Comscore Tracker

AWK TikTok Goyang Kepanasan, Sosiolog: Gak Ada Cara yang Lebih Elegan?

AWK sebut agar lebih dekat dengan Millennials

Denpasar, IDN Times – Publik sedang dipertontonkan dengan video bertagar kepanasan challenge dari seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia Dapil Bali, Arya Wedakarna (AWK). Video tersebut diunggah di akun TikTok @aryawedakarnasuyasa.

Video yang diposting pada Senin (3/5/2021) ini ramai dikomentari karena aksinya yang dianggap kurang pantas, sementara yang bersangkutan merupakan seorang anggota dewan. Berikut penjelasan AWK terkait video yang diunggahnya. 

1. Video tersebut dilengkapi hashtag kepanasan challenge

AWK TikTok Goyang Kepanasan, Sosiolog: Gak Ada Cara yang Lebih Elegan?AWK Tiktok Goyang Kepanasan. (Tangkapan layar Tiktok)

Dalam video tersebut tampak AWK sedang tidak mengenakan baju dan bergaya seolah sedang kepanasan. Yang bersangkutan memegang leher dan sempat menjulurkan lidahnya diiringi lagu Goyang Kepanasan-Kagakkenceng.

Postingan tersebut diberi tanda #panas, #fyp, #foryou #foryoupage #viral #tiktok #wedakarnatiktok #kepanasanchallenge.

Postingan tersebut mendapatkan beberapa komentar, di antaranya:

  • Xoxossj18

“Duh ajiik.”

  • Nyomanputra Yasa

“Keselek jik wkwkw.”

  • Widi Petruk

“Sire ngerauhin jik.” (siapa yang ngedatengin jik?)

2. AWK sebut sebagai pejabat sekali-kali harus santai dan bisa beradaptasi dengan millennials

AWK TikTok Goyang Kepanasan, Sosiolog: Gak Ada Cara yang Lebih Elegan?Screenshot video AWK yang menyinggung Pura Dalem Ped Nusa Penida(Dok.IDN Times/aryawedakarna)

Dikonfirmasi pada Senin (3/5/2021), AWK mengaku bahwa aplikasi TikTok yang dibuatnya tersebut atas permintaan anak-anak muda atau generasi millennials. Sebagai pejabat, ia merasa sekali-kali perlu bersantai dan beradaptasi dengan millennials. Menurutnya, akun TikTok tersebut dikelola oleh admin dan seluruh kontennya dimaksudkan untuk mendekatkan dirinya selaku wakil rakyat dengan anak-anak muda kreatif.

“Biasa saja nike (itu). Kebetulan kan banyak pendukung AWK dari generasi millennial. Dan semua minta AWK buat aplikasi TikTok. Dan setelah dipertimbangkan, akhirnya tim anak-anak muda AWK membuatkan aplikasi TikTok. Ya mendukung aspirasi anak muda. Sebagai pejabat, ya sekali-kali harus santai dan bisa beradaptasi dengan millennial,” ungkapnya.

3. AWK mengaku ingin mengisi kekosongan anak-anak muda yang kini gandrung TikTok

AWK TikTok Goyang Kepanasan, Sosiolog: Gak Ada Cara yang Lebih Elegan?Dok.IDN Times/istimewa

AWK juga mengaku tidak ada kepentingan apapun dalam kontennya tersebut. Semua ia anggap biasa saja. Ia menilai selama ini persepsi anak muda tentang wakil rakyat itu masih kaku, tegang, dan serius. Kontennya itu dianggap masih dalam batas kewajaran.

“Dibawa baik saja, selama semua dalam proses kewajaran. Saya perhatikan juga dicapture yang dibuat mereka semua konteksnya dalam konteks fun. Saya mengisi kekosongan anak-anak muda yang kini gandrung TikTok dan lainnya. Kalau diperhatikan dalam medsos AWK, 99 persen isinya kerja. Bolehlah 1 persen mengisi kekosongan itu. Buktinya laporan admin followers kian bertambah sejak ada TikTok yang baru ini,” jelasnya.

Saat ditanya bagaimana apabila masyarakat melihat video tersebut sebagai sesuatu yang justru mengarah ke pornografi? AWK menjawabnya bahwa setiap pemimpin punya caranya sendiri. Menurutnya video-video berkonten edukatif juga sudah banyak ada di channel Bali Berdaulat. 

4. Sosiolog pertanyakan pesan apakah yang ingin disampaikan oleh AWK

AWK TikTok Goyang Kepanasan, Sosiolog: Gak Ada Cara yang Lebih Elegan?Ilustrasi TikTok. IDN Times/Arief Rahmat

Sosiolog Universitas Udayana sekaligus Direktur Sanglah Institute, Gede Kamajaya, mempertanyakan, pesan apakah yang kira-kira ingin disampaikan oleh AWK kepada millennials melalui unggahannya yang diberi hashtag kepanasan challenge tersebut? Ia menganggap konten tersebut justru tidak memberikan pesan sama sekali, apalagi menurutnya cara yang digunakan tidak elegan.

“Sederhana saja, apa nggak ada cara yang lebih elegan, edukatif, partisipatif, dan kritis untuk mendekatkan diri pada generasi millennials? Platform apa saja yang digunakan sepanjang spirit yang disampaikan tidak bernilai, ya itu cara-cara yang tidak bermutu,” jelasnya.

Topic:

  • Ayu Afria Ulita Ermalia
  • Ni Ketut Sudiani

Berita Terkini Lainnya