat Yin dan Yang. Seperti siang dan malam, hingga baik dan buruk yang menyertai segala proses berekspresi. Maka di sinilah solidaritas dan daya tahan diuji.
2. Karya berperspektif amat krusial

film karya Dandhy Laksono (dok. Watchdoc/Sexy Killers | dok. Watchdoc/Dirty Vote) Menurut Dandhy, berkarya itu penting untuk menumbuhkan perspektif, khususnya bagi jurnalis. Ia menegaskan jurnalis tidak dilatih untuk netral, tapi independen. Ia merasa aneh kalau orang memulai sesuatu tidak dengan sikap.
"Jadi stand dia apa? Nyari cuan doang atau nyari populer doang atau nyari like doang gitu ya," kata dia.
Perspektif harus diikuti dengan sikap. Misalnya, saat memilih tidak setuju terhadap sesuatu, harus punya sikap yang jelas. Dukung juga dengan data dan fakta.
"Itu genuine, itu organik, dia gak dibayar, dia gak ada vested interest tertentu. Jadi, yang tinggi dari jurnalisme adalah independensi. Dia bisa sangat berpihak, tapi yang penting dia independen. Jadi, nilai tertinggi bukan netral," lanjutnya.
3. Gerakan rimpang, pelan dan melatih kesabaran

Ilustrasi poster menyuarakan keresahan atas kebakaran hutan di Kalimantan dan sejumlah wilayah Indonesia. (IDN Times/Yuko Utami) Dandhy juga turut mengomentari kondisi gerakan di Indonesia saat ini. Ia menyebutnya dengan istilah gerakan rimpang atau rizoma. Rizoma adalah gerakan yang perlahan-lahan hidup untuk mengikis akar pohon besar sampai tumbang dan tidak ada pegangan. Namun, gerakan ini butuh waktu lama.
Jika dibandingkan dengan gerakan sebelumnya tahun 1998, ibarat batang pohon besar beradu dengan batang pohon besar. Gerakan massa sangat besar menggulingkan rezim yang sudah lama besar dan mengakar, tapi bukan berarti gerakan tipe ini tanpa kelemahan.
Tipe gerakan ini rentan menghasilkan penindas baru. Ia mencontohkan, reformasi 1998 turut melahirkan banyak pendukung rezim saat ini yang dipimpin Presiden Prabowo.
"Tapi ya gak apa-apa itu sesuatu yang bisa dikoreksi lagi, gak ada yang salah. Nah, yang di rizoma ini juga sama. Dia harus punya kesabaran besar. Kalau gak sabar, bisa frustasi," kata laki-laki bernama lengkap Dandhy Dwi Laksono ini.
Kesabaran yang dia maksud adalah pemahaman bahwa tipe gerakan ini bukan batang mengadu batang, tetapi mengikis perlahan-lahan. Ia mencontohkan mulai banyak yang berbicara dan memuat data survei Prabowo yang terus turun. Itu menurutnya suatu bentuk gerakan perlahan.
Dandhy menjumlahkan 10 tahun melawan Jokowi, dan 2 tahun melawan Prabowo menjadi 12 tahun. Sementara itu, rezim Sukarno selama 15 tahun dan Soeharto 32 tahun.
"Ya, tadi kita masih perlu exercise terus. Lebih baik memang lebih lambat sedikit, tapi hasilnya lebih baik dari 98 daripada kita buru-buru gitu ya, gak sempat konsolidasi. Gagasannya juga belum jelas, kita akan mengganti elite saja," tutur Dandhy.
Pada kondisi pergantian rezim, para elite adalah pihak paling siap, sebab gerakan masyarakat masih belum didukung partai politik alternatif.
"Kalau kita belum siap dengan itu, ya nanti Bahlil yang ngambil alih. Dasco gitu," ujarnya sambil tertawa kecil.



















