Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Krisis BBM Tabanan Sempat Lumpuhkan Panen Salak, Petani Rugi Rp30 Juta

Kab. Tabanan
2 min read
Krisis BBM Tabanan Sempat Lumpuhkan Panen Salak, Petani Rugi Rp30 Juta
Petani di Tabanan sedang melakukan penyortiran salak gula pasir madu (Dok.IDN Times/Istimewa)
  • Krisis BBM hampir sepekan di Tabanan menghambat operasional petani Salak Gula Pasir Madu, terutama pengangkutan hasil panen dari kebun ke gudang.
  • Kelompok Tani Raja Buah Bali membatalkan tiga pengiriman total 1,2 ton ke Jakarta dan Bandara Ngurah Rai, memicu kerugian sekitar Rp30 juta tanpa penalti pembeli.
  • Sejak 19 Oktober 2026, ketersediaan BBM dan pengiriman kembali normal; permintaan salak saat ini mencapai 4.800–5.600 kilogram per bulan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tabanan, IDN Times - Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Kabupaten Tabanan selama hampir sepekan berimbas kepada penyaluran Salak Gula Pasir Madu. Petani tidak mampu memenuhi permintaan rutin mingguan karena tidak ada BBM untuk operasional. Akibatnya, petani mengalami kerugian puluhan juta.

Petani sekaligus Ketua Kelompok Tani Raja Buah Bali, Ogi Darmawan, bercerita akibat kesulitan mendapatkan BBM, pihaknya tidak bisa memetik salak di kebun.

"Sulitnya BBM menyebabkan transportasi untuk membawa hasil panen dari kebun ke gudang mengalami kendala. Sehingga terpaksa kami cancel permintaannya," ujar Ogi, Kamis (22/10/2026).

  1. 1. Petani membatalkan pesanan 1,2 ton salak yang belum dipetik

    IMG_20261022_163854.jpg
    Petani di Tabanan sedang melakukan penyortiran salak gula pasir madu (Dok.IDN Times/Istimewa)

    Ogi mengatakan, saat krisis BBM terjadi, pihaknya terpaksa membatalkan permintaan dari tiga pengiriman. Yaitu dua pengiriman ke Jakarta, dan satu pengiriman ke Bandara Ngurah Rai.

    "Kami memiliki pesanan salak yang terjadwal rutin setiap satu kali seminggu. Total jumlah dari tiga pengiriman yang dibatalkan ini sebesar 1.200 kilogram atau 1,2 ton," ujar Ogi.

    Petani merugi sekitar Rp30 juta atas pembatalan pengiriman 1,2 ton salak yang belum dipetik. Meski batal, namun salaknya tidak rusak. Pihak pembeli justru memaklumi kondisi tersebut dan tidak memberikan penalti.

    "Karena petani semuanya tidak ada bensin, maka panen terpaksa tidak bisa dilaksanakan saat itu," lanjutnya.

  2. 2. Total kerugian petani mencapai Rp30 juta

    IMG-20250703-WA0016.jpg
    Salak gula pasir madu (Dok.IDN Times/Istimewa)

    Saat ini belum panen raya, jadi harga jual Salak Gula Pasir Madu di petani mencapai Rp25 ribu per kilogram. Ketersediaan BBM di Tabanan saat ini berangsur normal, sehingga pengiriman rutin ikut kembali normal.

    "Per 19 oktober 2026 sudah kami lakukan panen kembali dan pengiriman sudah kembali normal," kata Ogi.

  3. 3. Penyerapan Salak Gula Pasir Madu mencapai 5.600 kg per bulan

    IMG-20250801-WA0025.jpg
    Salak gula pasir madu di Tabanan (Dok.IDNTimes/istimewa)

    Permintaan Salak Gula Pasir Madu rata-rata 4.800 sampai 5.600 kg per bulan karena belum memasuki musim panen raya. Musim panen raya diperkirakan terjadi pada Januari-Maret 2027 mendatang.

    "Tetapi bisa lebih lambat, mengingat musim kemarau panjang saat ini," ujar Ogi.

    Apabila memasuki panen raya, ketersediaan buah ini lebih banyak dari sebelumnya. Permintaan bisa ditingkatkan menjadi dua kali seminggu, bisa memenuhi permintaan pasar lokal dan pasar induk.

    "Harga tentu menjadi lebih murah dari harga sekarang. Karena volume buahnya meningkat," katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More