Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

20 Negara Mendorong Etika Penggunaan AI Berbasis Kemanusiaan

Kota Denpasar
3 min read
20 Negara Mendorong Etika Penggunaan AI Berbasis Kemanusiaan
Global Ethics Forum (GEF) 2026 melibatkan 200 orang peserta dari 20 negara bicarakan kesejahteraan manusia di tengah era teknologi AI. (IDN Times/Yuko Utami)
  • Global Ethics Forum 2026 di Bali mempertemukan 200 peserta dari 20 negara untuk membahas tata kelola AI yang menjaga etika, moral, dan kemanusiaan.
  • Forum yang digelar Globethics dan YADEMA mengusung pendekatan berpusat pada manusia, terinspirasi Tri Hita Karana dan enam aspek Global Flourishing Study.
  • Peserta menekankan kolaborasi pemerintah, bisnis, akademisi, masyarakat sipil, komunitas agama, dan kaum muda untuk meredam polarisasi, membangun kepercayaan, serta menyeimbangkan teknologi dengan kemanusiaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Denpasar, IDN Times - Kecerdasan buatan (AI) telah menjadi perbincangan hangat hingga saat ini. Pasalnya, AI memudahkan sederet pekerjaan manusia. Namun, kekhawatiran muncul ketika penggunaan AI merusak batas etika, moral, dan kemanusiaan. Global Ethics Forum (GEF) 2026 merespon diskursus ini dalam berbagai topik yang melibatkan 200 orang peserta dari 20 negara.

Tahun ini, GEF berlokasi di  Prama Sanur Beach Hotel, berlangsung sejak tanggal 20-22 Oktober 2026. President Globethics, Dietrich Werner, mengatakan Bali sebagai ruang temu diskursus etika penggunaan AI bertaut dengan adanya filosofi Tri Hita Karana.

Filosofi ini bermakna sebagai tiga penyebab kesejahteraan, relasi antara manusia dengan sesama, manusia dengan lingkungan, hingga manusia dengan Sang Pencipta. 

“Dengan mempertemukan kearifan lokal ini dengan perspektif global, kami berharap GEF 2026 dapat mendorong pendekatan tata kelola yang praktis, yang menempatkan manusia, relasi, dan masa depan bersama kita sebagai pusat pengambilan keputusan,” ujar Dietrich, pada Rabu (21/10/2026).

Forum ini digelar oleh Globethics dan Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA), bekerja sama dengan lebih dari 35 mitra regional dan internasional. Tahun ini mengusung tema Responsible Governance in a Fragmented World: Ethical Pathways to Human Flourishing in Business, Technology and Policy.

Menurut Dicky Sofjan, Wakil Presiden Globethics dan pendiri YADEMA, secara garis besar forum ini sebagai platform membicarakan berbagai isu tentang etika dunia. Basis utama percakapan ini mengacu pada Global Flourishing Study dengan enam domain pokok, yakni happiness (kebahagiaan), health (kesehatan), meaning (makna hidup), character (karakter), relationship (hubungan/relasi), dan financial (keuangan).

“Ini menjadi platform untuk kita membicarakan isu-isu tentang etika dunia. Jadi etika ini yang bisa datang dari berbagai sumber-sumber, berbagai negara,” kata Dicky kepada awak media, Rabu (21/10/2026).

Basis dasar ini menjadi pijakan bagi berbagai kalangan untuk menentukan titik temu antara teknologi AI dengan manusia. Forum ini turut menelaah peran pemerintah, anggota parlemen, organisasi internasional, akademisi, masyarakat sipil, dan komunitas keagamaan dapat bekerja sama mengatasi perpecahan geopolitik dan sosial yang kian melebar. 

Berpijak pada buku putih (white paper) Globethics Changing the Narrative: Preparing for Peace, yang disusun bersama Inter-Parliamentary Union, UN-OHCHR, dan Wilton, diskusi ini menggali bagaimana kerja sama multipihak dapat menantang narasi polarisasi, membangun kembali kepercayaan, serta memajukan perdamaian dan kemakmuran sebagai kebaikan bersama global.

Duta Besar Swiss untuk Timor-Leste dan ASEAN, Konstantin Obolensky, menyampaikan topik yang mempertemukan peran pemerintah, komunitas, peneliti, dan pengusaha begitu krusial. Meskipun titik temu multipihak ini cukup sulit, tapi Ia meyakini solidaritas bersama dapat menjadi kunci untuk keseimbangan kemanusiaan dan kemajuan teknologi.

“Swiss sejak lama meyakini bahwa dialog justru paling penting ketika dialog tampak paling sulit. Di dunia yang terfragmentasi, forum yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, komunitas keagamaan, dan kaum muda di satu meja sangat penting untuk membangun kembali kepercayaan, dan kami senang melihat Indonesia dan Jenewa bergandengan tangan untuk mewujudkannya,” ujar Konstantin.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More